Sunday, December 24, 2017

Hero Zaman Now : Manusia Yang Memanusiakan Manusia

Bismillah...


Apa arti pahlawan menurut mu? Transformer, Super Man, Robo Car Poli atau Ksatria Baja Hitam? Duh, drama deh. Yang terakhir sepertinya pahlawan versi zaman old banget ya. 😂

Pahlawan menurutku adalah ia yang dengan sembunyi-sembunyi menafkahkan hidupnya untuk rasa bernama kemanusiaan. Jiwanya selalu terpanggil ketika melihat kesusahan. Orang-orang tersebut biasanya melakukan karena tulus. Tidak ada unsur mengharapkan balas budi ataupun pamrih. 

Berbicara tentang kepahlawanan, saya jadi teringat kisah tentang seseorang yang berkiprah di balik layar. Bukan cerita fiktif, melainkan nyata adanya.



Tersebutlah namanya Hasan (bukan nama sebenarnya), berprinsip pada hadist nabi : Sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ia menjalankan peran dan berusaha menjadi manusia terbaik. Dalam lapang maupun sempit, ia sedekahkan hartanya bagi siapa saja yang membutuhkan. 

Bahkan pernah suatu ketika usahanya sedang failid, ia hanya memiliki uang senilai 5ribu rupiah, tidak ada makanan dirumah, namun ketika melihat seorang kakek berpakaian kumuh masih termenung di pinggir jalan seolah sedang meratapi nasib. Tahukah apa yang Hasan lakukan? Ia memberikan hartanya yang tinggal tersisa 5ribu perak itu pada sang kakek. Alangkah bahagiannya si kakek seolah menemukan harta karun yang dicarinya seharian itu. Lalu Hasan? Ikut tersenyum menelan ludah sembari menahan perut yang keroncongan.

Mungkin untuk sebagian orang, Hasan ibarat lilin yang mampu menerangi orang lain namun dirinya sendiri meleleh terbakar cahaya. Namun bagi Hasan memberi tidak berarti berkorban melainkan yang ia dapat adalah kebahagiaan. Bahagia melihat orang lain bahagia. Dan prinsipnya yang lain adalah Allah yang akan menjamin setiap rezeki kita. Ia tak pernah khawatir, meski uang yang selalu dianggap sebagai rezeki itu tak ada pada genggaman.

Dan pendapat orang-orang tentang pribahasa lilin tersebut, ia patahkan. Betul-betul salah konteks jika pribahasa itu dialamatkan pada seorang hamba yang ingin bersedekah. Bagaimana mungkin sedekah dapat membakar diri sementara janji-Nya jelas tentang ayat-ayat sedekah. Ya, karena kaca mata manusia relatif sekali kebenarannya.

Terjun Berwirausaha Untuk Umat


Setelah dunianya bergerak naik, ia diberikan amanah sebagai penanggung jawab Laboratorium sebuah Universitas Negeri terkemuka di Indonesia. Merangkap sebagai maintenance plus service hardware-software komputer yang ada disana. Gajinya di atas UMR plus-plus. Lebih dari cukup untuk menghidupi anak dan istrinya.

Namun, Hasan yang berjiwa wirausaha, memutuskan untuk resign dari kantor BUMN dengan gaji yang terbilang besar itu. Banting stir dari dunia kantoran menuju usaha. Slogan yang sering ia katakan pada setiap orang terdekatnya bahwa ia yakin dengan keputusannya yaitu :

Bekerja itu ibarat kita menimba air terus menerus, hasilnya akan langsung terlihat. Sedangkan usaha ibarat kita sedang membangun pipa-pipanya, lama, melelahkan dan tidak ada hasil di awal. Namun ketika pipa tersebut terpasang, air itu akan mengalir dengan sendirinya.

Apa yang ia lakukan tentu saja tidak lepas dari kebermanfaatan untuk keluarga dan umat. Saya sendiri kagum dengan usahanya yang tak kenal lelah. Bahkan almarhum Bapak pernah berkata : “Si Hasan itu kayak kuda ya, sepertinya ga ada udelnya, ga ada capeknya.” Tentu saja itu hanya lelucon untuk menggambarkan Hasan sehari-hari. Pekerja keras, pekerja cerdas untuk dunia akhirat. Mimpinya untuk membangun Rumah Qur’an masih berada dibenaknya. Itulah alasan dengan kerja kerasnya.

Saking baiknya, Ia bahkan sering sekali dimanfaatkan oleh teman, saudara bahkan orang yang baru ia kenal. Contoh ketika orang memerlukan bantuan, dengan segera ia langsung memberikan solusi. Rata-rata yang meminta bantuan tak lepas dari pinjam uang dan berakhir dengan mengikhlaskan (karena ketika ditagih, susah sekali untuk dimintai komitmen awal untuk membayar). Berbeda ketika ia memerlukan bantuan orang, tidak pernah sekalipun ia meminjam atau bahkan bersegera meminta bantuan jika bukan darurat. Ia yakin sekali dengan : Jadikan sabar dan sholat sebagai penolong

Orang-orang terdekatnya sering menasehati bahwa bersedekah ataupun menolong orang boleh asalkan tidak menjadi bodoh karena terlalu baik. Bukankah sesuatu yang “terlalu” itu tidak bagus? Dari sana ia mulai sadar, mana yang benar-benar jujur butuh pertolongan mana yang hanya ingin menipu dengan memanfaatkan saja.

Satu lagi yang membuat saya takjub adalah sehebat apapun orang memukulnya dengan tipuan, di hatinya tidak pernah tertanam benci. Sudah sakit ya sudah, jadikan pembelajaran, selanjutnya? Woles seperti sedia kala dengan catatan (tidak bermuamalah lagi dengan orang tersebut), karena menurutnya Manusia tidak terlepas dari khilaf dan dosa. Bahkan menyapa orang tersebut duluan sementara awalnya orang tersebut melengos seperti tidak kenal. Memaafkan adalah caranya untuk melatih ego agar selalu berbaik sangka.

Membangun Rumah Untuk Masyarakat Menengah ke Bawah

Tim Marketing Berfose di Depan Perumahan
Contoh Rumah Subsidi Yang Hasan Bangun

Sejatinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Ia nya menjadikan hadist tersebut sebagai keyakinan dan landasan. Tidak ada keraguan padanya. Merintis usaha developer yang goals-nya adalah masyarakat menengah ke bawah dapat memiliki rumah yang layak.

Ia pun mulai membuat rumah subsidi. Dengan luas tanah 90 dan luas bangunan 36 per rumah, rumahnya bagus, jendela 2 kamar dan ruang tamu bahkan batas temboknya saja dua. Banyak yang protes : “Ini sih bukan rumah subsidi tapi rumah non subsidi harusnya. Mana ada orang bangun rumah subsidi sebagus ini.” Apa jawabannya? Yang penting berkah, targetnya kan untuk menengah ke bawah. Apa salahnya membahagiakan mereka dengan kelayakan fasilitas.

Kami yang menyaksikan tersebut bagai manusia kerdil yang masih saja orientasinya dunia. Akidah kami masih cetek sekali tentang muamalah yang tujuannya akhirat. Masih mempusingkan untung-rugi keduniaan. Padahal keberkahan itulah yang harusnya menjadi prioritas utama. Mendengar jawabannya saya sendiri bagai terlempar pada lorong gelap nan sunyi.

Menyantuni Anak Yatim & Fakir Miskin

Hasan bersama Para Ustadz dan Anak-anak Yatim

 Aku dan kamu seumpama 2 jari ini, kata Rasul. 

Hadist tersebut dikhususkan bagi mereka yang mengasihi dan menyantuni anak yatim. Mungkin sebagaian dari kita yang memiliki harta berlebih, biasa saja memberikan harta untuk diinfakkan pada anak yatim ataupun fakir miskin. Namun adakah rasa bernama peduli itu terpupuk benar-benar di hati? Sehingga timbul peduli itu bukan karena sekedar menggugurkan kewajiban melainkan rasa empati yang hasilnya adalah saling mengasihi.

Mendidik, memperhatikan mereka bahkan selalu ingat mereka ketika kita makan enak lalu membawanya buah tangan apa yang kita makan untuk mereka. Ya, itulah yang dilakukan Hasan untuk menyantuni anak yatim. Mempersembahkan spesial bukan hanya sekedar.

Ada sebuah yayasan isinya adalah anak-anak yatim yang dididik untuk mempelajari Al-Qur’an. Bahkan ada dari mereka yang hafidz dan hafidzah. Karena keterbatasan dana, para ustadz sering kali tidak digaji. Mengetahui hal tersebut Hasan terenyuh dan menyumbangkan harta hasil usaha yang baru dirintisnya itu. Setiap bulan pasti ada pengeluaran khusus untuk yayasan dan anak-anak. Menyekolahkan anak-anak yatim yang putus sekolah adalah hal biasa bagi Hasan. Karena menurutnya pendidikan adalah salah satu cara untuk bermetamorfosis. 

Memperhatikan kebutuhan mereka, mengabulkan keinginannya dan mendengarkan curahan hati mereka yang kerap kali dilakukan Hasan. Dengan itulah, anak-anak respek terhadapnya. Ia bagaikan oase di tengah tandusnya harapan. Kerinduan anak-anak terhadap orangtua mereka yang telah tiada setidaknya terminimalisir.

Dalam beramal Hasan tidak pernah mengumumkan hal ini pada siapa pun. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang mengetahui, itu pun hanya beberapa.

Jembatan Keadilan


Berada di tengah-tengah masyarakat yang masih awam akan hukum membuatnya menjadi jembatan untuk solusi keadilan. Jadi, suatu hari ada yang mengakui tanah masyarakat yang sudah dibangun rumah-rumah tersebut.  Jelas masyarakat, sekitar 4 RT merasa geram karena rumahnya akan digusur. Mengetahui hal tersebut, Ia datang membawa solusi.

Karena ia tahu bagaimana caranya untuk melacak kebenaran kepemilikan tanah masyarakat tersebut. Berangsur alot karena pihak yang ngaku-ngaku tersebut sudah melakukan ancaman. Bahkan hampir saja perang antar masyarakat dan pihak pengaku. Walaupun diri dan keluarga menjadi ancaman, ia tak kenal lelah untuk menyelesaikan masalah ini.

Dari mulai BPN untuk pengecekan sertifikat ia datangi. Bahkan ia bawa urusan tersebut ke notaris. Dan setelah proses yang memakan waktu, akhirnya dinyatakan bahwa memang tanah tersebut milik masyarat yang kepemilikannya atas nama Bapak Fulan.

Mendapati kabar tersebut, jelas masyarakat riang, merasa lega dan sangat berterimakasih. Lihat, bukan hanya uang yang dapat menjadi solusi, ilmu pun bisa kita kontribusikan untuk sesama.

Manusia Yang Memanusiakan Manusia

pixabay.com

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri secara langsung, bahwa masih ada Hero Zaman Now, saya jadi ingin bersenandung...

Oh indahnya saling berbagi, saling memberi karena Allah...

Kalau lah zakat diberlakukan di Indonesia, saya yakin tidak akan ada kemiskinan karena semuanya telah diatur jelas, adil dan lugas zakat dapat memberdayakan umat. PR besar bagi pemerintah untuk mengambil langkah atau paling tidak mencontoh model Zakat yang diterapkan Islam.

Cita-cita besar Hasan telah tertuang dan terwakili oleh Dompet Dhuafa. Menjadikan Mustahik menjadi Muzzaki. Seperti membangun kawasan Zona Madina yang terdiri dari Sekolah Smart Ekselensia, Rumah Sehat Terpadu, Wisata Djampang, Rumah Produksi Tahu dan lain sebagainya. Yang semua itu peruntukannya untuk masyarakat kurang mampu.

For Your Information : Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba milik masyarakat indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). -dompetdhuafa.org

 
Empowering people dalam hal ini. Dan dalam skala kecil Hasan telah meraihnya. Yaitu dengan membuka lapangan pekerjaan untuk para tukang yang menafkahi anak-istri, 3 karyawannya yang masing-masing memiliki tanggungan Ibu-Bapak serta saudara atau tim marketing yang ikut serta mempromosikan dapat menambah pendapatan mereka.

Dalam memberikan gaji, ia selalu berlandasan : Berilakanlah gaji pada karyawan sebelum keringatnya mengering. Itu artinya ia selalu prioritaskan untuk terlebih dahulu hak tukang dan karyawannya. Karena menurutnya, anak-istri-ibu-bapak-saudara dari para karyawannya pasti menanti untuk dinafkahi. Ah, membayangkannya saja saya terharu.

Meskipun tidak ada kewajiban atau kesepakatan sebelumnya bahwa setiap karyawan ataupun tukang diberi makan. Ia melakukannya. Kehadiarannya membawa kebahagiaan. Nasi bungkus, cemilan, gorengan selalu ia tenteng untuk mereka. Wajah yang tadinya lelah, dibawakan makanan seketika menjadi wajah ceria dihiasi senyuman. Hal sepele bukan? Namun sulit bagi mereka yang tidak memiliki jiwa pahlawan.

Hidup ini simbiosis mutualisme bukan? Ketika kita berbuat baik maka kebaikan dengan sendirinya kebaikan akan membalas. Terbukti pada karyawan yang loyal, masyarakat sekitar yang respect serta menaruh hormat.

Pun, Ia selalu berada di garda terdepan ketika orang-orang disekelilingnya mengalami darurat seperti kematian, pernikahan atau kelahiran. Dengan cara membantunya semaksimal yang ia bisa.

Dalam merintis usaha, sering kali ia tersandung batu cobaan. Ada kondisi up and down. Yang ketika saya tanya : Tujuan Bapak dalam berusaha ini apa ya sehingga bisa sekuat ini melanjutkan usaha meskipun begitu berat ujiannya? Jawabannya membuat saya merinding, Ia ingin perusahaan-perusahaan, Bank-bank raksasa milik asing jatuh ke tangan orang muslim. Agar Orang Muslim yang mayoritas di Indonesia mengembalikan “usaha” sebagaimana fitrahnya. Yaitu akad yang bersih serta peran zakat dalam pemberdayaan umat. Umat Muslim sebagai pengendali bukan sebaliknya. Makmur, tidak dijajah pemikirannya oleh Ghazwul Fikri.

Itulah Pahlawan Zaman Now versi saya. Pahlawan dalam diam, yang dalam diamnya terdapat dzikir serta pikir untuk kepentingan umat. Yang dalam geraknya menyebar kebermanfaatan bagi sesama. Dari sini Hasan memberikan banyak sekali pelajaran bahwa Tak perlu banyak bicara dalam melakukan sesuatu untuk kemanusiaan, cukup action mulai dari lingkungan sekitar untuk berbagi dan menginspirasi. Karena sejatinya kebaikan itu menular. Maka, mari ber-fastabiqul khairat!





Barangkali masih banyak Hasan-Hasan lain di sekelilingmu yang bisa kamu ceritakan untuk inpirasi kebaikan.  Yuk, ceritakan dengan tulisan! Dan jangan lupa untuk ikut berdonasi di Dompet Dhuafa. Karena DD adalah wadah sebagai jawaban cita-cita luhur bangsa.



3 comments:

  1. Score! Kalau aku jurinya udah pasti masuk hitungan pemenang deh artikel ini ���� btw nama Kakekku Hasan juga Mbak, dan kurang lebih sama dengan Pak Hasan, beliau seorang wirausahawan yg berhasil, and I'm very proud of him :) Nice artikel mbak Shinee, semoga menang ya, Aamiin ��

    ReplyDelete
  2. Mba Shine, luar biasa ya apa yang sudah dilakukan Hasan. Semoga berbalas pahala

    ReplyDelete
  3. Subhanallah ya apa yg telah dilakukan Hasan. Tak mudah tp dengan ketulusannya dan keyakinannya pada Allah sbg penolong, semuanya jd mudah dan mungkin

    ReplyDelete