@copy right : Shine Fikri. Powered by Blogger.

Ketahanan Pangan Saat Covid-19 Melanda


Ketahanan Pangan

Mengandalkan pemerintah bukanlah solusi konkrit untuk saat ini. Respon yang lambat tentu berdampak pada ketahanan pangan masyarakat di masa karantina #dirumahaja ini.

Ratusan pegawai di PHK.
Karyawan WFH, iya yg perusahaannya skala besar, kalau yg masih berkembang? Entah seperti apa nasibnya.
Abang gojek yg sepi orderan.
Bahkan abang2 yg biasanya berjualan sepi pembeli.

Hal ini mengakibatkan rentan akan tindakan kriminilitas. Sudah banyak kejadian di sekitar rumah yg kecurian motor bahkan teman blogger sempat bercerita kalau temannya ada yg kecolongan nasi sebakul dan ajaibnya lauknya masih tersisa. Apalagi baru-baru ini, para napi banyak yg dibebaskan selama masa karantina covid-19 ini. What the? Apa ga nambah2 masalah ya? 

Rimpang
Lengkoas

Sudah jatuh tertimpa tangga tertimpa pohon tumbang pula. Kebayang? Yg terjadi Masyarakat bukan malah tenang selama masa karantina, justru khawatir, was2.

Maka untuk waktu2 ini, dibutuhkan empati yg luar biasa dari si Mampu. Berbagi apapun yg dipunya. Besar kecil, sedikit ataupun banyak, bukan lagi jadi soal, terutama untuk ketahanan pangan seperti sembako. Sudah tidak ada waktu lagi memikirkan pendapat orang. Sudah tidak ada waktu lagi saling menyalahkan. Mari segera beraksi untuk memanusiakan manusia.

Contohnya banyak :
Memberi sembako. Beras, telur, minyak, terigu, kecap, kurma, dll.
Atau mari mulai menanam yang hasilnya Kita bagikan untuk para tetangga yg membutuhkan.

"Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang) mengetahui.” (Hadist).

Di atas merupakan salah satu adab bertetangga.

Lalu sampai titik ini, ada penyesalan yang saya rasakan. Kenapa dulu ketika Suami mengajak Saya untuk budi daya lele, Saya menolak dengan alasan pasti repot ngasih makannya. Belum nguras airnya dll-nya. Kan anak saya banyak, pasti keteteran kalau sampai saya ternak lele.

Suami beberapa kali membujuk, sebanyak itu pula saya bertanya. Kenapa sih bi? Ngeyel banget pengen ternak lele? 

Perhatikan jawabannya :

"Untuk ketahanan pangan Ay. Kita ga tahu apa yg akan terjadi ke depan. Kalau pun ada apa2, seenggaknya Kita cukup dengan makanan yg ada dirumah, dari hasil ternak dan tanaman."

Dan lagi-lagi Saya tepis:
"Hadeuh bi bi, kebanyakan nonton perang2an ni."

"Eeh bener, ga percaya."

Dan inilah akhirnya, ternyata dalam hal ini Saya yg ngeyel dan malas. Ujungnya penyesalan seperti sekarang ini. Coba kalau waktu itu Saya nurut aja kata suami, Saya sudah bisa berbagi banyak untuk tetangga, apalagi yg membutuhkan.

Mau makan lele? Nyoh nyoooh tinggal ambil. 

Tapi berandai juga tidak dibenarkan, sekarang bagi saya ini benar2 dijadikan pelajaran berharga, menanam, merawat dan semisalnya tidak akan pernah merugi karena disana ada sedekah. Sedekah kita terhadap tumbuhan, menyiraminya, memupuknya hingga ia tumbuh dan berbuah. Begitupun ternak, memberi makannya adalah bagian sedekah juga. Yang hasil akhirnya bisa dijadikan sedekah untuk sesama.

Mari Menanam

So gaeees, sekarang yuk #dirumahaja dengan tanam2. Karena Kita ga tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. Bibitnya bisa banget lho dibeli online. Ini Aku rencananya mau nanem bayem dan kangkung. Bismillah semoga terawat dan tumbuh.

Tsssttt, semangkaku berbuah lagi lho 2 biji, masih kecil sih tapi Aku senaaang.

Begitupun dengan pisang lampung, selama karantina ini, sudah 2 pohon yg bermanfaat banget buahnya. Plus pisang susu yg besar2 dan maknyus itu lho. Cabe udah sering banget dipetik, sereh melimpah, masya Allah dah. Singkong apalagi, selama karantina sudah begitu bermanfaat untuk ketahanan pangan keluarga dan tetangga kami. Udah dijadikan combro misro, dikolek, diurab, daunnya buat lalapan, di singkong thailand-in, macem2lah. Tapi sayang yg terakhir ini buahnya banyak dimakan tikus, begitu dicabut eh kosong singkongnya, kecolongan kita, hihi...


Singkong Thailand
Singkong Thailand, nyamnyam

Bismillah ya Gaeees, semoga kita #dirumahaja dengan tidak melupakan tetangga dan warga sekitar yg membutuhkan.

Yuk, mulai sekarang ciptakan ketahanan pangan dirumah masing2. Kalau ga ada tanah kumaha? Bisa banget dengan metode hidroponik atau di pot2 atau poly bag dulu gaeees. Jangan pernah berhenti atau mentok ya gaes dengan hal-hal positif.

Poly Bag

"Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Imam Ahmad)

The last, terus lakukan yg terbaik yg bisa Kita lakukan dan semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu... Marhaban ya Ramadhan, semoga Engkau datang membawa kabar gembira bagi semesta alam tanpa terkecuali...

Ikhtiar Dalam Perlindungan Masa Depannya


Melihat anak tumbuh berkembang dengan aktif adalah kebahagiaan tersendiri sebagai seorang Ibu. Anak yang aktif sudah dapat dipastikan Ia tumbuh sehat sesuai usianya. Memiliki 3 Anak membuat hari Saya dipenuhi dengan optimis ke depan. Tanpa ragu untuk melangkah dan selalu berpikir positif. Karena merekalah Saya merasa keberadaan Saya sangat berharga dan dibutuhkan.

Tangan-tangan mungil yang senantiasa merangkul Saya, memijat Saya ketika sedang selonjoran dan menciumi Saya tanpa rasa bosan.

“Sayaaang Umiii...”

Dan ketika sesekali Saya pergi untuk pekerjaan, Mereka tak henti menelponi Saya.

“Umi dimana?”

“Hati-hati ya...”

“Umi segera pulang, Dede kangen.”

Padahal pekerjaan Saya hanya beberapa jam saja..