@copy right : Shine Fikri. Powered by Blogger.

Bersiap Menyambut Vaksin Coronavirus

Bismillah...


Hai temans, apa kabar? Gimana dirumah aja nya masih betah kah? Lama-lama bosan juga ya jika hal tersebut dilakukan monoton. Meskipun selama pandemi saya tidak kemana-mana, sekitaran rumah saja. Betul, mencari udara segar sepertinya keharusan ya. Dimana penat berubah lapang, dimana sedih berubah bahagia. Angin-anginan itu memang mood booster banget, terutama bagi saya.

Selain bosan karena harus dirumah saja dan melakukan protokol kesehatan, rasanya tidak bebas ya berjalan kemanapun selalu ada was-was. Meskipun pada akhirnya terbiasa dengan hal itu, hampir setahun lho kita dalam masa pagebluk seperti ini. Semoga Allah segera angkat ya pandemi kali ini. Karena tidak bisa dipungkiri, kesyukuran itu akan sangat terasa ketika 1 saja nikmat dicabut. Kebebasan itu nikmat luar biasa ya temans. Itu padahal posisi kita yang rakyat biasa, bayangkan para perawat dan dokter yang berpeluh setiap hari menangani COVID-19 ini, alangkah penatnya. Mereka sebenarnya paling pantas untuk mengeluh, tapi para pejuang itu ternyata, masya Allah ya tulusnya bahkan mampu mengorbankan kepentingan dirinya sendiri dan keluarga.

Ditengah keputus asaan, pasti ada setitik cahaya yang berpotensi untuk membangkitkan semangat kita. Harapan itu pasti ada. Terbukti dengan hadirnya Vaksin yang sebentar lagi akan datang ke Indonesia. Bagaimana? Kalian siap menyambutnya? Terlepas dari konspirasi atau tidaknya, sudah selayaknya ketika kita dihadapkan pada kondisi pandemi, melakukan vaksin adalah ikhtiar yang paling pertama dilakukan. Lalu untuk sementara apa saja ya yang harus kita lakukan? Mengingat per Januari ada rencana Sekolah-sekolah akan mulai dibuka.
Lakukan protokol kesehatan seperti memakai masker jika keluar rumah. Social distancing dengan yang bukan orang rumah, rajin cuci tangan dan jaga jarak aman.

Menahan Rindu



 Bismillah...

Ia tertatih, terhuyung menujuku dengan air mata bercucuran.

"Kenapa lagi Sahabat? Tenangkan dirimu..."

"Baru aku sadar bahwa bukan anak yang mampu membuatku bertahan. Namun perasaan ini yang begitu kuat kepadanya. Sehingga aku selalu cemburu namun merasakan kerinduan yang amat hebat." Bahunya tergoncang, Ia menangis sesenggukan.

"Hmmm..." Aku menarik nafas. Klise memang ya jika sudah soal perasaan.

Cermin Tak Pernah Berdusta

Cermin yang biasa kupandangi

di setiap hari...

Sekali lagi membiaskan bayangan diri...

wajah ini, mata ini

tempat segala dosa bermula

kan indahkah akhir sgala cita


apakah diriku ini

kan bercahaya bersinar di surga-Mu

menatap penuh rindu...

ataukah diriku ini

kan hangus legam terbakar dalam nyala

di neraka membara...


Sungguh berbeda yang nampak

dan... yang tersembunyi

hanya kepalsuan menipu...

topeng belaka

mata ini.. tubuh ini..

hati yang merajai diri

tlah bersalah hamba-Mu melangkah...


Cermin tak pernah berdusta...

yang indah topeng semata,

Ya Allah aku malu tlah tertipu...

Ampuni hamba seblum akhir waktu...


Ke manakah diriku ini berakhir

di surga atau di neraka-Mu

Aku takkan mampu..


Apakah diriku ini

kan bercahaya bersinar di surga-Mu

menatap penuh rindu...

Ataukah diriku ini kan hangus legam terbakar dalam nyala di neraka membara...


Selamatkan akuuuu...

amiin.... ra rabbal 'alamiin


Lirik lagu dari Star Five ini bener-bener deh, selalu bikin Aku nangis dari semenjak zaman SMA. Betul mungkin, ketika Kita disakiti terus menerus, yang harus dikoreksi bukan orang lain, namun diri kita sendiri. Barangkali semua ini terjadi tersebab dosa yang pernah Kita lakukan di masa lalu. Sehingga pantas untuk disakiti.

Oh, Allah. Sebanyak buih di lautan, sebesar gunung, seluas lautan dosaku, mohon ampunkanlah Aku dengan Rahmat Mu. Selamatkan Aku dari panasnya api neraka. Meski amalanku tak layak untuk ke surga Mu T.T



Hati-hati Kecanduan

Bismillah...

Ketika ayat Quran saja tidak mampu menyadarkan. Maka lisan manusia satupun tidak akan pernah mempan. 

Hanya taufik dan hidayah saja nanti yang akan menyapa. Datangnya entah kapan.

Betul bukan teman, bahwa ketika seseorang sudah candu dengan sesuatu maka walaupun hati kecilnya mengatakan salah namun dirinya denial.  Selalu membenturkan, membenarkan apa yg diperbuatnya. Atau justru playing victim, menunjuk yang menasehati adalah salah. 

Misal anak kecanduan games, ia akan menangis meraung-raung ketika orangtuanya tarik gadegetnya, ia akan berpikir orangtuanya tidak sayang, maka terapinya pun akan sulit dilakukan.

Seseorang yang mendekati zina, yang sering kontak mesra dengan pacar lillahnya (menurutnya) cinta2an, rindu2an. Maka akan sulit menyadari bahwa tindakannya adalah salah. Lho kan ga ngapa2in, cuma WAan, itupun isinya ga gimana2 kok. Bab ini pernah dibahas bahkan lisanpun yang ditransfer melalui jari, itu sudah kategori dosa besar, apalagi sampai membayangkan wajahnya, tergambar wajah dan kalimat2nya yang mendayu. Hmm, ngeri ya.

Yang dilarang Allah mendekatinya lho. Mendekatinya aja ga boleh ya, apalagi.. subhanallah...

Pun pecandu narkotik, menurutnya itu adalah kebahagiaan tersendiri ketika bisa nge-fly. Padahal rusak akal, rusak pikiran. Tapi dia tetap lari ketika ada seseorang yang ingin menyembuhkan, ia tetap berusaha mencari tempat untuk bisa nge-fly.


See? Kecanduan dalam apapun dapat merusak akal. Sehingga manusia ketika disuguhi ayat akan menolak mencari pembenaran. Dan mengulanginya lagi dan lagi karena rasa candu yang membuatnya nikmat. Setan memandu didalamnya. Follow me, kata setan. Terus ikuti langkahku, asik kan, luar biasa nikmatnya. Lanjutnya.


Bagi kamu yang sedang asik dengan sesuatu, hiburan boleh kok asal tau batasnya. Pun mungkin kontakan dengan lawan jenis 

Jika yang ditanyakan adalah seputar keluarga maka sebuah  kewajaran. Batasi batasi batasi, jangan sampai izzahmu jatuh hanya gara2 sering melayani yang belum halal. Manusia mungkin tak dapat menembus isi chatmu, tapi Allah tahu. Kira2 Lebih baik ditegur manusia atau Allah? 


Yuk, berbenah sahabat. Jangan sampai ketika Allah mencabut ruh kita, kita dalam kondisi sedang candu dengan sesuatu. Naudzubillah...


Caranya? Dengan memperbanyak mendekatkan diri pada Yang mencipta. Sebenarnya dengan ibadah saja, diri kita ini sudah luar biasa sibuk lho... Iya ga sih? Jadi buat yang macem2 itu malah ga sampe terpikirkan. Memang Rasul tuh udah yabg paling bener mencontohkan, hati2 dengan 2 nikmat yang melalaikan manusia yaitu  kesehatan dan waktu luang. Selanjutnya, buka mata buka hati, apakah benar perbuatanku ini secara syariat?


Karena saya belum menemukan dalil dari candu itu dihalalkan atau saya kurang jauh mainnya? Monggo share ya jika ada yang tahu. Ya kecuali candu pada Quran, candu pada ibadah, candu pada hal yang sifatnya positif, itu baru luar biasaaa... Masya Allah... Jempoool 4 buat kamu, hihi...