Monday, December 14, 2020

Menahan Rindu



 Bismillah...

Ia tertatih, terhuyung menujuku dengan air mata bercucuran.

"Kenapa lagi Sahabat? Tenangkan dirimu..."

"Baru aku sadar bahwa bukan anak yang mampu membuatku bertahan. Namun perasaan ini yang begitu kuat kepadanya. Sehingga aku selalu cemburu namun merasakan kerinduan yang amat hebat." Bahunya tergoncang, Ia menangis sesenggukan.

"Hmmm..." Aku menarik nafas. Klise memang ya jika sudah soal perasaan.

 

"Namun egoku yang menahan perasaan ini. Aku ingat pertama kali bertemu dengannya. Bayangan ketika Ia meledekku, ketika aku iseng memasukkan biji anggur di mulutnya, bayangan ketika Ia memberikan yang aku mau, bahkan Quran yang setiap hari ku baca dan ku peluk dalam tidur kesakitanku, itu adalah hadiah darinya, Shine... Baju yang ku kenakan, semua fasilitas yang ku kenakan adalah hasil cucuran dan kerja kerasnya selama ini." Tangisnya meledak.

"Jadi kamu goyah?"

"Tidak, demi Allah. Aku selalu yakin bahwa dia jodohku Shine. Hanya aku merasa cemburu ketika ternyata ada perempuan lain di hatinya. Dan aku merasakan rasa yang begitu hebat ketika merasa akan kehilangan. Rasa itu tumbuh begitu saja, Allah jadikan indah, sehingga semarah apapun aku, aku tetap mampu memeluknya dengan tulus dan kasih sayang. Tidak pernah merasa terpaksa."

"Apa cinta telah sebuta itu sehingga kamu merasa mampu melewatinya?"

"Yang aku tahu perasaan ini justru cahaya, hidayah Allah agar aku tak menyia-nyiakannya. Salahku selama ini yang telah begitu cuek menyia-nyiakannya bukan?"

"Ya sudah, katakan saja jika kamu rindu."

"Tidak, aku merasa malu. Biar saja nanti angin yang membawa perasaan ini dan mengetuk pintu hatinya. Dan semoga itu sampai kepadanya."

"Hmmm, dasar perempuan. Memang aneh ya jika sudah membahas soal perasaan. Ya sudah, sibukkan saja dirimu, fokus pada amanah yang hendak dirampungkan dan mendidik anak-anakmu."

"Baiklah, Shine. Hanya kamu, aku dapat melepas rasa ini dihadapan manusia. Mungkin Allah heran terhadapku kali ya Shine, mengadu, mengeluh, menumpahkan air mata namun ternyata masih ada rasa rindu dan cinta dihatiku terhadapnya."

"Iya, memang aneh kamu mah. Ya sudah ya, sini aku peluuuk... Sabar ya, semoga kesakitan ini akan indah pada waktunya."

3 comments: