Friday, October 15, 2021

Dimulai Dari Rumah Untuk Mitigasi Perubahan Iklim Bumi

Bismillah...

 



Wiiih, berat ya judulnya? Untuk sebuah perubahan tak ada kata berat dan terlambat. Membaca judul tersebut saya jadi terlempar ke masa lampau. Dimana kemanapun bebas melangkah tak perlu khawatir dengan siapapun dan tak ada yang menghalangi langkah saya. Ya, saya sangat hobi eksplore dunia sekitar atau dalam bahasa kerennya traveling. Meskipun bukan yang jauh-jauh banget tapi setidaknya beberapa pulau di Indonesia sudah saya sambangi. Dan tentunya bukan hanya sekedar travelling namun memiliki tujuan yang jelas, untuk apa sebuah perjalanan itu dilakukan. Kebanyakan sih dinas dari kantor ya, kyaaa, wkwkwk.


Yang dekat-dekat sekitaran Bekasi dan gunungan sampah di Bantar Gebang. Pasti pada tahu kan TPA populer yang satu itu? Ya, di sanalah, kami memulai usaha untuk melakukan aksi ke arah mitigasi perubahan iklim. Saya, Ochy dan Luve menjadi tim solid bukan hanya mengajari anak-anak mengaji di kawasan bantar gebang namun juga tergerak untuk melakukan aksi kecil-kecilan menanam bibit pepohonan. 


Bagi kita yang jarang sekali blusukan di Bantar Gebang, dari arah beberapa km sudah tercium betapa baunya aroma sampah tersebut. Namun, ternyata bagi mereka penduduk yang kesehariannya hidup berdampingan dengan gunungan sampah, merasa biasa saja menjalani aktivitas keseharian. Benar sih ketika Saya turun langsung di gunungan sampah tersebut untuk pertama kalinya, kepala langsung muter, perut rasanya tercabik-cabik saking mualnya, namun saya tahan-tahan demi menghormati warga di sana. Setelah kedua dan seterusnya, ya biasa saja, sudah mulai bisa beradaptasi dengan baik.
Persoalan lingkungan terbesar di Indonesia masih sekitar sampah. Oleh karenanya negara kita ini dinobatkan menjadi 3 besar paling banyak menyumbang emisi gas rumah kaca.
Kebetulan Saya, Ochy dan Luve terbentuk karena pertemuan di rohis kampus, jadilah kami memulai sesuatunya dengan berpedoman :


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat  bagi orang lain.”

 
Kami pun memulai dengan mengedukasi warga bantar gebang dengan pentingnya penghijauan. Terus terang saja, selain gunungan sampah, bantar gebang juga terkenal dengan cuacanya yang panas menyengat.  Tentu hal ini bisa diatasi dengan penghijauan dan pengolahan sampah sesuai hierarki pengolahan sampah makanan. 

 

 

“Hierarki sampah menujuk pada 3R, yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle yang mengklasifikasikan strategi manajemen sampah menurut apa yang sesuai. Urutan hierarki sampah dari yang tertinggi ke yang terbawah yaitu pencegahan, pengurangan sampah, penggunaan kembali, daur ulang, penghematan energi, dan pembuangan.” –Wikipedia


Ya, karena produksi sampah terbesar adalah sampah rumah tangga. Yang setiap rumah memiliki sampahnya sendiri-sendiri. Dan itu dalam jumlah yang banyak.

Dari eksplore berbagai wilayah pun akhirnya kita dapat menyimpulkan sendiri, daerah yang hijau, asri bersih dan pengelolaan sampahnya baiklah, kita menikmati kekayaan alam indonesia yang indah, menghirup udaranya bagai menghirup kehidupan yang sempurna. Dan tentu menjadi payung yang membuat hati teduh dan nyaman, betah berlama-lama bahkan selalu rindu untuk kembali.

Kini, jreng-jreng. Saya memiliki tanggung jawab menjaga anak-anak di rumah. Tidak selalu bisa bepergian dan berkontribusi aktif di luaran sana, namun setidaknya saya memulai aksi kecil dimulai dari rumah. Yaitu mendidik anak-anak untuk ikut dalam menjaga bumi. Seperti :

Menghabiskan Makanan 


Ayo habiskan, jangan ada sisa karena ada keberkahan di sisa-sisa terakhir makanan. Saya selalu memulai dengan itu ketika anak-anak seenaknya saja menyisakan makanan. Kemudian dengan bercerita dari sebutir nasi ada keringat pak tani yang menanam, memanen kemudian ada tukang panggul yang memanggul beras berton-ton hingga perjuangan seorang ibu ke pasar membeli beras dan kemudian memasaknya dan terhidanglah nasi dan makanan lainnya. Dengan hal itu, Anak-anak bisa menimbang porsi makan secukupnya sesuai porsi masing-masing. Selain itu, anak pun belajar tanggungjawab, ketika ia mengambil makanan maka sudah tanggungjawabnya untuk menghabiskannya. 

Sehingga bukan hanya berkah namun juga minim sampah organik, betul? 

Jika keadaan darurat misal kelupaan dan akhirnya basi bagaimana? Sebisa mungkin berilah pada ternak. Karena kami tidak memiliki ternak, biasanya kami menitipkan ke Nenek untuk dijadikan pakan ayam-ayamnya atau ke kucing-kucing liar jika itu adalah protein hewani. 

Membuang sampah pada tempatnya.



Anak usia dini, saya mengajarkan anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya. Kebersihan sebagian dari iman terus saya gadang-gadang. Hal ini terbawa hingga usia mereka 6 dan 8 tahun. ketika melihat ada yang membuang sampah sembarang di kawasan minimarket, Fathan tak ragu untuk mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tong sampah. Pun ketika ada tangan yang tiba-tiba nongol dari jendela mobil dan melempar sembarangan. Mereka protes : Kok orang main buang-buang aja ya, apa dia ga diajarin sama orangtuanya? Xixi, saya sampai lucu mendengar celotehan protesnya.
 

Memilah sampah dan mendaur ulang kembali.

Memanfaatkan Kardus Bekas Untuk Kreasi


Kita tahu sebuah sampah bisa terurai ratusan bahkan ribuan tahun. Panjang jarak tersebut tentu seolah kita telah menanam pohon sampah yang efeknya akan diwariskan pada anak cucu keturunan kita. Tentu tidak ingin dong hal tersebut terjadi. Inginya mewariskan yang baik-baik saja. Maka, yuk mulai untuk memilah sampah organik dan non organik. Bahkan sekarang sudah banyak sekali bank-bank sampah yang akhirnya memberdayakan ibu-ibu rumah tangga macam saya ini. Setiap sampah yang kita tukar menghasilkan pundi rupiah atau sembako lainnya. Dan sekarang sedang trending penukaran dan pemanfaatan minyak jelantah. Kemudian para ibu diedukasi untuk mendaur ulang minyak jelantah menjadi sebuah karya seperti pembuatan lilin dan wadah lainnya. Bentuk dan warnanya pun cantik-cantik sekali. Yang akhirnya mendatangkan penghasilan. Ternyata jika #MudaMudiBumi bergerak akan menghasilkan kolaborasi yang sangat harmoni bagi mitigasi iklim.

Sementara sampah rumah tangga seperti kardus biasa kami buat untuk kreasi anak-anak. Dibuat prakarya, rumah-rumahan dan lainnya dari kardus-kardus bekas tersebut. Plastik-plastik kami kumpulkan untuk storage sayuran di kulkas, sehingga isi kulkas lebih rapih dan bahan makanan pun menjadi awet karena terwadahi dan tertutup dengan baik.

Bagaimana dengan sampah organik? Sampah organik biasanya kami buat kompos untuk dijadikan pupuk nantinya. 

Menanam pohon di pekarangan rumah



Ketika pertama kali membeli rumah, Saya langsung tanami halaman depan dengan pohon rambutan. Berbuahnya lamaaa sekali hampir 5 tahun. Sementara tetangga-tetangga menyulap halaman depan rumahnya dengan dikramik, tentu tidak ada yang salah. 5 tahun kemudian, ketika buahnya ranum, manis dan pohonnya lebat. Pulang ke rumah menjadi sebaik-baik tempat istirahat ternyaman. Hawa sejuk muncul, rindang dan angin semilir bagai perpaduan simfoni alam yang memberikan ketenangan. Kemudian para tetangga ketika menyambangi rumah saya selalu komen : Wah, masya Allah ya mba, rumahnya adem banget.
Saya hanya menjawabnya : Alhamdulillah mungkin karena ada pohon rambutan itu kali ya.
Bukan hanya para tetangga saja, teman-teman saya yang bersilaturahim ke rumah pun, sering bilang kalau rumahnya adem dan sejuk sehingga tak jarang mereka terkantuk-kantuk saking nyamannya dimanjakan dengan udara dari sebuah pohon rambutan. Bayangkan, 1 saja efeknya luar biasa ya, bagaimana jika banyak pohon-pohon lainnya di tanam? Tentu efek rumah kaca akan bisa teratasi sedikit demi sedikit.

Maka, Saya pun mulai mengedukasi anak-anak untuk menanam pohon agar mereka kelak tahu bukan hanya sekedar mengharapkan buah dari pohon tersebut namun ada kebaikan-kebaikan lainnya yang akan dituai oleh generasi selanjutnya karena telah merawat bumi.


Bahagianya ketika sedang asyik menanam pohon, salah satu anak saya, Fathan, asyik menulis kemudian menempel tulisannya pada pot tanaman. Masya Allah, komunikasi dengan tanaman pun sudah terjalin. Mereka tahu tumbuhan makhluk hidup juga. Dan mereka tahu satu hal bahwa tanaman pun memiliki andil bagi kehidupan di bumi ini. 

#UntukmuBumiku, Sebagai ibu rumah tangga saya bersumpah akan terus mengedukasi anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya dan menghijaukan bumi. Yes, it’s #TimeforActionIndonesia . mulailah dari yang terkecil, terdekat dan dari diri kita sendiri untuk mitigasi perubahan iklim bumi.


1 comment:

  1. Setuju, kebiasaan kecil dan sederhana juga berarti untuk bumi kita ya Eni..

    ReplyDelete