Monday, November 1, 2021

Soft Skill Yang Diperlukan Di Era Digital Dan Workshop Creative Art Series Faber Castell

 Bismillah... 

"Creativity are teachable and can be ingrained in children through activity in everyday life."


Hayooo, jika ditanya tentang soft skill pasti berpikir tentang dunia kreatif kan ya?  Dan dunia digital mempersembahkan kreatifitas sebagai sebuah jalan ninja para pejuang siapa saja yang mau berperan di dalamnya. Ditambah dengan adanya pandemi, digitalisasi semakin tak asing di depan mata. Baik tua muda sampai anak-anak mengenalnya. Karena mau tidak mau, dunia digital menjadikan ruang untuk belajar, bekerja dan berkarya. Siapa sangka kita tengah bergelut dengan dunia yang serba virtual.

Sabtu, 25 September 2021 Saya dan Nusaiba mengikuti kegiatan soft launching dan Workshop Online Faber Castell, Creative Art Series II bertema : Soft Skill apa yang diperlukan di abad digital. Narasumbernya tentu tak kalah menarik, ada Yohana Theresiaa seorang Psikolog yang khusus di ranah Human Development, Art Psychology dan Art Therapy. Jadi pas banget ya materinya, ada parenting juga solusi untuk menciptakan kreativitas anak masa pandemi di era digital ini.

Sesi pertama dibuka dengan menarik oleh Mba Yohana.  Apa  itu parenting? Menurut Mba Yohana sendiri Parenting adalah sebuah seni, tidak ada patokan pastinya. Contoh ketika anak sedang marah orangtuanya harus seperti apa? Kita menyarankan ibu tetap tenang, mendekati si anak, ada anak yang bisa diberikan perlakuan seperti itu, ada yang tidak mempan. Hal ini karena setiap anak berbeda. Disanalah seninya memainkan seni parenting dalam pengasuhan anak. Dan belajar parenting tidak bisa sekali dua kali selesai. Harus belajar berkelanjutan, setiap anak berkembang, pendekatannya pun akan beragam.

Bener bangeet, jangankan anak 1 dengan yang lain ya? Anak yang 1 darah saja (saudara kandung) beda banget karakter dan cara penanganannya ketika marah. Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala? Sangat kompleks dan beragam. Saya setuju sih dengan pendapat Mba Yohana di atas.

Lantas kondisi pandemi, apa hal tersebut berpengaruh pada anak? Tentu saja dan dikatakan bahwa anak-anak adalah korban tersembunyi dari pandemi Covid-19. Kita pikir mungkin hanya kita orangtuanya yang stress, kita orangtuanya yang kurang piknik, kita orang tuanya yang jungkir balik bingung dengan kondisi dan keadaan saat pandemi. Ternyata anak-anak pun mengalami hal tersebut, hanya mungkin mereka juga bingung bagaimana harus mengutarakannya.

Kalau Saya sendiri melihat indikasi anak-anak bosan dan uring-uringan saat mereka minta jalan-jalan ke luar. "Mi, kayaknya cuma kita doang yang lock down, teman-teman kita pada jalan-jalan lho ke luar." Saya tertawa mendengar hal tersebut padahal sesungguhnya itu adalah keyword dari anak bahwa mereka lelah dengan keadaan, ingin eksplor dunia luar, ingin menjadi jiwa anak yang sesungguhnya yaitu : bermain. Di rumah juga kan bisa? Betul, tapi tak seindah ketika bermain di luar yang bisa berlarian dan bersepeda leluasa dengan menghirup udara segar.

Hasil penelitian Psikolog Indonesia

Kondisi tersebutlah yang menjadikan "anak juga bisa stress lho". Pasalnya anak-anak yang aktif, anak-anak yang energic jadi terbatas ruang geraknya. Yang kemudian bermunculanlah masalah perilaku dan emosi akibat paparan stress tersebut. Kira-kira masalahnya apa saja ya? Ini dia ....

Masalahnya :
-anak cenderung menutup diri
Cemas
Depresi
Punya masalah sosial ga mau
Agresi : lebih sensitif, membangkang,
Kenapa? Bisa terjadi karena ruang gerak yang terbatas. Keluar butuh pertimbangan yang panjang, karena banyak resiko yang harus dihadapi.
-Ruang gerak terbatas
-Sulit mendapat pendidikan yg  berkualitas
-Orang tua sibuk dengan masalah masing-masing
-Kondisi Psikologis tidak stabil

Kondisi “dikurung di rumah” stay at home. Anak-anak kita kurang piknik lho, membuat mereka mengalami perubahan prilaku.
Sulitnya mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Metode paling mungkin yaitu online. yang kemudian menjadi tantangan dan itu tidak mudah untuk banyak anak. Banyak yang masih struggling. Kewalahan, karena tidak biasa. Kondisi ini tidak mudah dilalui. Contoh saja ketika belajar tiba-tiba jaringan internetnya terputus, anak bertanya tapi tak ada respon dari guru disebabkan jaringan internet. Kompleks banget kan? Hal inilah yang mentrigger si anak semakin frustasi akibat keterbatasan metode ajar. “Aku harus bagaimana?” mereka kebingungan dan menjadikan psikologis si kecil menjadi tidak stabil.

Sementara yang anak butuhkan adalah ruang gerak yg bebas. Salah satunya melatih otot, butuh bergerak : harus loncat, harus lari-lari, bergerak adalah hal yang paling penting bagi anak. Anak-anak membutuhkan ruang bebas untuk mengembangkan dirinya secara kognitif. Apalagi yang Ibunya bekerja ya, pendampingan pasti akan sangat butuh perjuangan sekali. Ibu yang pure rumah tangga pun merasakan kerepotannya, apalagi yang banyak anak seperti Saya. Fathan dan Nusaiba harus online berbarengan. Sebagai Ibu, Saya seperti setrikaan mondar-mandir mengawasi satu-satu. Yang satu teriak gambarnya tersendat, yang satu bertanya karena suara gurunya tidak terdengar jelas. Kepala rasanya seperti di panci presto, haha...

Lalu gimana? Ga boleh dong ngeluh-ngeluh tanpa mencari solusi... Munculah Gadget yang menawarkan win-win solution. Anak anteng, Ibu pun bisa tenang melakukan aktivitas lainnya. Apakah ini solutif? Sementara ini solusi yang bisa diandalkan namun tetap ada syarat dan ketentuan berlaku. Karena jika kita melarang anak untuk bergadget maka tawarkan solusi lain, alternatif lain, kegiatan lain yang mengalihkan si anak dari pergadget-an. Kalau Saya biasanya menyodorkan buku-buku komik yang syarat makna dan edukasi. Anak bisa fun membaca dan Ibu pun tenang. Solusi lainnya? Faber Castell jagonya, menyediakan dan mempersembahkan ruang kreativitas tanpa batas. Seperti dalam hal ini Creative Series Glow In The Dark yang bisa mengasah motorik anak sekaligus menjadi solusi kebosanan mereka kala pandemi.

Ya, tak bisa dipungkiri gadget seperti 2 mata uang, sisi pertama ada hal positif yang didapat, sisi kedua menjadi ancaman tersendiri jika itu dilakukan secara berlebihan. Oleh karenanya, sebagai orangtua kita harus Waspada efek samping penggunaan gadget oleh anak. Apa saja efek samping tersebut, yaitu :


- masalah kesehatan fisik (mata capek, fostur tubuh)
- terlambat bicara (anak usia dini speech delay, lebih fokus pada visualnya dan sulit mengembangkan kemampuan bicara dan audio)
-masalah atensi dan konsentrasi (dampak jangka panjang, rusaklah otak anak)
-masalah pada executive function (sekumpulan keterampilan kognitif yg memungkinkan si anak untuk berpikir kritis, membuat rencana, fokus, mengerjakan beberapa hal sekaligus)
- masalah prilaku (kecanduan, seolah-olah tidak bisa hidup tanpa gadget)
- kualitas kelekatan orangtua anak menjadi buruk (gadget mungkin menyenangkan, tapi bisa menjadi perusak)

Manfaatkan gadget secara bijak dan sesuaikan penggunaannya dengan rekomendasi yg ada sesuai usia anak.

Being Creative Is A Way Of Life

 


Dengan latar belakang yang berjubel tersebut menyebabkan kita semua stress dengan keadaan. Kita semua merindukan rasa menjadi manusia, percakapan secara langsung, tegur sapa, sentuhan jabat tangan, cepaka-cepiki begitu menjadi hal yang mahal sekarang ini. Yang akhirnya menjadi diri kosong hampa, berasa bukan manusia, wkwk...

Ditambah dengan tantangan digitalisasi yang merubah tenaga manusia menjadi robot. Apakah termasuk ancaman? Tentu tidak karena robot dan mesin pun diciptakan manusia. Maka bukan robot nya yg dijadikan musuh, layaknya Man Vs Robot melainkan mindset Kita yang diubah yaitu Being Creative is a must! 

Bagaimana ketika para pengusaha bukan lagi dilihat dari banyak toko offline nya namun dilihat dari cara Ia menjual diberbagai market place ataupun sosial media dengan marketing yang dibalut dengan kemampuan copywriter misalnya. Dimana toko offline berubah menjadi online. Para profesional tidak lagi dinilai dari praktek dimana-mana melainkan dokter yg eksis dan  followers-nya ada di mana-mana. Tidak cukup modal kepandaian saja. Karena kita menyesuaikan dengan perkembangan zaman.Noted banget untuk hal semacam ini. Jadi tidak mentok dengan ancaman dan tantangan di depan mata namun mendobrak semua itu dengan modal kreativitas.

Oleh karenanya kita dituntut untuk personal branding ,  mengemas diri sekreatif mungkin sehingga bisa menarik banyak orang dan mengdeukasi banyak orang dengan cara kreatif di kancah dunia online.

Sering kita mendengar excuse : saya mah orangnya ga kreatif ga bisa gambar aku tuh. Kembali seperti quote di awal yang saya kutip. Kreativitas bisa diasah. Sebenarnya kreatifitas itu dapat dipelajari dan ditanamkan pada anak melalui aktivitas sehari-hari. 



Sebelum lebih jauh memaknai kreativitas, sebenarnya ada ga sih ciri-ciri atau kreteria si Kreatif itu? Kira-kira apa saja kriterianya. Ternyata ada yaitu sebagai berikut :

1. Si Kreatif adalah Ia yang memaknai masalah dengan cara yang unik. Ia selalu berpikir out of the box, tidak pada umumnya. 

2. Si Kreatif adalah Ia yang berani mengambil resiko. High risk high return. Ini hal lumrah dan Si Kreatif mendobrak dan mengambil alih resikonya. 

3. Si Kreatif adalah Ia menyajikan ide yang berbeda. Ketika dulu saya di era 90an, guru memerintahkan untuk menggambar yang dilakukan banyak siswa termasuk saya adalah menggambar gunung dengan jalanan lurus, kiri-kanan pesawahan. Sementara si Kreatif ada saja idenya, mencoret-coret buku berulang ketika ditanya guru ini gambar apa? Ia menjawab itu gambar benang kusut. See? Meskipun hal yg tak masuk akal menurut siswa lainnya namun jiwa kreatif mampu berbeda dan akhirnya guru yang paham memberikan ia nilai paling tinggi di kelas, 90. Wow, jarang sekali ketika pelajaran menggambar ada yang bisa mendapat nilai mencapai 90. 

4. Si Kreatif adalah Ia yang tahan banting dalam menghadapi berbagai masalah. Ia tak berputus asa dalam hal mencoba, masalah baginya adalah teman yang harus dinikmati dan dipecahkan dengan solutif. Mungkin si kreatif ini menganut semakin ditekan ke tingkat lebih rendah, semakin jauh nanti ia akan melenting. 

Melatih atau Mengasah Kreativitas Anak

Muncul pertanyaan, bagaimana cara melatih atau mengasah kreativitas?

Penting untuk di highlight bahwa Orangtua adalah agen pembentuk anak yg paling utama. Maka jangan mudah berputus asa dengan kelelahan dan hambatan. Karena pada dasarnya apa yang kita usahakan untuk kreativitas anak kita tidak akan menjadi sia-sia.

Maka dari itu orangtua perlu berpikir kreatif dan inovatif dengan perkembangan teknologi yg ada. 

Dan berikut ini cara atau katakanlah ya seni dalam mengasah kreativitas anak :

1. Menghargai proses belajar anak

Tidak ada yg instan di dunia ini. Semua butuh proses, begitupun halnya sebuah kreativitas. Jangan melulu berfokus pada hasil akhir karena akan menyebabkan kita lupa bahwa kitalah sebagai support system anak dalam belajar. Anak butuh waktu untuk berpikir kreatif, jadi ketika anak menghadapi masalah jangan langsung buru-buru tawarkan solusi.  Beri kesempatan si kecil memecahkan masalah terlebih dahulu. Jika memang sudah memberi waktu dan si kecil mentok baru Kita masuk secara perlahan dengan cara mengarahkan. Ya, biarkan Ia mengeksplor sebuah masalah dengan tenang.

2. Mempersiapkan ruang khusus bagi anak untuk eksplorasi dan bereksperimen. 

Sediakan tempat atau corner khusus bermain anak. Seperti menyiapkan tools untuk ngecat, kertas, krayon, pensil untuk nyoret- nyoret. Terkadang dari coretan-coretan itu justru muncul lho imajinasi mereka. Biarkan mereka ekspresikan imajinasi tersebut ke dalam coretan tangannya.


3. Memberi kebebasan bagi si kecil

Memberi kebebasan sama artinya memberi kesempatan pada si kecil untuk mencoba. Jika bisa begini, bisa begitu, tidak begini maka begitu. Tugas kita mengarahkan ketika anak-anak memegang pensil semau-maunya.Karena terlalu banyak campur tangan orangtua, itu semakin membatasi si anak untuk kreatif. Terkadang kan kita berpikir (kita? Saya aja kali?) takut salah, khawatir ga sesuai ekspektasi. Padahal memang dunia anak ya memang trial error agar anak-anak luas cara berpikir dan pengalamannya. Jadi harus tahu batasan kapan saatnya ngegas kapan saatnya ngerem. Berikan kesempatan pada anak untuk mencoba terlebih dahulu.


4. Menjadi contoh nyata "orang kreatif"

Children see, children do.  Menjadi role model adalah opsi yg lebih baik dari pada nasehat. Tunjukkan saja bahwa menyenangkan menjadi orang yg kreatif. Contoh kreatif memasak, menjawab pertanyaan anak atau menulslis merangkai kata. Karena kreatif tidak sebatas hanya menggambar karena bermain saja sudah bisa kreatif. Anak Saya sering menceritakkan Ibunya kerja apa? Dengan bahagia menjawab Umi aku suka nulis-nulis. 

Kemudian suatu hari Nusaiba berceloteh entah karena apa : "Umi, teteh cita-citanya mau ganti aja ah, ga mau jadi dokter lagi."

"Lho, kenapa?"

"Mau nulis aja kayak Umi, ga kemana-mana dirumah tapi bisa tetap sama-sama terus dengan keluarga. Teteh pengen kayak gitu."

Lalu saya pun terbahak lepas. Mungkin bagi mereka pekerja kreatif seperti saya sungguh sangat menyenangkan, tidak kemana-mana tapi tetap bisa produktif dengan tetap selalu bersama-sama.


5. Berikan sudut pandang yg berbeda, out of the box, antimainstream untuk memperkaya pengetahuan anak.

Untuk memberikan ragam sudut pandang tentu orangtua mau tidak mau harus banyak baca buku, banyak referensi untuk mengarahkan, menjawab atau membahas sesuatu. Kegiatan ini bisa dimulai diskusi atau dialog apapun yang kita lihat disekitar. Bahkan ketika dalam perjalanan, di motor ataupun di mobil, Kami sering berceloteh, membahas apapun yang Kami lihat. Kenapa begini, kenapa begitu. Apalagi mereka sudah terbiasa dengan buku-buku bertema WHY. Melelahkan kah dengan pertanyaan mereka? Oh tidak, justru sangat mengasyikkan dengan membangun bonding dengan cara diskusi ini, suasana semakin hangat dan nyaman. Coba deh lakukan secara kontinyu. Yakin, apa yg kita lakukan tidak akan sia-sia. Semua akan menjadi bekal anak untuk mengasah dirinya menjadi lebih baik. 


6. Suportif

Kreativitas itu memang ada motivasi di dalam diri anak namanya motivasi intrinsik yaitu ketika anak merasa nyaman melakukan sesuatu kegiatan tertentu, kreatifitas dalam diri anak akan mudah terbangun... Sebagai orangtua tugas kita adalah melihat lebih dalam apa yg anak sukai dan mensupport nya melakukan dan mengembangkan diri di area yg ia sukai. Mendukung, mengarahkan dan memfasilitasinya.


7. Mengapresiasi usaha anak

Bukan hanya anak, hal ini dapat dipastikan disukai pula oleh orang dewasa. Karena tidak ada yang tidak suka dengan sebuah apreasiasi. Lumrah saya kira.  Maka, apresiasi mereka karena ia akan merasa bahwa usahanya dihargai oleh lingkungannya sehingga mereka semakin terpacu untuk berkreasi lebih lagi. Kalau sudah begitu, tanpa perlu disuruhpun dengan kesadaran diri mereka melakukan apa yang dapat melejitkan potensi kreativitasnya.

Lalu apa saja aktivitas yg dapat mendorong kreativitas si kecil berdasarkan riset? Ini dia :

1. Alternate Uses Task 

Kegiatan Brandstorming ini bisa dengan teka-teki, main tebak-tebakan manfaat suatu barang misalnya. Dari sana akan muncul ide-ide kreatif yang sebelumnya tidak terpikirkan. Misalnya tebak-tebakan manfaat pensil, selain untuk menulis bisa juga ternyata untuk mengganjal pintu atau mengorek benda yang harus dikeluarkan pada lubang yang kecil.


2. Guided Fantasy 

Bisa dengan membacakan buku cerita. Dari buku-buku cerita tersebutlah anak akan terasah daya fantasi dan imajinasinya. Apalagi membacakan buku cerita yang tidak ada gambarnya seperti novel, dll.. Namun ini khusus anak-anak di atas 5 tahun ya. Jika dibawah itu, bisa dengan buku-buku bergambar. Sering anak saya Nafisa (3th) menceritakan sendiri gambar yang ada di buku dengan cara mengarang bebas, berceloteh mengisahkan sesukanya :D.


3. Open Ended Toys




Contohnya lego yg menawarkan berbagai macam cara bermain. Anak bisa membangun berbagai bangunan dan objek sesuai imajinasinya.  Anak akan semakin kaya untuk memainkan open ended toys tersebut. Karena tidak terbatas dengan kegiatan monoton. Ya, permainan ini bisa dibentuk sesuai imajinasi atau keinginan si kecil.


4. Exposure to Art Activities



Tidak diragukan lagi hal ini dapat membangun anak untuk menjadi kreatif. Seperti menggambar, melukis, membuat clay, membuat bangunan, dll. Nah, salah satu tools yang bisa kita eksplor adalah paket Creative Art Series Glow In The Dark Clock-nya Faber Castell. Anak bisa membuat jam dinding yang bisa menyala dalam gelap plus bisa menghasilkan efek siluet yang bisa dikreasikan sendiri. 

Nusaiba sendiri karena ikut workshop-nya jadi mengikuti petunjuk saja yaitu dengan siluet gajah yang ada, sudah ada potongan dan designnya. Penasaran ga apa saja isinya dalam 1 set box CAS Glow In the dark clock ini? 1 set komplit sudah termasuk :

- 1 tube Acrylic Glitter Silver

- UHU All Purpose 20ml

- 1 Grip Brush

- 1 set bahan-bahan membuat jam dinding

- Booklet petunjuk pembuatan

- Kupon Workshop senilai 60K secara gratis

 

Creative Art Series : Pengganti gadget yg sangat menarik persembahan Faber Castell. 

Seperti yang dijelaskan di atas, untuk menggantikan gadget, anak harus punya alternatif lain untuk bereksplorasi. Dan CAS ini cocok sekali peruntukkannya. Bukan hanya melatih skill kreativitas melainkan juga melatih untuk bisa berdaya dan menghasilkan inovasi yaitu berupa produk yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.

Setidaknya ada 6 Manfaat Creative Art Series Glow In The Dark Clock, yaitu :

1. Kegiatan baru di masa pandemi

Bosan dengan kegiatan yg ada? Creative series ini sebagai alternatif pangganti gadget yang sangat menyenangkan. Berkreasi dengan cara yang fun dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Bisa nyala di kala gelap pula, ah senangnya Nusaiba melihat karyanya sendiri. Ketika kakak dan adiknya melihat jam tersebut di kegelapan malam, Ia akan berujar : "Lihat, itu kan hasil karya teteh :D."


2. Melatih kemampuan motorik halus

Mengontrol gerakan tangan melalui mengecat,  mengontrol tenaga tangannya dengan cara melepaskan part2 yg ada pada art papper. 

3. Mengasah Kreativitas

Ini sudah barang tentu ya bagaimana art papper yang kosong bisa kita gambar dan rancang sesuai yang kita inginkan. Misal membuat gambar siluet jerapah atau pemandangan lainnya.

4. Meningkatkan Self Esteem & Self Confidence

Dengan berkarya kepercayaan diri seseorang akan semakin bertambah. Semakin merasa berharga dan percaya diri. Bukankah untuk berpengaruh terhadap orang lain, kita harus mencintai dan merasa bangga terhadap diri kita sendiri. Dengan CAS ini maka self esteem dan percaya diri si kecil semakin meningkat. Dan ini hal baik yang harus terus dipertahankan.

5. Meningkatkan kelekatan Orangtua dan Anak

Dengan mendampingi anak berkarya hanya butuh waktu setengah atau satu jam saja, orangtua sudah bisa membangun bonding dengan si kecil. Waktu yang efisien inilah yang menjadi begitu berharga dan menjadi bonding tersendiri sehingga perilaku berikutnya adalah semakin kompak dan lebih mendengar apa kata orangtua. Itulah efek yang saya rasakan langsung.

6. Media mengekspresikan emosi

Ada penelitian yang mengatakan untuk self healing bisa dilakukan dengan cara menggambar dan mewarnai. Ya, kegiatan ini bisa sebagai salah satu penyalur energi negatif menjadi positif sehingga menimbulkan rasa tenang. Dan jika sedang sedih, tidak berlarut-larut dari kesedihan. Atau bisa sebagai istirahat dari penatnya kesibukkan hari-hari.


Isi 1 Set Creative Art Series 2 : Glow In The Dark Clock

Creative Art Series Faber Castell

Seperti Kita tahu, produk Faber Castell sudah populer untuk masyarakat Indonesia. Bahkan saya mengenalnya ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Dari mulai pensil, penghapus harus banget Faber Castell. Apalagi pensilnya harus Faber Castell 2B karena waktu itu mula-mula zamannya pengecekan Ujian Nasional menggunakan komputerisasi.

Tak berhenti berinovasi untuk sebuah kreativitas, Faber Castell meluncurkan produk Creative Art Series Glow in the dark clock. Tujuannyan memberikan paket produk sebagai kegiatan mengasah kreativitas terutama ketika pandemi. Namun sejatinya produk CAS ini masih relefan untuk mengasah kreativitas meski kita sudah melewati masa pandemi. 

Glow in the dark clock yang merupakan CAS yang dibahas dan diulik dalam Workshop kemaren mengajak kita untuk Berinovasi, produktif,  ga mentok saat kita bingung harus ngapain lagi. Selain Glow in the dark clock ada macam series lainnya yang bisa Kita eksplore seperti Colour Your Own Drawstring Bag, Finger Printing Art Set, Origami Fashion Design, dll. Lengkapnya bisa dilihat di web faber-castell.co.id dan instagram @fabercastell_id ya. Banyak sekali seriesnya, insya Allah Nusaiba juga mau coba eksplor series lainnya. Yeaay, selamat berkreasi teman-teman. Lejitkan kreativitasmu tanpa batas. Selamat bereksplorasi, selamat berpetualang di dunia kreasi.

12 comments:

  1. Bener banget di era digital ini dibutuhkan ketrampilan dan kreativitas apalagi kemampuan anak terhadap menggambar, mantap faber castell menunjung soft skill si kecil untuk berkreasi.

    ReplyDelete
  2. Memang mesti ada hal-hal yang bisa jadi alternatif kegiatan biar ga bosen di rumah trus main gadget melulu. Saya baru tau ada produk kreatif buat anak dari faber castel nih, pengen beli juga jadinya.

    ReplyDelete
  3. Harus ini ya, anak-anak sekarang kan PR terberatnya nyapi drai gadget, Shine. Karena pandemi dan kondisi belajar daring, mau gak mau mereka terbiasa megang gadget. Orangtua harus bisa cari kreatifits kayak gini nih

    ReplyDelete
  4. Di era digital ini memang anak2 tu udah kena gadget semua ya mbak. Pinter2nya ortu mengarahkan anak2 utk beraktivitas lain khususnya yang mampu menstimulasi kreativitas mereka. Bikin prakarya atau kegiatan lain yg melibatkan motorik anak akan sangat baik sekali.

    ReplyDelete
  5. Saya setuju banget dengan pernyataan mba kalau kreativitas bisa diasah dan dipelajari. Asal ada niat ya mba. Dan luangkan waktu utk berkreasi tentunya

    ReplyDelete
  6. Anak-anakku selama pandemi ini lumayan terpapar gadget dan aku lagi berjuang untuk ngurangin penggunaan gadgetnya karena udah sampai di titik kecanduan nih. Makanya adanya paket art Fabell Castel bisa membantu mereka agar nggak gadget terus sekaligus mengasah soft skills-nya

    ReplyDelete
  7. Seru pastinya berkreasi dengan faber castell..emang bener nih anak-anak sekarang sukanya main gadget. Sesekali harus lepas dari gadget ya.

    ReplyDelete
  8. Ya betul karakter anak beda2 jd treatment nya juga beda ya mba ga bisa disamping.. btw au juga ikut workshop ini seru abis

    ReplyDelete
  9. Hahaha.. Itu omongan Abang banget pas dia di rumah sebelum ke pesantren. Berapa kali ngajakin jalan. Ngomongnya persis kayak gitu. Cuma kita doang yang di lockdown.

    Btw ade suka nih fabercastle. Perlatan gbr Adek tuh pakai fabercastle tapi yabg crayon. Kuliatasnya bagus

    ReplyDelete
  10. Bagaimana membuat anak-anak tetap bahagia dan menyalurkan kreatifitasnya ini tugas penting dari orangtua.
    Semoga Faber Castell terus menginspirasi dengan produk Creative Art Series seperti ini. Menyenangkan sekali melihat anak anteng menuangkan ide.

    ReplyDelete
  11. Anak kreatif memang jadi panjang akal ya, banyak akal untuk keluar dari masalahnya. Btw seru banget ikutan webinar parenting faber castell. Ilmunya daging semua ya dan workshopnya juga menyenangkan.

    ReplyDelete
  12. Biasanya aku mensiasati supaya anak gak uring uringan, aku sebagai orang tua tanyain dia (anak) mau main apa kalau dirumah ?
    Biasanya dia suka bermain peran dan main masak masak itu supaya dia gak inget sama gadget dan gak bosen

    ReplyDelete