Wednesday, February 20, 2019

Payo Lur Pegipegi Ke Palembang


Palembang adalah kota yg kental sekali dengan makanan khasnya yaitu pempek. Tidak pernah terbayang sebelumnya, jika saya akan mendapatkan jodoh orang Palembang. Siapa sih yang tidak menyukai makanan yg satu itu? Jika pun ada, alangkah ruginya. Kenyalnya pempek dengan kuah cuko hitam yang aaah bisa dibayangkan sendiri, tsssrrrllp.. Pun semua kalangan dari anak-anak hingga dewasa menyukainya. Bahkan untuk wong kito galo-nya sendiri pempek sudah menjadi makanan pokok. Pagi sarapan pempek, siang malamnya tetap cari pempek. Tak heran jika dari mulai gerobakan, warung-warung kecil hingga toko pempek raksasa ada dimana-mana dan ajaibnya semua laris. 



Tak berhenti sampai disana, jika ada hajatan pun tetep yang menjadi primadona adalah pempek. Oleh karena itu, tak sah rasanya jika ke Palembang tidak makan pempek di tempatnya langsung. Apalagi di atas perahu di bawah Jembatan Ampera. Alangke Lemaknyooo..

Selain itu, di Bumi Sriwijaya ini pun kental dengan nilai-nilai sejarah yang masih di jaga. Dibuktikan dengan banyaknya musium dan bangunan bersejarah lainnya. Aksesnya pun kini semakin maju dengan adanya LRT dan pembangunan Jembatan Musi IV yang mengurai kemacetan Hulu dan Hilir.


Hanya saja yang menjadi permasalahan Saya ketika tinggal di Palembang adalah Bahasa. Bahasa daerahnya yang begitu melekat pada pemilikinya seolah tidak ingin dipisahkan ini sering kali menjadikan Saya roaming ketika berlangsung obrolan yang dilakukan orang-orangnya. Jika per kata masih bisa dimengerti karena ada beberapa seperti bahasa Jawa yang tinggal diubah belakangnya menjadi “Nyo”. Misal Lemak (Enak) ditambah Nyo jadi Lemaknyo. Namun, ketika mendengarkan percakapan mereka, Saya benar-benar tidak bisa mengejarnya. Paling ada satu dua kata yang mengerti setelahnya harus tanya dan tanya lagi.


Sementara tentang orang-orangnya? Anggapan selama ini yang sering lumrah dicap bahwa orang Palembang sangar dan garang tidak benar. Rata-rata semua baik, malah dari segi persaudaraan lebih merasa saling memiliki dan berkasih sayang terlihat sekali dengan perbuatan dan kepedulian sehari-hari. Sehingga Saya bisa mengambil kesimpulan, anggapan garang tersebut mungkin berasal dari suara dan logat mereka yang tinggi. Jadi kesannya ketika ngobrol seperti orang berantem. Padahal itu biasa saja. Saya sendiri senang menikmatinya, melihat gaya mereka ngobrol yang rame. Justru dengan rame itulah, akhirnya Saya lebih mudah beradaptasi. Meskipun planga-plongo ketika mereka sudah masuk pada bahasanya dan melupakan Saya yang sedang roaming. Saya bagai ditinggal seorang diri, semakin menjauh, haha *apasih.

Ya, pengalaman pernah tinggal di Palembang memberikan banyak sekali beragam pengalaman dan mengenal ke arifan lokal di sana. Kini, Saya sudah di Ibukota lagi dengan status LDM dengan suami. Ya, suami masih kerja di Palembang dan artinya Ia harus bolak-balik Jakarta- Palembang. Dengan intensitas perjalanan suami bolak-balik tersebut, moda transportasi pun menjadi kebutuhan yg primer bagi Kami. Oleh karenanya harus menentukan moda transportasi yang hemat, efisien  dan memudahkan tentunya.



Dan karena rumah suami di kota Palembang nya, tidak begitu jauh dari Bandara, akhirnya memutuskan untuk selalu menggunakan  transportasi udara sebagai salah satu yang memenuhi ketiga syarat di atas.

Bayangkanlah ya tiap minggu mondar2 mandir Palembang-Jakarta, apa tidak tekor di ongkos? Awalnya iya, kami merasa jika ongkos pulang pergi itu ditabung, pastilah bisa digunakan untuk keperluan lain. Akhirnya, melalui seorang teman, kami diperkenalkan dengan aplikasi pegipegi yang menyediakan promo tiket pesawat murah. Asyiknya lagi, tidak perlu waktu lama untuk memilih penerbangan. Memudahkan banget deh pokoknya. Apalagi jika install aplikasinya. Sudah dapat promonya ditambah lebih murah pula dari harga biasa (web). Tentu akan sangat menghemat dari segi budget. Masyarakat mana yang tidak suka dengan promo dan diskon? :D Udah gitu ada reward deh pasti dicintai Emak-emak yang doyan traveling.

Keunggulan lainnya yaitu versi barunya yang menampilkan desain cathcy dan fitur-fitur tambahan yang memudahkan konsumen dalam mengaksesnya. Padat informasi dan tentu memiliki navigasi yang terarah. Pegipegi memang Fun travelling partner banget untuk perjalanan Suami. Sehingga Saya tak khawatir ketika melepas kepergiannya dan bersuka cita ketika menyambut kedatangannya.
Jadi, Payo Lur Kito maen-maen ke Palembang, Pegipegi Kito! :)

6 comments:

  1. Oalah,koq jadi kangen sama Mba Shine ya.. Kapan ke Palembang lagi mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kangen Ibuuuu jugaaa, huhu... Kapan2 ketemuan ya bu kalau daya ke Palembang 💕

      Delete
  2. Tahun ini in sya Allah bakal ke palembang ada ponakan yang mau nikah, sekitaran bulan Jini, rencana mau naik kereta api sahaja dari lubuk linggau..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wiiih asyiknyaaaa. Aku belum pernah cobain ke Linggau naik kereta, huhu

      Delete
  3. Bersyukur y nur suami kita ada darah palembang xixixi

    ReplyDelete
  4. Wiiih... Belum kebayang deh klo pempeknya beneran asli Palembang. Pasti enak2 banget ya pempek di sana mbak hihihi...

    Tapi ribet juga klo harus LDR, kaya suamiku dulu juga sempet harus di Jakarta sementara aq nggak bisa ke sana. Biasanya pak suami ke Jakarta berapa minggu sekali, mbak?

    ReplyDelete