Wednesday, January 8, 2020

Kisah Teladan : Belajar Tauhid Dari Hajar dan Ismail

Ibu Madrasah Pertama Bagi Anak
Ibu Madrasah Pertama Anak

Menyelami kisah keteladanan Manusia-manusia pilihan terdahulu selalu menyisakan ruang penting bernama hikmah.

Bagaimana mereka memberikan contoh untuk Kita pemahaman ilmu dari sisi manusianya. Sehingga keluhan-keluhan Kita terhadap generasi bangsa hari ini, rasanya belum ada apa-apanya.



Sebutlah Ibrahim As dengan Hajar dan Ismail. Bisa dihitung dengan jari sebanyak apa Ibrahim membersamai anaknya.
Ketika Sarah cemburu, Allah memerintahkan untuk Ibrahim membawa Hajar dan Ismail yg masih bayi dari Palestine negeri subur dengan kekayaan alamnya ke negeri tandus Mekah yg hanya terbentang padang pasir. Ketika Ibrahim hendak pergi, Hajar bertanya : "Hendak kemana ya Ibrahim?" Ibrahim diam. Bertanya lagi, Ibrahim diam. Bertanya lagi Ibrahim masih saja diam. Hingga Hajar menggantinpertanyaannya : "Apakah ini berasal dari Tuhanmu?" Maka Ibrahim menjawab : "Ya, ini dari Tuhanku."

Maka dengan ketauhidan Hajar pun bertawakal dan menerima keputusan ini.

Kemudian pertemuan kedua, Ibrahim mengunjungi Ismail dan tiba2 hendak menyembelih putranya itu. Perhatikan, jika Kita manusia biasa, sudah ditelantarkan lalu tiba2 hendak menyembelih? Apa yg biasa dilakukan? Ngamuk, histeris? Namun berbeda dengan yg dilakukan oleh Ismail, dengan pendidikan tauhid dari Ibunya lah, Ia  mampu bertanya sebagaimana Ibunda Hajar bertanya saat perpisahan itu.

"Apakah ini perintah dari Allah?
"Ya, ini perintah dari Allah."
"Maka laksanakanlah wahai, Ayah."

Masya Allah, merinding? Ya, harga dunia dan seisinya bahkan tak ada apa-apanya dibanding taqwanya seorang anak yg dididik dengan ketauhidan.

Hikmahnya, Allah jadikan peristiwa itu sebagai perintah Qurban saat idul adha.

Kemudian yg ketiga, Ibrahim datang ketika Ismail sudah menikah. Namun ketika Ibrahim datang, Ismail sedang tidak ada di rumah, yg ada hanya istrinya.

Lalu Ibrahim bertanya, "Bagaimana kehidupanmu bersama suamimu, anakku?"

"Selama aku menikah, keluarga kami susah, selalu kekurangan, blablabla."

Lalu Ibrahim menyampaikan pesan kepada Ismail melalui istrinya yg berisi : "Gantilah palang pintu rumahmu." Yg artinya Ibrahim menyuruh agar Ismail menceraikan istrinya. Seketika itu juga Ismail menceraikan istrinya.

Selanjutnya ketika Ismail menikah dengan istri barunya. Ibrahim datang  ketika Ismail sedang tidak ada lagi.

Bagaimana kehidupanmu dengan Ismail?

Istri Ismail menjawab : "Kehidupanku dengan Ismail sangat bahagia." Yg intinya tidak ada keluh kesah dari istrinya Ismail.

Ibrahim menitipkan pesan lagi :"Jagalah palang pintu rumahmu." Yg artinya Ibrahim menyuruh Ismail untuk menjaga Istrinya itu.

Masya Allah, betapa dialog Ayah dan Anak yg sangat minim namun mampu menggetarkan iman. Kuantitas kebersamaan Ayah dan anak pun sangat terbatas. Tapi lihat Ismail tumbuh dengan keimanan yg kuat.


Maka dapat disimpulkan, tidak ada alasan bagi ketidak sempurnaan keluarga, misalnya ditinggal oleh suami karena meninggal atau LDM dengan suami sehingga mengakibatkan Kita berhak mengeluh bahwa kesalahan pendidikan anak kita berasal dari ketidak sempurnaan hidup yg kita jalani. Mari berkaca pada kisah ini bahwa Ibu adalah madrasah utama untuk anak benar2 diberlakukan oleh Hajar pada Ismail. Ismail bertaqwa bukan karena Bapaknya melainkan karena Allah nya, yg didalamnya diturunkan nilai-nilai pendidikan seorang Ibu.

So, Para Ibu yg LDM, katakanlah pada anak2 kalian : "Ayahmu itu orang hebat Nak, Ia mampu belelah-lelah dan menahan rasa rindu untuk menafkahi kita. Demi apa? Demi apa yg Allah perintahkan dan cita-cita besar kita ke depan." Ya, katakanlah kekaguman pada suamimu agar anak pun kagum dengan sosok Ayahnya yg waktunya terbatas. Yakinkan mereka bahwa Ayah nya berjuang demi kemaslahatan. Yakinkan bahwa Ayahnya selalu menyayangi anaknya karena Allah... Itulah fungsi Kita sebagai kaum hawa meletakkan Suami sebagai Qowwam, agar izzahnya senantiasa terjaga. Pun begitulah yg diajarkan Hajar pada anaknya, Ismail.

Wallahu'alam Bishaab

1 comment:

  1. Hai, Mbak. Luar biasa caranya mengajari hikmah dari sikap agung teladan-teladan kita pada anak-anak. Kisah Nabi Ibrahim AS dan anak-anak beliau juga jadi cerita favorit anak-anakku. Mereka paling penasaran di bagian, kenapa Nabi Ibrahim mau saja disuruh nyembelih anaknya.

    ReplyDelete