Monday, January 25, 2016

Club Novel, Perubahan Itu Bermula


Memasuki ranah komunitas berarti memasuki ranah sosial, bagaimana membangung komunikasi dan membawa diri. 

Saya termasuk tipe orang cuek, enggan pura-pura baik jika memang saya tidak suka, dan tidak memiliki kecakapan dalam membangun persahabatan jika memang tidak cocok. Harus ada semacam kejadian yg membuat hubungan itu seru dan mengalir. Jika baru saja bertemu kemudian langsung sok akrab, emmm sepertinya 100% itu bukan karakter saya. Entah itu kutukan atau anugerah, yg jelas saya mengamini bahwa itulah pribadi saya.

Awalnya menulis hanya sekedar curhat buku diary kemudian saling tukar-tukaran diary. Dan itu berlanjut hingga saya menginjak SMA. Ada lomba menulis surat untuk Wali Kota. Saya memberanikan diri ikut. Masuk dalam ruang ber-AC, dengan puluhan siswa-siswi peserta lomba, dan pena yg tak mau dihentikan lajunya. Semuanya mengalir bagai curahan isi hati yang tak terbendungkan. Seminggu kemudian pengumuman itu muncul, saya berhasil meskipun hanya juara 2 ketika itu. Alhamdulillah. Disitulah awal saya memiliki Handphone. Bahagia? Tentu

Tak berhenti sampai disana, para panitia lomba mengundang para juara menulis untuk bergabung di komunitasnya. Saya pun datang dan melihat ada nilai ruhani yang saya rasakan damai dalam menikmati setiap pertemuannya.

Setelah beberapa kali ikut, saya tahu nama Komunitas itu adalah Forum Lingkar Pena (FLP), komunitas kepenulisan yang mendunia. Pendirinya sudah tak asing lagi tentu dijagad kepenulisan.

Hijrah ke Bekasi membuat saya linglung bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Jiwa saya haus akan kedamaian yg saya rasakan dulu di FLP Subang. Akhirnya saya mencari FLP Bekasi and I got it! 

Singkat cerita, bergabunglah saya disana. Saya menemukan jiwa-jiwa yg hilang itu. dan mengemasnya untuk lebih percaya diri bahwa saya mampu berbicara di depan banyak meskipun itu orang baru.

1 tahun saya mengikuti FLP Bekasi, 1 tahun itu pula saya terkenal pendiam. Padahal jika ada orang yg sudah kenal saya aslinya Euuuh pasti pada protes.

Lintas Generasi, Lintas Profesi

Namun entah dalam pertimbangan apa, Mba Vira (Elvira Suryani) memilih saya untuk mendampinginya sebagai sekertaris. Saya pasrah, bismillah… Anak kampung apa salahnya memiliki amanah yg terkenal wow itu. sementara tulisan saya ketika itu, masih begitu-begitu saja belum beranjak berupa artikel di majalah ataupun buku. There is nothing something worth.

Pada kepemimpina mba Vira, ada program kepenulisan khusus untuk yg mau menginjakkan karir kepenulisannya di ranah Fiksi. Tersortilah orang-orang pilihan yang menjadi awal perubahan itu bermula. Mentornya Mas Sakti Wibowo, penulis senior yang karyanya sudah malang melintang baik itu di media masa, berbentuk buku dan scenario di TV. Keren? Pasti!

Ngumpul Selepas Pelatihan

Sementara orang pilihan itu adalah Mba Vira bu ketu yang bijak, Pak Sudi kepala sekolah yg jika sudah bicara prolognya bagaikan air mengalir sampai jauuuh, mas Adi si jutek bendahara galak, mas Beni si pendiem namun care, mas Ali si romantis yg cool, Mba Nisa si bayi yg masih ngedot wkwkwk (sungkem), mba Erna Neng Lisojung si Japanese yg calm, si Bundel April si Bunda yg enerjik tapi tetap bijak jika kasih nasihat dan Mba Mendol si jutek yg ceplas ceplos nan gokiil, ahaha… 

Jujur, saya masih malu-malu dan enggan terlalu dekat dengan orang-orang ini. Saya hanya bisa berkomunikasi lancar dengan mba Vira, karena ketika itu intensitas ketemu kami bisa dibilang sering.  Namun seiring berjalannya waktu, latihan per latihan, seasion per sesioan, selalu saja ada adegan menggelitik disela-sela pelatihan yg membuat kami terbahak dan merasa nyaman bagaikan menemukan keluarga kedua setelah orangtua sendiri. Apalagi saat itu saya di Bekasi seorang diri tanpa orangtua dan sanak saudara. Yup, FLP Bekasi merupakan rumah tersendiri.

Diskusi kami lumayan alot masalah draft dan outline yang telah masing-masing dari kami membuatnya. Mulai bagaimana alur, penokohan, setting, surprise ending dan hal-hal lain yg dicontohkan oleh Suhu Sakti Wibowo.

Meskipun begitu, kami jadi tahu teknik menulis novel yang bagus itu bagaimana. Dari referensi ke referensi pun kami jabani. Hingga novelnya Dan Brown yg super tebel itu, saya sampai garuk-garuk membacanya. Pura-pura mengerti padahal dong-dong, ahaha…

Setelah diterapkan memang efeknya jauh lebih mengesankan dibanding outline kami yg sebelumnya.
“Masuklah kedalam tokoh yg kita buat. Maka novel tersebut akan hidup dan menjiwai.”

Karena ketika itu saya sedang merancang novel tentang si Bintang, bocah cilik miskin yang ingin jadi astronot namun terkendala oleh besarnya biaya, kemudian dihadapkan dengan si Circinus yg serba ada. Jadilah saya terbawa arus, menjiwai benar sosok Bintang, hehe… Namun kemudian ditengah jalan ketika ganti kepengurusan, saya diamanahi menjadi Kepala Sekolah Pramuda yg mengatur pelatihan-pelatihan pramuda, novel itu berhasil ditulis sampai halaman 100, tinggal sedikit lagi mengejar angka 150 halaman namun dijalan takdir berkata lain, novel itu termakan virus dari FD yg baru saja dibeli. Aaak, bagai tersambar petir disiang bolong, huhu…

Musim berganti, hari berlalu, kami pun jarang bertemu namun kekeluargaan kami tetap menyatu. Dari beragam profesi, suku dan passion masing-masing, kami tetap dipertemukan oleh satu kekuatan yaitu Caring. Saling peduli, saling menyemangati, saling sharing suka duka, saling membantu ketika ada yg kesusahan, bahagia ketika ada kabar gembira, semuanya klop menjadi satu kesatuan keluarga Club Novel FLP Bekasi..
Apakah lantas dengan itu novel kita rampung? Tidak! :D Justru karena novel tak rampung-rampung, kami tidak seperti monyet ngegulung-gulung kelapa, kami move on pada non fiksi. Membuat banyak buku antologi dan yg terakhir adalah antologi Super Father, saya membuat buku solo tentang IT apps dan add-ons, mba Miyo menelurkan banyak buku tentang akuntansi dan self improvement, mba Manda nerbitin buku tentang hal-hal gokil, bundle April nelorin buku parenting dan komunikasi, Mba Erna dengan brand Mom Blogger nya, Pak Sudi dengan kepemimpinannya yg melejit di FLP Wilayah Jakarta dan lain-lain yang semuanya berkarya nyata, berkibar di dunia kepenulisan, tidak ada yg terkecuali! Ya meskipun itu baru awal namun tidak ada langkah selanjutnya jika kita tak memulainya, bukan? The Journey of a thousand miles, begins with a single step, kata pak Leo.

Beberapa buku kami..Karya adalah bukti kerja nyata dan perubahan itu sendiri.

Ya, perubahan itu berawal dari Club Novel FLP Bekasi. Terimakasih telah menginspirasi, terimakasih telah memberi arti. From zero to hero. Dan nilai plus dari ini semua adalah persahabatan yg tulus dan tak lekang oleh waktu. Meski kami telah banyak yg merantau mengikuti suami (termasuk saya), namun nyatanya kami tetap satu keluarga FLP Bekasi.

Memang benar rezeki itu ketika mengejar disatu sisi (contoh buku novel) justru datangnya dari sisi lain yg tidak pernah disangka-sangka (contoh buku non fiksi). Seperti zam-zam yg memancar di kaki Ismail…
Rezeki datang dari arah yg tidak terduga.

Maka berkarya sajalah, menulis sajalah biar Tuhan yg menentukan dari mana pintu itu akan dibuka.
Seperti slogan FLP, Berkarya, Berbakti, Berarti! Yosh, hidup hanya akan percuma tanpa itu semua.


http://emak2blogger.com/2016/01/20/lomba-blog-4tahunkeb-dan-xl-berhadiah-lebih-dari-rp-10-juta/

22 comments:

  1. lingkar pena apakabar ya sekarang?
    dulu suka buku bukunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. kabarnya makin keren pastinya mba nin, ahaha :p
      iya buku2 FLP emg keren2 sih, wkwkwk, FLP lho yaa :D

      Delete
  2. Semoga semangat nulisnya bis anular ke saya ya mbakk.. tetap semangatt :)

    ReplyDelete
  3. Wah, pasti senang banget kalo ada club kaya' gitu di sini. Sayangnya gak ada. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang dirimu dimana mba? iya Alhamdulillah bangeet

      Delete
  4. Replies
    1. yg mana? udah ganti soalnya FB ada tuh yg update...

      Delete
  5. uhuy, yang ikut FLP. tahun ini mau nulis buku lagi, mba?

    ReplyDelete
  6. Senangnya bisa berada dalam satu wadah dengan orang-orang yang memiliki energi sama dan semangat sama dan semuanya memiliki karyanya sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, Alhamdulillah... Dan yg terpenting kekeluargaannya itu lhooo :)

      Delete
  7. it's good to see you all gathering :D hello !

    ReplyDelete
  8. Setuju banget sama kalimatnya mbak,"Maka berkarya sajalah, menulis sajalah biar Tuhan yg menentukan dari mana pintu itu akan dibuka" saya jg duĺu ikut milis flp.. tp silent reader aja hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, iya mba, ayok aktif lagi yuuuk, gabung langsung di cabang domisili masing2 :)

      Delete
  9. Terharu bgt bacanya. kapan reuni sambil bawa karya novel masing-masing *nutupinmuka *ingetsuhujendral

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk, rasanya pengen lari klo ingat suhuu... hufffh benar2 ya kita ini, pada bandel -_-"

      Delete
  10. Aku punya tuh buku-bukunya, tapi nggak ada aku di foto huh ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, tar aku edit ya, biar ada nyempil fotomu :D :P

      Delete
  11. Terima kasih sudah berpartisipasi ya :)

    ReplyDelete
  12. wah keren mba :D ternyata karya yang tidak selesai bisa membuat kita untuk menulis karya lain yang selesai ya? makasih sharingnya :D

    ReplyDelete