Wednesday, February 14, 2018

Tegas Menghadapi Orang Yang Selalu Merasa Kurang


Diberi Hati Minta Jantung!

Familiar dengan kalimat tersebut? Akhir-akhir ini saya sedang ingin teriak kalimat tersebut pada seseorang.

"Diemin aja Shine kalau dia ngoceh ini itu. Minta ini itu. Ngeluh ini itu. Begitulah sikapnya dari dulu. Tapi saudara tetap saudara kan." Ucap mertua ketika saya main ke rumahnya.


"Emang masalahnya apa sih Mah? Kok bisa segitu ngeluhnya. Perasaan makanan banyak. Uang ada, rumah ga ngontrak. Apa lagi?"

"Masalahnya ya kurang bersyukur, nak..." Jleb bener kata Mamah mertua, orang yang kufur nikmat mau harta melimpah sebanyak apapun ga akan pernah puas, nafsu terus yang dituruti, mending kalau usaha ini tidak."


"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". -Qs. Ibrahim Ayat 7.

Hal tersebut, baru saya aminkan ketika suami tiba-tiba pulang subuh dari mesjid lalu berujar : "Ay, aku pengen curhat sama kamu. Soal si Bibi C."

Langsung semua perhatian, saya fokuskan ke suami.

"Jadi intinya dia minta agar suaminya kerja dan digaji terus minta ruma?." Kata saya menyimpulkan, hasil panjang lebar suami cerita.

"Iya."

"Terus kamu bilang apa? Jangan terlalu baiklah sama orang harus tegas! Ini kita baru mau hidup lho, kok enak banget ngomong minta suaminya digaji dan rumah."

"Iya, aku pun tegasin kok. Kalau itu aku ga bisa. Hanya sebatas inilah kemampuan ku. Yang minta-minta untuk tinggal di kantor kan juga dia, aku ga pernah minta. Tiap hari untuk masak, aku bayar. Belanja sayuran juga uang dari aku. Itu kantor listrik, air semuanya ditanggung kantor, dia cukup nempatin aja. Motor juga kemaren aku kasih, ya keluarlah suaminya jangan di rumah terus, cari pekerjaan di luar."

Errrr, mendengar hal tersebut Saya bertaring. Ya wajarlah ya kesel, kok ya ga bersyukur banget. Semuanya difasilitasi, sudah dikasih kok ngelunjak. Maaf-maaf ya meskipun saudara (jauh), kalau tolak ukur yang harus dibantu itu adalah harta, maka banyak yang lebih membutuhkan dibanding si Bibi sama suaminya.

Anak juga katanya pada sukses, kok ya melimpahkan tanggung jawabnya sama orang lain. Pengen ngunyah pempek deh jadinya, hufffh...

Ini kamu lagi ngeluh Shine? Iyaa, dari pada mendem mending dituliskan ya dibanding jadi penyakit, biar ploong.

"Terus dia ngancam, kalau ga ya Bibi mau pergi ke anak bibi aja."

"Ya sono giiih pergi!" Saya menanggapi, memotong pembicaraan suami. Kezzeeel.

"Sabar oiii, wkwk. Aku pun bilang kok, ya silahkan bi, saya ga akan melarang, yang minta untuk tinggal disini kan juga Bibi." 

"Good! Itu baru namanya tegas, say! " Saya nepuk-nepuk bahu suami.

"Mending gini aja sekarang mah, curhat aja sama mamah kamu. Mamah kamu kan sudah sepuh pasti didenger omongannya." Imbuh saya mengakhiri pembicaraan di pagi itu.

Selang beberapa hari kemudian, Kami main ke rumah bumer. Apa reaksi bumer ketika mendengar curhatan suami?

Marah abis!

"Nak, kamu tuh ga bisa sepenuhnya kayak Nabi Muhammad Nak. Jangan  terlalu baik sama orang, nanti pada ngelunjak. Jangan mandang dia saudara Mamah, Nak. Udah bilang aja No No No... Itu rumah yang ditempati, kalau ngontrak 6juta per bulan, helloooo." Kata Bumer ekspresif sekali, sambil goyang-goyang jari dan kepala,  saking kesel, wkwkwk... Saya langsung ngakak.

"Sebatas itulah yang mampu Aam bantu, gitu. Harus tegas, nak! Kalau dia mau keluar silahkan, dengan senang hati, jangan larang-larang..."

Aih klop banget ni si bumer, sependapat, kereenlah emang, haha karena kita wanita kali ya...

"Iya Mah, Aam juga mau ngasih kerjaan ke suaminya juga bingung, tipikal bosy, belum bisa jadi pekerja begitu. Takutnya nanti yang ada Aam yang disuruh-suruh. Itu kan udah ada motor, ya keluarlah jangan di rumah terus. Konsep rezeki kan dijemput, soal Allah mau ngasih dari pintu mana, itu udah beda urusan." Kata Suami lagi.

Dan diskusi pun berakhir pada kesimpulan : Tegaslah pada mereka yang dikasih hati minta jantung! 

Ya karena terkadang, ada saja yang memanfaatkan kebaikan demi memenuhi nafsunya semata. Sementara mereka tidak pernah mikir, yang dimanfaatkan juga sedang berjuang ketar-ketir untuk hidup dan menghidupkan banyak orang. 

Semoga Kita dihindarkan dari sifat meminta-minta ya. 

"Barangsiapa meminta harta benda kepada orang lain dengan tujuan memperbanyak (kekayaan), maka sebenarnya dia meminta bara api, oleh karena itu terserah kepadanya mau memperoleh sedikit atau memperoleh banyaknya.” (HR. Muslim: 1041)

Pesan moral : Tabiat manusia tentu berbeda satu sama lainnya. Yang jelas ketika menghadapi orang seperti di atas, hendaknya Kita bersikap tegas namun sabar pada pukulan pertama. Ya karena tegas bukan berarti harus disampaikan dengan cara marah-marah, lebih kepada kalimat yang dipilih dengan penekanan. Jika masih tidak didengar, mintalah bantuan pada yang lebih bijak.

Selamat mengarungi asam, asin, manis, pahit, nano-nano kehidupan 😂 *ngomong sama kaca*

1 comment:

  1. iya emang kudu digituin mba karena semakin dituruti kemauannya maka semakin melunjak duh gemes deh rasanya kalau dan nemuin yang begitu hehehe

    ReplyDelete