Wednesday, May 17, 2017

Mempersiapkan Balita Menjadi Kakak

Bismillah...


Tidak mudah memang ketika memiliki balita dengan jarak berdekatan. Baik dari sisi saya sebagai orangtua maupun si anak. Karena secara sikologis, mau tidak mau sang anak akan terpecah perhatiannya. Bukan kehendak saya jika ternyata saya dikarunia anak dengan waktu berderetan. Anak pertama 4 tahun, kedua 2 tahun dan sebentar lagi akan launching baby newborn. 

Kadang saya sudah tidak lagi merasa heran ketika tatapan atau komen-komen asal yang nemplok di telinga saya. Baik dari mulai Memangnya ga KB? hingga candaan yang sama sekali ga lucu : Rajin amat! Kalau sudah begitu, saya lebih baik memilih inhell-exhell aja lah. Dibawa enjooy, yes! Menimbulkan positive parenting pada diri bahwa Ya, inilah jalan yang harus saya perjuangkan untuk kemudian akhirnya dijalani dengan sebaik yang saya bisa usahakan. 

Lalu, bagaimana saya mempersiapkan para balita itu menjadi seorang kakak? Saya bukan ahli parenting ataupun orang dengan kapasitas yang dapat dijadikan contoh. Namun, cara yang saya pakai semoga saja bisa juga diterapkan oleh para Bunda yang sedang hamil dan memiliki anak balita. 

Here we go...

1. Perkenalkan si kecil dengan sang bayi

Memperkenalkan si kecil dengan adanya bayi dalam perut merupakan langkah awal memberi pemahaman bahwa dalam waktu yang akan datang, akan hadir adiknya yang mejadi saudara baru dan anggota baru di keluarga.

Ajak si kecil untuk menyapa dan mengelus perut kita yang buncit. Dan ya, ketika mereka bertanya : Kok perut Umi besar sekali? Maka perkenalan pun akan berlanjut bahwa di dalamnya ada sosok bayi yang akan menjadi adiknya.

2. Latih Kemandirian

Pelatihan kemandirian ini dilakukan dari hal yang kecil saja. Seperti makan sendiri, minum ambil sendiri, cebok sendiri yang diawali dengan kelulusan Toilet Training. Pembiasaan ini nantinya akan berdampak pada kemandirian si anak dan mempermudah gerak oangtua ketika nantinya si bayi lahir.

Hal merepotkan seperti ingin membantu cuci piringlah atau pekerjaan dapur lainnya. Selama tidak membahayakan dan dalam pengawasan, persilahkan saja. Dari sini anak akan terbiasa membantu bila Ibu atau Ayahnya sedang kerepotan. Ini berlaku untuk beres-beres mainan juga ya. Saya selalu mengingatkan : Yo ayo bertanggung jawab, selepas main diberes? kaaan...

PR terbesar saya adalah Fathan, anak pertama. Yang kadang sering moody. Apalagi ketika berkunjung ke rumah orang, manjanya pasti keluar. Makan saja minta disuapin. Tapi namanya proses, jalani sajalah dengan enjoy ya...

3. Pemahaman How Tobe

Berikan pemahaman kepada anak bagaimana menjadi kakak yang baik. Saya biasa membuat simulasi bermain menggunakan boneka-bonekaan. Dari sana kita bukan hanya sekedar have fun melainkan bercerita dan bermain peran. Siapa menjadi Ibu, siapa menjadi kakak dan apa tugasnya.

"Mi, boleh ga Fathan ganti popok dedenya?"
"Boleh tapi nanti kalau dedenya sudah agak besar ya..."
"Tolong ambilkan minyak telon saja ya buat dede."
"Baik, siap mi!" Dengan gaya ala tentara.

Ya dengan kata tolong pula, kini Fathan dan Nusaiba jika dimintai tolong dengan sigap akan membantu. Tapi ya itu, ketika mereka kondisinya tidak lelah. Kalau sudah lelah? Ya jangan dipaksa. Biasanya ditandai dengan kalimat : Fathan capek, umi kan punya kaki sama tangan. Ambil aja sendiri ya... ahahaha...

4. Mulai Memisahkan Kamar Anak

Jika kita memiliki ruangan kamar berlebih, sebaiknya mulai dari sekarang memisahkan anak-anak untuk tidak lagi tidur bersama kita. Tidak mudah memang, namun seiring berjalannya waktu pasti mereka pun akan terbiasa. Saya belum mempraktekannya langsung sih. Hanya saja saya sudah memberikan ruang dan wacana dengan bercerita terus menerus bahwa kamar Fathan yang itu ya, Nusaiba yang ini, Nah nanti kalau dede dalam perut lahir, Umi, Abi sama dede tidur disini.

Fathan sudah bisa merespon : Oke mi, tapi nanti kan mi kalau dede dalam perut lahir. Sekarang bobonya mau dipeluk umi dulu ya. Sambil cengengesan.

5. The Right Man On The Right Place

Artinya kita tahu menempatkan posisi si anak. Inilah usaha terbesar kita agar kelak nantinya si anak tidak merasa mendapatkan perlakuan ketidak adil dari kita. Tidak membeda-bedakan dan tentu menganggap mereka semua istimewa. 

Ya tentang adil ini, kita harus benar-benar hati-hati menjalaninya. Karena dampaknya akan luar biasa bagi jiwa si anak.

Saya merasakan betul ketika Fathan cemburu terhadap adiknya. Semua barang yang dipegang adiknya, ia rebut. Memperlakukan adiknya sebagai musuh. Jika pada anak kecil lain, ia ngemong sekali dan jika pada adiknya malah sebaliknya. Dari sini, anak harus buru-buru diajak ngobrol empat mata. Akhiri diskusi empat mata itu dengan pelukan dan pernyataan bahwa kita sangat sayang padanya.

Nah, bagaimana Bunda? Pekerjaan mengurus, mendidik dan mendampingi anak dengan jeda berderatan memang pekerjaan yang melelahkan ya. Namun, kita tidak ingin bukan pada akhirnya kelak justru kelelahan itu hanya tinggal kelelahan saja, tidak memberikan dampak apa-apa. Maka dari itu, mari bekerja untuk investasi dunia-akhirat kita dengan ikhlas dengan lillahi ta'ala. Bangun jiwa mereka agar tidak rapuh dengan keberadaan orang ketiga (adiknya).

2 comments:

  1. Iya betul banget, perlu dipersiapkan psikologis si kakak ya jelang adik lahir

    ReplyDelete
  2. Hahaha, saya dulu pernah waktu punya adik jadi cemburuan. Namun sekarang malah jadi sayang banget, hehehe

    ReplyDelete