Monday, May 2, 2016

Jadilah Agen Perubahan #BeliYangBaik Untuk Masa Depan Cerah

22 April 2016 bertepatan dengan hari bumi, Unilever beserta WWF menggelar talkshow bertema #beliyangbaik untuk lingkungan yg lestari. 

Acara dimulai dengan perkenalan para narasumber dan prolog yang dibawakan oleh host kondang, Gerry Atmaja. 

Bahwa 4% penyumbang efek rumah kaca paling besar yaitu negera kita, Indonesia. Banggakah kita? Tentu tidak bahkan sebaliknya. Dan apa yang telah kita lakukan sehingga menjadi salah satu penyumbang efek rumah kaca ini? Awareness, bahwa kesadaran kita terhadap lingkungan  hanya 5,7% yang artinya masih jauh dari kata baik.
Mungkin kita bertanya, memang dampak dari semua ini bermuara pada siapa? Sementara saat ini kita masih nyaman dengan keadaan yang fine-fine saja. Efeknya adalah pada generasi penerus kita, anak cucu di masa mendatanglah yang akan merasakan dampak dari ketidak pedulian kita terhadap lingkungan. 

Wah, menyeramkan sekali ya…

Sebelum memulai acara, video The Value of Chain pun diputar. Persentase demi persentase bermunculan. Saksikan dulu yuk videonya..


Diketahui untuk Bahan baku = 26%, Pabrik = 3%, Pengguna : 68%

See?
Selama ini kita mengira bahwa penyebab kerusakan alam yang terjadi adalah karena berasal dari Pabrik, entah itu polusinya, limbahnya, dllnya, namun  ternyata pangkal permasalahan terbesar adalah ada pada kita selaku konsumen! Iya jika yang menggunakan suatu produk hanya satu dua orang, jika puluhan ribu bahkan puluhan juta orang? Disinilah, peranan kita sebagai konsumen dengan bijak membeli produk yang baik dipertanyakan! Itu artinya keputusan membeli berpengaruh dalam skala besar.

Kiri-Kanan : Mba Mia, Mba Dewi, Mba Nola

Konsumen Membeli Unilever Bertanggung jawab!

Diawali dari mba Maria Dewantini sebagai pihak Unilever. Cerita dimulai dari sebuah program campaign yang telah kita kenal yaitu Brightfuture.  Adalah program yang mengusung bahwa masyarakat harus mempunyai masa depan cerah. Setiap orang memiliki hak untuk masa depan cerah. Dari Lembar Fakta didapat bahwa Kampanye BrightFuture merupakan pengejawantahan dari Unilever Sustainable Living Plan (USLP), strategi yang diluncurkan secara global untuk menumbuhkan bisnisnya seraya mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan serta meningkatkan dampak positif bagi masyarakat. Kampanye ini diluncurkan sejak tahun 2013 yang diselenggarakan di 6 negara besar, antara lain Indonesia, Amerika, Inggris, India, Brazil dan Afrika Selatan.
“Kita boleh memproduksi banyak produk, tapi kita kita pun memikirkan efek lingkungan lebih tinggi, seperti limbah, misalnya.” Ujar Mba Mia dengan penuh semangat.
Seperti dikatakan sebelumnya, setiap Brand harus bisa berkembang dengan catatan dampak terhadap lingkungan ditekan seminimal mungkin. Oleh karena itu, Unilever sendiri harus bertanggung jawab atas setiap produk yang ia luncurkan.
Dan itu benar-benar dilakukan oleh Unilever lho. Mereka memikirkan, bagaimana caranya agar target mereka kearah masa depan yang cerah dapat terealisasi.
Unilever melakukan mapping dari mulai hulu :
  •           Bahan baku
Penting sekali untuk pemilihan bahan baku yang tidak merusak lingkungan. Salah satu produk sabun Unilever menggunakan minyak sawit contohnya.
  •          Proses produksi
Bagaimana menekan seminimal mungkin limbah dan polusi dari Pabrik.
  •          Kirim
Bagaimana standard aman terhadap produk bisa terjaga dalam pendistribusian.
  •           Pakai
Disinilah pemakaian oleh konsumen merupakan pengaruh besar terhadap lingkungan. Terus salah gue gitu? Artinya kita dituntut untuk lebih cerdas membeli yang baik dan kreatif dalam penggunaan dan manajemen sampah kemasan. Ga rugilah ya demi masa depan cerah. memang butuh effort jika ingin serius kea rah lebih baik.
  •           Kemasan Recyclable
Kemasan yang bisa diolah. Sehingga meminimalisir dampak emisi terhadap gas rumah kaca.
Setelah memetakan proses pertanggung jawaban Unilever terhadap sebuah produk, akhirnya kita ketahui (sekali lagi) konsumenlah akar permasalahan terbesar penyumbang terhadap dampak negative lingkungan. PERILAKU KONSUMEN. Dimana kesalahan terbesarnya? Yaitu ada pada kemasan. Jadi sebisa mungkin, hindarilah pembelian yang ber-sachet.
Memang jika dilihat dari segi harga, mungkin, kita sebagai konsumen lebih memilih sachet dibanding botolan karena terjangkau. Namun dampaknya? Duh, nyampah banget  yaa, ga kece deh!
Kemudian bagaimana jika kita tidak mampu membeli? Hal ini pun sedang dipikirkan oleh pihak Unilever. Memang kemasan besar itu dianjurkan bagi konsumen dengan daya beli yang cukup.
Lalu bagaimana sih caranya biar kita bisa #beliyangbaik? Yuk cari tahu!
Zaman sudah canggih, fasilitas sudah mumpuni, saatnya bertanya dengan cari tahu, bisa melalui layanan Consumer, media social  atau website-nya langsung.
Maka Lebih bijaklah dalam #beliyangbaik karena konsumen sebagai penentu! 

Sumber : WWF

Saatnya WWF Turun Tangan

Nah kali ini, memasuki pembicara yang ke dua yaitu Mba Dewi Satriani dari WWF.
Apa hubungan WWF dengan beliyangbaik? Sementara kita tahu logonya WWF sendiri adalah panda yang berarti mengurusi para binatang, lantas kenapa tiba-tiba berkampanye #beliyangbaik ya? Ada apakah gerangan?
Ternyata… Konsumsi para konsumen selama ini dampaknya sampai pada hutan. Pohon-pohon ditebang untuk produksi tisu, kertas, dll… WWF berang donk karena para raja hutan tidak memiliki tempat tinggal. Kita tahu sendiri bahwa di pohon-pohon itulah para binatang bermukim dan melakukan aktivitas. 
WWF lobi dengan para penebang hutan : eh tolong donk jangan nebangin hutan, namun ternyata tidak bisa karena kita butuh yang namanya tisu. Bilang pula dengan para produsen ternyata tidak bisa juga karena pasar memerlukan itu. hingga saatnyalah WWF mengedukasi konsumen bahwa beliyangbaik dunk, hemat penggunaan tisunya biar harimau kita punya rumah, ekosistem kita terjaga.
Lalu bagaimana cara WWF menghadapi konsumen yang acuh?
Consumer Power -> Ingatkan, dulu kita pernah dihebohkan dengan isu ozon yang bolong sehingga menggemparkan kehidupan umat manusia, dilanda was-was, gelisah dan rasa ketakutan. Itu baru isu! bagaimana jika hal tersebut terjadi pada generasi anak cucu kita?
Konsumen harus disadarkan dengan adanya kampanye #beliyangbaik ini. 
Yang harus dilakukan adalah #beliyangbaik dengan lebih bertanggung jawab
Jika memang mau Concern, konsumen justru harusnya minta, missal mobil yg hybrid, lampu hemat energy, menyuci sekali bilas, dll.

Peran Orangtua Sebagai Agen Perubahan

Mba Nola sebagai ibu dari penyanyi cilik Maura, berbagi tips cara edukasi kita terhadap anak.
Caranya :
  • Menggali informasi
Sebagai orangtua ga boleh gaptek, apalagi untuk masa depan anak dan lingkungan yg lestari. Cari tahu hal-hal dari produk yang ingin kita beli.
  • Effort
Orangtua harus memiliki effort, dari Hal kecil yang dilakukan secara konsisten sehingga tumbuh menjadi  besar menghasilkan masa depan yang lebih baik.
  • Edukasi ke anak sebagai seorang ibu
Dengan cara mengajarkan anak agar hemat dalam penggunaan air dan sabun, misalnya. Ia lebih memilih menggunakan ember dari pada shower yang cendrung boros.
Hmmm, Akan tetapi tidak mudah ya dalam prakteknya, kadang capek  menasehati berulang-ulang? Harus mau capek! Dan jadilah role model yang baik. Ingat, Children See, Children Do karena anak adalah peniru ulung.
  • Keinginan/tujuan yang sama
SIMPLE Tapi PENTING sebagai seorang agen perubahan kita harus menyakaman keinginan/tujuan dengan cara diskusi. Untuk mencapai apa yang ingin dituju, harus ada komitmen antara orangtua dan anak sehingga bisa menyamakan persepsi. Komunikasikan dengan baik, terus-menerus, perlahan namun pasti :D

Seseorang Harus Memulai!

Ya, seseorang harus memulai agar dunia melihat, terinspirasi, tercengang dan akhirnya berkontribusi menjadi agen #beliyangbaik. 
How? Ini dia cara agar kita sebagai konsumen sadar :
  •           Dari diri sendiri
Mulailah dari diri sendiri. Memang sih, biasanya memulai itu butuh perjuangan yang ekstra
  •           Memberi inspirasi
Seperti yang digalakan oleh Unilever  dengan menuliskan inspirasi, berbagi tips bagaimana  Anda melestarikan lingkungan di kolom comment status FB Unilever dengan #beliyangbaik. Ada hadiahnya lho, inspirasi terbaik akan mendapatkan voucher belanja senilai Rp. 100.000 di Hypermart.
  •           Share
Bagikan setiap kampanye kebaikan menjadi viral dan agar dunia melihat bahwa ekosistem akan terjaga jika kita menjaga.
  •           9 Produk Unilever
Menghadirkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan terus membantu menciptakan lingkungan yang lestari. Salah satunya dengan membantu para petani teh menerima upah yang layak. Jadi bukan hanya banyak produk yang diproduksi melainkan menebar manfaat bagi segala aspek pendukung terhadap proses produksi itu sendiri.
Dan 5 Hal penting yang harus diingat sebelum berbelanja agar beliyangbaik bisa tumbuh terbiasa :

     1.      Apakah fungsi produk sesuai dengan yang kita butuhkan?

Beli yang butuh-butuh saja, jangan karena berdasar kalap diskonan atau karena baru gajian, produk yang tidak kita butuhkan masuk pula ke keranjang belanja, mubadzir banget deh.

    2.       Dari mana bahan bakunya berasal?

 

Pilihlah bahan baku yang tidak merusak lingkungan. Produk yang sudah Certified Sustainable, Rainforest Alliance yang biasanya diberi tanda logo kodok pada kemasannya.

    3.       Proses produksinya seperti apa?

Cek apakah Produsen melakukan proses produksi secara ramah lingkungan?

    4.       Adakah Kontribusi atau edukasi produk terhadap masyarakat?


Contoh kontribusi air mineral yang membantu masyarakat Indonesia Timur. Kemudian mulai 21 April-17 Mei 2016 dari Unilever sendiri setiap pembelian produk Lipton, Bango, Lifebouy, Pepsodent, Domestos, Dove, Molto, Rinso dan Pure It varian dan ukuran tertentu di Hypermart  otomatis Kita telah mendonasikan  Rp. 1000 untuk program NEWtrees yaitu penanaman 10.000 pohon di Jakarta, Jogjakarta dan Tulungagung bersama WWF.  Atau Lifebouy telah lama mengedukasi masyarakat untuk cuci tangan pakai sabun. Hal ini tentu agar konsumen aware terhadap kesehatan dan pencegahan penyakit seperti diare. Tujuan yang baik pasti akan membuahkan hasil yang lebih baik.

    5.     Apakah kemasannya bisa didaur ulang? Recyclable?

Dari Unilever memiliki Komunitas Bank Sampah yang fungsinya mendaur ulang kembali sampah-sampah yang telah dipilih, sehingga sampah yang masuk pada TPA sangat minimal sekali.  
Nah itu ya, jika hendak belanja, jangan lupa ingat-ingat pesan Mama, eh tips 5 cara beli yang baik diatas maksudnya :D
Kalau saya pribadi sih, lebih ke mencatat apa saja yang akan dibeli :D, jika tidak begitu bisa bablas bahkan kadang terlupa dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan :D. Membawa catatan list belanja biasanya ampuh untuk menurunkan kadar lapar mata, kalap diskon serta menurunkan lupa ingatan list belanjaan, hasilnya membeli sesuai dengan yang dibutuhkan, jadi lebih hemat  dan praktis :D

Jadi sudah tahu kan Siapa orang yang paling berpengaruh di bumi?


 

Yuk Jadi agen perubahan #beliyangbaik dengan menjadi konsumen bijak! :)

6 comments:

  1. Aaah...terima kasih sudah mengingatkan. Sekecil apapun yang bisa kita lakukan...pasti akan berdampak besar suatu saat. Belajar juga jadi orangtua yang bijak, yang bisa diteladani anak-anak kita ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mak.. aamiin, semoga kita bisa jadi teladan yg baik untuk anak2 kita ya mak :)

      Delete
  2. hmm iya sekarang harus concern ke akibatnya ke lingkungan juga ya ne

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener bgt mbak, ga boleh egois lagi

      Delete
  3. Perlu dicatat dan dishare nih, jangan sampai anak-cucu tidak bisa merasakan kehidupan kita sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, kampanye kayak gini musti didukung dan dishare sebanyak-banyaknya :)

      Delete