Monday, July 18, 2011

Munawaroh -My Little Angel-


Ku perkenalkan pada kalian, seorang gadis cilik berusia 12 tahun, bermata sipit, berambut hitam dan tebal. Ini mungkin tidak ada kolerasinya dengan blogger mengenalnya atau tidak, namun yang ingin ku share adalah aku benar-benar belajar dari dia belakanga ini.
Pemikirannya masih polos dan itulah keistimewaannya. Dengan kepolosan yang ia miliki, aku belajar banyak hal dan aku semacam murid yang berguru pada sekolah kehidupan.
Terkadang, aku tertawa sendiri menyaksikan perkataan-perkataannya yang lucu  namun memang ada benarnya. 

Aku        : “Di SMP, prestasinya harus lebih ditingkatkan lagi…” Aku berbicara sesantai mungkin

Muna    : “InsyaAllah…” Senyumnya yang menenggelamkan mata sipitnya.

Aku        : “Harus punya harapan dan mimpi!”

Muna    : “Pastilah teh, tiap malem juga ena bermimpi!” Glodak! Aku benar-benar terbahak dengan gayanya yang watados. 

Aku        : “Bukan seperti itu maksudnya, namun impian! Sebuah target yang indah yang harus diwujudkan nyata, paham?”

Muna    : “Owh, cita-cita maksudnya?” Dengan nada polosnya.

Aku        : “Yupz, betul… Karena siapa yang menanam dia yang akan menuai hasilnya.” Aku serius.

Muna    : “Maksudnya apa sih the? Ga ngerti ena… Menanam? Menanam apa?” Ahahaha… Gemes rasanya, pengen ku jitak kepalanya jika aku tak sadar ia masih berumur  12 tahun. Bapakku pun ikut tergelak mendengarnya.

Bapak    : “Ga bakal ngertilah, orang anak baru lulus SD, hahaha… Jelasinnya yang real, jangan pake istilah-istilah kayak gituan, mana ngerti dia! :P” Huhu, iya juga sih…

Sepulang MOS, ia selalu bercerita tentang banyak hal. Aku  senang mendengarnya. Ya, jika ia sudah bercerita, aku hanya ingin menjadi pendengar! Entah kenapa, aku yang dasarnya cerewet, terbungkam begitu saja ketika ia bercerita. Barulah kemudian memberikan masukan, kritikan atau apapun setelah ia selasai cerita.

Pemikirannya lebih peka pada hal-hal yang berbau agama. Jika aku sedang tilawah, serta merta dia mepet-mepet dan mendesakku untuk membimbingnya ngaji. Over all, sudah tak ada masalah dengan tajwid dan tartilnya. Hanya saja, nada ngajinya masih biasa. Setelah itu, ia selalu memintaku untuk mengetesnya hafalan juz 30. Aku acak surat demi suratnya dan Alhamdulillah ia berhasil menuntaskannya.

Ya Allah, betapa aku bersyukur mempunyai adik sepertinya. Walaupun, sangat jarang aku membimbingnya selama ini, ia tumbuh begitu mempesona dengan sendirinya. aku titipkan ia pada Mu ya Rabb, jaga ia dengan penjagaan Mu yang sempurna.

Dan ketika masih masa orientasi siswa di sekolahnya berlangsung. Ada salah satu gurunya yang bertanya pada seluruh siswa.

“Siapa yang hafal surat Al-Qariah?”

Ia menunjukan tangan dan membacakannya dengan lancar, kemudian tepuk tangan dari seluruh siswa dan guru pun berdatangan. Jika dicermati,itu adalah hal biasa, namun pada kenyataannya keberanian ia yang pada akhirnya membuatnya menjadi luar biasa. Dari situlah, para siswa dan guru-guru barunya mengenalnya dan mengandalkannya. Hmmm, I’m so proud of you, sist

Dialah Munawaroh yang ketika ditanya cita-citanya apa, ia menjawab “Menjadi ustadzah!” Adakah selama ini, anak-anak pada umumnya ketika ditanya cita-cita ingin menjadi da’iah? Ada! Namun, sangat jarang! Itulah yang menjadi pembeda antara ia dan lainnya dan mungkin itu pula yang membuatku bangga mempunyai adik sepertinya...  


Someday, you will be better than me! I’m Promise!

No comments:

Post a Comment