Monday, March 7, 2016

Mendamaikan Yg Berseteru

Bismillah

Teman pernahkah kalian mendamaikan orang yg sedang ribut? Kalau saya barusan sekali, hihi...
 
Jadi ceritanya tuh ada warga kampung yg emang dari lahir down syndrome, yatim piatu, diurus oleh kakaknya yg perempuan. 

Dia memang bisa dibilang agak keterbelakangan
secara akal tapi kalau ke orang ya baik tidak pernah mengganggu, kecuali yg satu ini. Yaitu mengambil apa saja yg ada didepan rumah warga kompleks. Kadang suka minta duit untuk jajan juga sih.

Nah ceritanya, panggil saja yg DS itu Ida. Si Ida ini mengambil dompet milik salah satu warga komplek yg teledor, terlupa, naro sembarangan dimotornya digarasi. Si Ida ambil, kemudian dia lari terbirit-birit, ngumpet dibelakang rumah saya. Ketika saya tanya dia cuma jawab takut takut doank. Dan ketika saya hendak mengejar si Ida karena ketahuan bawa dompet, dia larii, saya yg posisinya bawa batita tak bisa lari sekencang dia yg sendiri.

Singkat cerita, warga kampung heboh, begitu "viral" informasi ini jika sudah menyangkut warga kampung.
Sebut saja Nina. Nina ini warga kompleks yg niatnya sih baik nolong tetangga tapi ternyata etikanya kurang dijaga ketika menemui keluarga Ida. Dia dengan lancang dan lantangnya berbicara bahwa Ida ini nyolong duit jutaan plus atm, dll... Hufffh, padahal dalam share saya terhadap warga kompleks via BBM Group tak pernah ada info mengenai nominalnya.

Kampung gempar, semua pada keluar.

Mba Ria, si korban, fokus mencari dompetnya karena banyak surat-surat penting. Dan Alhamdulillah ketemu, uangnya pun ketemu. Dan Case Closed.

Namun tiba-tiba, kakaknya si Ida datang nendang-nendang pagar kompleks. Marah, emosi, nunjuk-nunjuk.

"Mana tadi yg koar-koar kalau adik saya maling? Saya tahu adik saya begitu, ga waras, tapi tolong etikanya dijaga!!" Dia marah sekali... Marah semarah-marahnya. Saya yg kebetulan bersama Nina ketakuatan.

Tapi Nina malah melawan.

"siapa?" Kata Nina

"Ibu tadi ngomong ke orang-orang kampung sampe semua warga kampung keluar."

"Saya ga pernah bilang begitu. Dan emang adik lu nyolong. Mau gimana..."

Ngeloyorlah Kakaknya si Ida ini, pergi, menahan emosi.

Padahal dari si Korban sudah closed, anggap semuanya selesai. Karena apa lagi yg diributkan jika barang semuanya ketemu? Dan si Ida memang kondisinya begitu, tak bisa dipersalahkan.

Nina ini ternyata ga terima dilabrak kakaknya Ida. Dia memprovokasi warga komplek untuk mengundang kakaknya Ida, Pak RT, sampai saksi-saksi.

Runyem urusan deh mesti, pikir saya.

Namun satu kunci yg saya pegang ketika menghadapi orang yang berseteru adalah mendengarkan kedua belah pihak meluapkan perasaannya. Jangan memotong ucapan. Dan memberi masukan positif, cool down. Bahkan di hadist dibolehkan lho klo kita berbohong untuk mendamaikan perseteruan. Misal oiya ada salam maaf dari Bu Nina, blabla, padahal Bu Nina nya masih nyolot-nyolot aja, kekeuh ga mau ngaku klo dia yg menyebabkan kegemparan ini.


Akhirnya Pak RT, Security, warga kompleks (ibu-ibunya) kumpul, diskusi, mencari titik terang. Nina ceritalah kalau dia ga pernah koar-koar tentang lafadz "Maling" itu. Akhirnya pak RT menengahi.

Korban dan saya ditunjuk untuk menemui keluarga Ida di Kampung. Karena jika emosi bertemu emosi apa kabar dunia?

Bagaimana penyambutannya? Subhanallah, mereka respek, sopan sekali, tidak ada emosi terlihat, menerima kami dengan sebaik-baiknya. Yg semuanya akhirnya membuat kami terperangah bahwa ternyata memang Nina lah provokator, yg teriak-teriak bahwa Ida nyolong jutaan, sedang dikejar-kejar oranglah, mau ditangkap polisi dan bumbu-bumbu lainnya yg semuanya diteriakan dengan cara yg tidak beretika. Warga kampung mencapnya sombong sekali...

"Saya sadar teh, saya orang ga punya. Ga berpendidikan. Tapi saya punya nurani. Coba teteh kalau kondisinya di saya, sedang capek-capeknya pulang kerja, baru ngaso, ada yg teriak-teriak ga sopan adek lu maling jutaan tektek bengek, gimana rasanya teh? Kalau kayak teteh begini datang, salam, masuk, ngomong baik-baik, kan saya saya pun sopan, respek, ga seperti cara Ibu Nina itu ga punya etika!"

Gleekk!!!


Dari sisi warga kampung sih sudah oke, tak ada masalah. Amarah mereka adalah bentuk ketidak terimaan karena merasa dilecehkan dengan sikap sewenang-wenang Bu Nina ini, itu pointnya. Tidak lantas mereka memukul rata warga kompleks untuk dijadikan ancaman.

Masalah sudah clear, semua plong, kebenaran terungkap.

Nah, kini, saya bingung harus bilang apa besok sama si Ibu Nina ini. Karena karakternya memang ga mau disalahkan, menambah-nambahkan omongan dan egoisnya tinggi. Bukankah katanya, jika sudah menginjak usia 30 tahun keatas, prilaku kita itu sudah membentuk karakter yg sulit untuk dirubah? Ia yg dituakan maukah mendengar saya yg anak bawang ingusan? huhu

Tapi ya sudahlah, let it flow saja, besok saya tetap akan menyampaikan apa yg warga kampung rasakan. Itu saja...

Dari pengalaman ini saya jadi tahu betul bagaimana karakter seseorang...
Pun sadar ternyata selama ini warga komplek dan kampung telah diprovokasi..
Pun yakin bahwa menyampaikan kebaikan harus disertai dengan cara yg baik pula..

Hufff, drama bangeeet hari ini *ngelapkeringat

7 comments:

  1. Hhhh kehidupan ini gak bisa ditebak. Apalagi kalo punya tetangga macam itu. Harus banyak-banyak bersabar

    ReplyDelete
  2. ternyata drama kaya di sinetron ada yaaa

    di kampungku, byk ibu2 ceriwis gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyaaak banget mbaa, apalagi sekarang ini, huhu

      Delete
  3. shine kandidat bu RT berikutnya kayaknya yak... (apa sudah?) hihi

    ReplyDelete
  4. emosi dan emosi bertemu, apa kabar duniaaaa? hehehe

    ReplyDelete