Tuesday, October 27, 2020

Jangan Menangis Sayang

Ada yg dirasakan nyeri dihati ketika mengetahui orang yang selama ini menikahi ku, mencintai orang lain.


Apa aku harus lanjutkan demi anak2?

Atau aku mundur saja?

Sesungguhnya batinku menginginkan kesetiaan, hanya itu.

Namun kenapa ketika mengingatnya bahkan untuk bernafas saja rasanya sulit.

Qadarullah Wa Ma Sya'a Fa'al itu harusnya berlaku. mampu mengikhlaskan masing2.

Bukan kebetulan Allah telah mempertemukan ku dan dia. Bukan kebetulan Allah anugerahkan anak2 keturunan. 

Melainkan telah tertulis di lauhul mahfuz.


Kalau boleh berandai-andai. Aku pun ingin.

Andai saja cerita ini tidak pernah dimulai maka aku tak akan menaruh sedikitpun rasa padanya.

Andai saja aku tidak dipertemukan dengannya. Mungkin tidak akan sesakit ini.

Andai saja aku menikah dengan seseorang yang mencintaiku di masa lalu. Mungkin aku bisa hidup bahagia dalam kesetiaan, tanpa harus menghiraukan perasaan pasangan pada orang ketiga.

Andai saja, itu bukan kamu. Ya hanya berandai...


Faktanya aku harus mengelus dada

Menerima kenyataan sesungguhnya.

Bahwa hatinya tidak lagi bersamaku.

Mungkin raga tetap disampingku namun hatinya milik orang lain.


Kamu, apakah bisa tetap teguh pada janjimu?

Kamu, apakah masih bisa mempertahankan kesetiaan bersamaku?

Kamu, apakah bisa merasa apa yang aku rasa? Bahwa sesakit ini dikhianati...

*****

Masih tentang kisah seorang Sahabat.

******

So you guys, move on dari masa lalu itu memang sulit namun bukan tidak mungkin. Ayoo, Kita pasti bisa move on ke masa depan. Kalau kata dr. Aisyah Dahlan : Self Healing bisa dengan membayangkan si orang ketiga membelakangimu, kalian sedang berada di atas batu karang yang dibawahnya lautan. Dorong dia, terus dorong, hingga ia terjatuh ke lautan dan hilang tanpa bekas. Seperti itu. Dan jangan pernah kepo lagi soal orang ketiga, jika memang benar kamu masih mampu memaafkan suamimu. Meskipun sakit, kamu bisa mencoba dan cantikkan diri. 

Jangan bersedih sayang... 

Seluruh perempuan baik pasti merasa apa yang kamu rasa. 



No comments:

Post a Comment