Wednesday, February 15, 2017

Karakteristik Yang Harus Dimiliki Para Pendidik Sukses

Bismillah...


Semenjak berpindah ke Depok mengikuti suami. Saya yang full time di rumah memusatkan diri pada keluarga. Namun yang saya rasakan justru seperti orang linglung untuk awal-awal. Karena saya yang terbiasa sibuk dari pagi sampai malam (kerja, kuliah, komunitas, dll), menjadi saya yang hanya mengurusi itu-itu saja.

Allah berkehandak lain, sehingga saya ditawari sebagai guru ngaji di Taman Pendidikan Al-Qur'an setiap sore. Ya, dimanapun saya pindah ketika di Depok, sampai saat ini ada rumah, saya selalu dimintai mengajar TPA. Lalu saya merenung, segala sesuatu kan harus ada ilmunya. Saya dengan background IT, mana bisa menguasai apalagi mempraktekkan pendidikan untuk anak.
Sampai suatu hari, ada kesempatan terbuka lebar untuk saya. Yaitu beasiswa Akademi Guru Kuttab Al-Fatih. Kuttab yang terkenal dengan kualitas ilmunya yang berpusat pada pendidikan ala Rasulullah, menjadikannya diburu siapapun yang ingin menjadikan anak-anaknya sholeh dan sholehah.

Saya pun mendaftar di AGA 3 (Akademi Guru Kuttab Al-Fatih angkatan ke-3). Setelah tes administrasi, Stadium General, tes tulis, tes baca dan hafalan Qur'an dan interview Alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Alangkah tak terkira bahagiannya seperti apa. Ya, karena pada akhirnya saya akan belajar dari para pakar ilmu tentang pendidikan islam untuk anak dan pengabdian sebagai guru (setelah lulus).

Sampai pada suatu ketika, ketika pertemuan ke sekian kalinya, ada seorang dosen yang menyatakan bahwa : "Jika anak didik kita tidak mendengar nasehat ataupun perkataan kita, coba koreksi kembali diri kita. Jangan-jangan niatnya salah, jangan-jangan semangat kitanya loyo atau jangan-jangan kita sendiri yang akhlaknya tidak mencerminkan kebaikan?"

Jleb!
Saya terhentak. Lalu teringat dengan anak-anak TPA yang tingkat keaktifannya luar biasa. Dilembutin salah, dibilang baik-baik salah sampai saya pernah marah dan membentak mereka untuk tak mengulangi perbuatan kasarnya terhadap sesama teman. 

Ya Allah, apa yang salah dengan saya? Jika niat saya tak lurus, maka tolong luruskan. Ya, ditengah perenungan itu, saya meyakini bahwa saya harus selalu belajar, karena segala sesuatu pasti ada ilmunya. 

Saya pun menemukan buku referensi dari dosen (yang sebenarnya sudah lama suami saya belli tapi tak pernah tersentuh :D). Buku apakah itu? Ya, Prophetic Parenting. Sebuah buku yang mengajarkan dan menunjukkan pada kita begini lho cara Nabi mendidik Anak.

Recomended Book


Membuka bab-bab awal, saya pun menemukan apa yang saya cari. Bahwa pendidik sukses harus memiliki karakteristik seperti di bawah ini :

1. Tenang dan tidak terburu-buru

Yup, pada poin ini saya menyadari bahwa karakter saya yang sering "gurung gusuh" (sunda-red), menjadikan saya tak tenang dan sering kali tak jelas apa yang disampaikan (mungkin). Jangankan karakter, ngomong saja saya masih dalam tempo secepat-cepatnya, yang kadangkala tak ada titik koma :D

Pembawaan tenang dan tidak terburu-buru akan merefleksikan pandangan sang anak menjadi tenang pula. Tidak bisa donk, gurunya terburu-buru dalam mendidik melainkan melahirkan anak yang juga gelisah dengan kondisi tersebut?

Rasul Saw bersadba kepada Asyaj bin Abdil Qais : "Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perkara yang dicintai Allah: tenang dan tidak terburu-buru." (HR. Muslim)

2. Lembut dan Tidak Kasar

Get the point? Iya anak-anak itu ibarat aspal panas. Yang jika disentuh dengan kelembutan ia akan menyambut kita dengan lembut pula, sementara ketika kita kasar maka mereka akan membangkang. *duh kenapa musti aspal sih? ahaha, belum terpikirkan  analogi lain sih :p

"Barang siapa yang tidak dikarunia kelembutan berarti dia tidak dikarunia seluruh kebaikan." (HR. Muslim)

Dan

"Apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu keluarga, Dia masukkan kelembutan di hati mereka."

3. Hati yang penyayang

Nah, ini pun memiliki peranan penting. Bagaimana bisa kita mendidik anak-anak, jika hati kita tidak diliputi dengan kasih sayang. Apalagi terhadap anak yang tingkahnya menguji keimanan banget :D , apalagi terhadap anak orang yang bukan darah daging sendiri. Memiliki kasih sayang terhadap seluruh anak yang kita didik sama halnya seperti memiliki kasih sayang terhadap seluruh umat. 

"Sesungguhnya setiap pohon selalu memiliki buah. Buah hati adalah aak. Sesungguhnya Allah tidak menyanyangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga selain orang yang penyayang." Kami katakan, "Wahai Rasulullah, setiap kita menyayangi?" Beliau menjawab, "Bukanlah yang dimaksud dengan kasih sayang adalah seseorang menyayangi temannya. yang dimaksud dengan kasih sayang adalah seluruh umat manusia."

4. Memilih yang termudah selama bukan termasuk dosa

Terkadang ketika menemukan masalah, kita hanya ribut mempermasalahkan masalahnya. Tidak mencoba mencari solusinya. Seperti pribahasa sunda : seperti monyet ngagugulung kelapa.

Ya, menyederhakan masalah adalah langkah awal sebagai pendidi sejati. Karena sejatinya, siapapun tentu memiliki harapan terhadap orang-orang yang pintar menyederhakan masalah. Apa jadinya jika masalah itu malah tambah runyam hanya karena pola pikir kita yang terlalu rumit? 

"Tidaklah Rasulullah Saw menentukan pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang termudah diantara keduanya selama bukan termasuk dosa. Apabila termasuk dosa, maka beliau menjadi orang yang paling menjauhinya. Tidaklah Rasulullah Saw marah untuk dirinya sendri dalam masalah apapun kecual apabila syariat Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah SWT." (HR. Muslim dan Bukhari)

5. Toleransi

Dalam buku dikatan bahwa : toleransi merupakan kemampuan untuk memahami orang lain dalam bentuk yang optimal. Bukan dalam pandangan sempit, sehingga maknanya bukan kelemahan dan kehinaan. Melainkan memberi kemudahan sebagaimana yang diperbolehkan syariat.

Dalam hal ini tentu kita didorong untuk memahami watak dan karakter anak-anak, sehingga tahu betul mana yang harus ditoleran dan mana yang tidak.

"Maukah akau beritahukan kepada kalian tentang orang yang haram masuk neraka dan neraka haram atasnya? Setiap orang yang mudah, dekat dan toleransi." (HR. Tirmidzi)

6. Menjauhkan diri dari marah

"Sesungguhnya kemarahan, fanatisme dan rasialisme adalah sifat negatif dalam aktivitas pendidikan." 
Nah lho... Jleb banget bagi saya yang pernah melakukan kesalahan besar ini ketika sudah mentok banget cara menasehati anak-anak TPA, hadeuh, ga boleh diulangi ni.

Bagaimana jadinya anak-anak itu jika mendapati gurunya sering marah-marah. Bukankah kebahagiaan tersendiri bagi anak dan kita ketika kita dapa menahan amarah. 

Perlu bukti? Yuk, coba buktikan sendiri! :D
"Sesungguhnya orang yang pemberani bukanlah orang yang pandai berkelahi. Orang yang pemberani adalah orang yang mampu menguasai diri ketika marah." (HR. Bukhari Muslim)

7. Seimbang dan proporsional

Bersifat ekstrem dalam hal apapun merupakan perbuatan yang tercela. Apalagi di ranah yang terpenting seperti aktivitas pendidikan.

Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan?

Termasuk soal agama. Seperti yang dicontohkan Rasul ketika mendapati seseorang tua yang mengeluh ketika shalat subuh karena bacaan yang dibacakan sang imam sangat panjang. Ia mengeluhkan pasti terlambat dalam aktivitas paginya. Lalu apa yang dikatakan Rasulullah?

"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat lari orang lain. Sapa saja diantara kalian yang menjadi imam, hendaknya memendekkan shalatnya, karena sesungguhnya yang berdiri di belakangnya adalah orang tua, anak kecil dan orang yang sedang memiliki keperluan." (HR. Bukhari Muslim)

8. Selingan dalam memberi nasihat

Sesuatu yang disampaikan dengan berlebihan tentu akan meluber dan tak tertampung. Begitupun nasihat, ketika kita sampaikan secara terus menerus, bahkan ketika anak tak siap untuk mendengarkan maka nasihat itu akan mental saja, menjadi sia-sia.

"Banyak bicara sering kali tidak memberikan hasil apa-apa. Sebaliknya, memberikan nasihat yang baik dengan jarang justru sering kali menghasilkan sesuatu yag besar dengan izin Allah."

"Janganlah engkau ungkapkan pemahaman agamamu kepada orang yang tidak menginginkannya." (Imam Abu Hanifah)

Dan saya telah membuktikannya, ketika kita selingan saja memberikan nasihat, maka anak-anak seperti mendapatkan "surprise" hadiah istimewa yang dengannya mereka selalu mengingat apa yang saya katakan.

Ya, karena nasihat yang diberikan secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan. Betul? Iyain aja deh :D

Nah, bagaiaman temans? Siap menjadi para pendidik sukses? Yuk, mulai praktekkan dan tanamkan karakteristis yang saya sebutkan di atas.

Semoga kita menjadi para pendidik sukses yang perangainya dicintai oleh anak-anak kita :D

8 comments:

  1. Replies
    1. Hayuuuk mba, kan dirimu mah emg guru juga mba, guru anak2, guru para blogger jg, hehe

      Delete
  2. Benar, ya? Jadi pendidik memang harus sabar. Apalagi kalau mengajar anak2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba harus ekstra sabat, klo ga gt yg ada anak2nya nyontoh jg 😅

      Delete
  3. Cita2ku waktu kecil jadi guru TK. :) Jadi kangen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk mba, wujudkan... tapi emg setiap ibu itu pendidik sih ya

      Delete
  4. Nasehat banget untukku dalam mengajarkan anak mba :)

    ReplyDelete