Monday, June 20, 2016

Mari Bergerak Dan Peduli Cegah DBD


"Lebih mudah memusnahkan manusia dimuka bumi dibanding nyamuk."



"Selama masih ada air hujan yg turun nyamuk DBD akan terus berkembang." -Prof. Sri.

Dari tahun ke tahun, Dengue atau DBD merupakan momok menyeramkan dengan penyebaran tercepat di seluruh dunia. Melalui Nyamuk dengan jenis Aedes aegypti betina (kebanyakan) dan Aedes albopictus betina (sedikit).
Ingat betul, ketika teman saya berminggu-minggu tergelatak tak berdaya di RS karena kurangnya pengetahuan mengenai Dengue. Mulanya, Ia menganggap demam biasa kemudian minum obat-obatan warung penurun demam, namun demam tak kunjung hilang dan justru timbul bintik merah pada kulit. Kritis, baru akhirnya di rawat. Menegangkan sekali melihat realita yg ada bahwa kurangnya kesadaran terhadap Dengue bisa berakibat fatal bahkan hingga kematian.

Dan beruntung saya mendapatkan undangan dari Blogger Perempuan untuk menghadiri acara ASEAN Dengue Day 2016 yg mengangkat tema "Bergerak Bersama Cegah DBD Melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik." Yg diselenggarakan pada 15 Juni 2016 bertempat di Hotel Sahid, Jakarta. Acara ini merupakan inisiatif Kementrian Kesehatan. Acara yang semula akan dibuka oleh Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K) – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, namun karena Ibu Menteri ada keperluan mendesak, akhirnya diwakilkan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan&Pengendalian Penyakit (P2P), Dr. H. Mohamad Subuh, MPPM, yang  menjelaskan tentang “Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik."

Beliau menjelaskan bahwa Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik bertujuan untuk menurunkan angka penderita dan angka kematian akibat DBD dengan meningkatkan peran serta dan pemberdayaan masyarakat berbasis keluarga untuk melakukan pencegahan. Gerakan ini sudah dilakukan sejak Asean Dengue Day (ADD) 2015 lalu di Indonesia. Beliau percaya bahwa program ini akan berjalan jika masyarakat Indonesia aktif berperan dan saling support.

Kemudian bagaimana proses pelaksanaanya?  Juru Pemantau Jentik (Jumantik) adalah anggota masyarakat yg dilatih khusus oleh Puskesmas untuk memantau keberadaan dan perkembangan jentik nyamuk. Setiap rumah memiliki 1 Jumantik, dengan begitu kesadaran masyarakat secara luas akan terbangun dari pondasi keluarga. Caranya dengan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus :
1. Menguras Bak Mandi
2. Menutup penampungan air
3. Mengubur dan atau memanfaatkan barang bekas
PLUS Cegah gigitan nyamuk.

Nah, kabar baiknya adalah Tangerang Selatan merupakan salah satu daerah yg telah berhasil melaksanakan gerakan ini secara efektif! Selamat! 😄

Beliaupun memberikan informasi mengenai #denguemissionbuzz  dan #denguemissionbuzzbarometer yg diluncurkan pada tahun 2015 lalu yg bertujuan meningkatkan kewaspadaan terhadap #dengue dengan bus edukasi pencegahan dengue yg telah berkeliling sejauh lebih dari 4.000 km di lebih dari 40 komunitas pada beberapa negara ASEAN terpilih seperti Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Dan tahun ini, #danguemissionbuzz melanjutkan misinya dengan meluncurkan sebuah situs edukasi yg dilengkapi dengan fitur Kuis Kesiapan Dengue yg bertujuan menyebarluaskan kewaspadaan terhadap dengue kepada masyarakat Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Menyelesaikan kuis ini berarti membantu mendorong tingkat kesiapan dengue di Asia. Situsnya dapat diakses di www.denguemissionbuzz.org

Inisiatif ini diprakarsai oleh Asian Dengue Vaccine Advocy (ADVA) dengan didukung Kemenkes dan Sanofi Group.

Tersedia berbagai Bahasa, jadi tidak perlu khawatir untuk soal bahasa. Setiap negara terpilih memiliki akses untuk menggunakan Bahasa Negaranya sendiri. Ini merupakan wujud kepemilikan bangsa.

Mari mulai sadar dan peduli dengan mengakses portal Dengue Mission  Buzz tersebut. Hasil akhirnya merupakan sebarapa besar kesadaran kita terhadap Dengue.

Relawan #Dengue

Acara selanjutnya, diisi oleh Narsum cantik, cerdas dan bersahaja yaitu Hj. Airin Rachmi Diany, SH, MH. Yg merupakan walikota Tangerang Selatan yang menyatakan bahwa "Kami sangat berterimakasih kepada Kemenkes RI yg telah mempercayai Tangerang Selatan sebagai daerah percontohan yg nantinya akan dipantau dalam pencegahan DBD."


Beliau menjelaskan dengan runut bagaimana proses 1 Rumah 1 Jumantik yg akhirnya membuahkan hasil rasa kekeluargaan dan saling peduli terhadap pencegahan dengue antar masyarakat.

Lalu disela-sela press conference ada yg bertanya : Apakah ada insentif untuk para jumantik?
Jawabannya adalah Ada, setelah tentunya Jumantik itu berhasil membuktikan hasil kerjanya denga  data tentu saja.
Awalnya memang Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik merupakan  perekrutan para relawan yg ingin bergerak yg sadar betapa berbahayanya dengue ini. Karena dari situlah kemudian timbul rasa peduli, bukan karena mengejar insentif semata. Karena masalah kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintahn melainkan tanggung jawab kita semua, masyarakat Indonesia.

Sehingga tujuan akhir dari program ini adalah setiap rumah sadar dan peduli. Dan itu Alhamdulillah berhasil dilakukan.

Selain para relawan, Ia pun membentuk kader sosialisasi seperti memonitoring dari para mahasiswa, mengedukasi anak Sekolah yg tujuannya mereka akan menyampaikan berbagai informasi mengenai dengue pada keluarga.

Bahaya dan solusi Dengue



Pembicara selanjutnya yaitu Prof. Sri Rejeki Hadnegoro, Sp.A(K), Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) menjelaskan tentang DBD secara detail.
Berikut merupakan Gejala awal DBD yg ditandai dengan :
1. Demam Tinggi
2. Nyeri kepala
3. Pendarahan pada kulit
4. Mimisan
5. Nyeri pada otot serta persendian


Pada anak-anak gejalanya seringkali ditandai dengan mual dan muntah. Biasanya masyarakat kita menganggap hal itu sebagai sebuah hal biasa. Jika tidak ditandaklanjuti akan membawa kepada kondisi syok dan pendarahan saluran cerna yg berakibat pada kematian. Keterlambatan juga menjadi salah satu penyebab kematian. Oleh karena itu, kita harus waspada,! Jika anak demam 3 hari tidak turun-turun segera bawa ke pelayanan medis untuk diperiksa dan penanganan dini.

Kemudian cara yg harus dilakukan masyarakat untuk menanggulangi dan mencegah DBD adalah dengan menjaga lingkungan sekitar rumah agar bersih dari tempat berkembangbiak nyamuk dengan cara membersihkan jentik-jentik nyamuk. Cara paling efektif selain 3M, bisa dengan menaburkan bubuk larvasida di penampungan air, menggunakan obat anti nyamuk, menggunakan kelambu tidur dan menanam tanaman pengusir nyamuk.


Dengan adanya gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, Indonesia mengalami penurunan angka korban DBD yg signifikan. Namun, Bu Airin menekankan bahwa kunci keberhasilan ada pada konsistensi. Jika kita lengah, sudah merasa puas, lupa, dari sanalah jentik-jentik berkembang biak.

Oleh karena itu, program ini harus memiliki jadwal yg baik seperti :
1. Melakukan pamantauan seminggu sekali
2. Durasi memantau cukup 15 menit
3. Lakukan selalu 3M Plus
4. Sistem drainase yg baik

Hal yg musti diwaspadai selain DBD adalah cikungunya dan Zikka yg diakibatkan oleh nyamuk Aedes. Karena selain mematikan, jika terjadi pada ibu hamil, anaknya akan terlahir dengan otak yg tidak berkembang normal (kecil). Aedes berkembang biak sangat cepat 7-8 hari.

Penanganan DBD dan Obat Yang Tepat
Ketika korban terjangkit DBD, obat yg paling baik yg harus diberikan adalah
1, Cairan
2. Oksigen

Adapun jika demam yg sangat tinggi, obat yg disarankan menurut WHO adalah hanya PARASETAMOL.

Dan berikut merupakan obat-obatan yg harus DIHINDARI oleh orang yg menderita DBD :
1. Acetosal (asam asetilsalisilat)
2. Asam Mefenamat
3. Steroid
4. Antibiotik
5. AINS (obat anti peradangan non steroid)
6. Ibuprofen

Nah, dengan hal itu diharapkan korban DBD tidak lagi mengalami gap ketika dirawat di pelayanan medis hanya diberikan cairan dan tidak diberikan obat apapun.

Hal yg harus diperhatikan jika dokter memperbolehkan pasien  DBD dirawat di rumah :
1. Pasien harus beristirahat total
2. Kompres suam-suam kuku jika demam tinggi
3. Berikan banyak cairan
4. Berikan obat PARASETAMOL untuk demam tinggi

Penghargaan Pemenang Kompetisi Ibu Sigap DBD

Penghargaan para Jumantiks

Program Train The Trainers diikuti oleh 227 ibu-ibu PKK dan mengedukasi sekitar lebih dari 5.000 para ibu ditiga kota (Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta) dari bulan April -Mei 2016 dalam gerakan "Bersama Melawan Demam Berdarah"

Salah satu pemenang kompetisi tersebut yaitu Titik Linarti dari Surabaya mengatakan "Saya merasa bahwa perlu banyak ibu-ibu yg harus mengetahui segala pengetahuan mengenai DBD, karena seorang Ibu adalah garda terdepan untuk kesehatan dalam keluarganya. Oleh karena itu saya sangat bersemangat dalam melakukan edukasi kepada ibu-ibu lainnya."


Peran saya sebagai Ibu dalam mencegah DBD


Saya sendiri sebisa mungkin mengikuti 3M Plus dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Karena nyamuk sangat suka sekali dengan air maka dari mulai kamar mandi yg menggunakan shower, penampungan air dispenser yg dibuang setiap hari dan tidak menggantung pakaian yg telah dipakai (nyamuk sangat suka dengan bau badan manusia). Ketika hamil anak pertama dan kedua, kamar sayapun tak luput diberi kelambu. Dan menanam tumbuhan yg tidak disukai nyamuk seperti sereh yg saya tanam dipekarangan rumah.


Mari Bergerak dan Peduli Cegah Dengue #ASEANDengueDay

Tulisan ini adalah opini pribadi dan didukung oleh Sanofi Group Indonesia

22 comments:

  1. Wah makasih infonya, iya bisa juga tuh tanam pohon atau bunga pengusir nyamuk di rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba kayak sereh selain mengusir nyamuk, bisa jg buat masak 😄

      Delete
  2. semoga kita terhindar dari DBD yaahh.. Aamiin.
    btw itu tanamannya ada di rumah Mama looh, nanti mau minta juga ahh.. emang tu Zodia dibenci nyamuk, biasanya Mama nyimpennya di sudut-sudut ruangan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      iya bener mba, minta aja mulai dari sekarang, lebih baik mencegah kan ya mba dr pd mengobati 😊

      Delete
  3. di kampungku ada semacam operasi buat ngontrol jentik2 ditiap rmh. jd kita terbiasa buat 3m

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, keren bgt tuh mba kampungnya. Dikampungku kok belum ada ya gerakan macam ini. Ada palingan cuma voging doank, itupun bayar dan waktunya tak tentu 😯

      Delete
  4. Makasih infonya Mba.. Benrler kudu banget waspada sama DBD.
    D semarang jg ada jumantik, tp kadang ada aja yg kurang peduli. Trus got jg sering ga ngalir airnya.. Duuh.. T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mba.
      iya mba biasanya kekurang pedulian itu karena ketidak tahuan ya mba, semoga ada yg mulai bergerak mengedukasi agar semakin banyak yg peduli, aamiin

      Delete
  5. Ho .. Kmrn anakku kena mbak. Makasih infonya untuk pencegahan ke depannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun mba, sekarang gmn kondisinya? Semoga lekas sehat y mba untuk anaknya.
      kadang ngeri jg sih klo kitanya ga awas.
      sama2 mba, semoga bermanfaat 😊

      Delete
  6. Terima kasih info lengkapnya Mbak. Baru tahu ada obat tertentu yg tak boleh dikonsumsi penderita DBD.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jg baru tahu mba klo obat2an itu ga dianjurkan. Lebih kepada banyakin kasi cairan dan oksigen aja pengobatannya. Siip, sama2 mba

      Delete
  7. Iya, manusa sebenarnya ringkih sekali. Mereka mengaku sebagai penguasa dunia padahal tidak kebal.
    Saya paling kasihan dengan penderita DBD karena nyeri yang sangat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hu'um bener mba. Semoga kita lebih sadar dan peduli ya mba, sehingga terhindar dr DBD, aamiin

      Delete
  8. Saya baru tau, ada obat-obatan yang gak boleh dikonsumsi oleh penderita DBD. Makasih ya mbak :)

    ReplyDelete
  9. Biasanya rawan klo musim hujan tiba. Makanya harus difooging rutin. Tapi biasanya baru mau klo udah ada yg demam berdarah. Hiks. Padahal tetanggaku ada yg meninggal jg. Katanya sih dananya ga cukup buat fooging semua wilayah. Jadi emang harus dari masyarakat yg mencegah dg bebersih sebelum musimnya tiba, mb.

    ReplyDelete
  10. Meningkatkan awareness kadang susah, tapi semoga dengan semakin banyak inovasi program yang memudahkan masyarakat paham, awareness juga semakin tinggi dan Indonesia bebas DBD

    ReplyDelete
  11. Lengkap sekaliihhh... di sekitar lingkungan rumahku udah banyak korban demam berdarah, termasuk keponakanku sendiri. Jadi haruss lebih aware lagi nih jaga kebersihan rumah.

    ReplyDelete
  12. Wah ngeri yaaaa :(
    Semoga jauh2 dari demam berdarah :(

    ReplyDelete
  13. Anakku juga baru keluar RS, kena DBD. Ngeri deh trombosit sudah 26.000 untung saja segera pulih.
    Thanks infonya, jadi nambah pengetahuan lagi tentang DBD :)

    ReplyDelete
  14. alhamdulillah di desa lingkungannya masih trawat dg baik. tapi perlu waspada aplagi dlm menanggulangi masalah dbd ini. TFS ya mbak Shine ^_^

    ReplyDelete
  15. jumantik dirumah saya g ada ini

    ReplyDelete