Saturday, May 7, 2016

Pastikan Anak Alergi Tetap Berprestasi



Hachim… Hachim…

Fathan (3 tahun) seringkali bersin-bersin ketika beraktivitas diluar ruangan. Apalagi jika tempat tersebut banyak debunya. Bersin Fathan semakin menjadi. Duh, kasian deh, jadi terganggu aktivitasnya.

Sering kali saya bertanya, Fathan kenapa ya? Saya kira, awalnya sehat-sehat saja, karena ia anaknya aktif luar biasa dan sebagai seorang Ibu, sebisa mungkin saya optimalkan asupan nutrisnya, agar dapat tumbuh kembang dengan baik.

Namun ternyata nutrisi saja tidak cukup karena banyak faktor yang kita tidak tahu sebelumnya. Jika sudah begini, jadi repot sendiri, karena bersinnya yang mengganggu.

“Umiii, inguuus…” Katanya sambil berlarian menuju saya dan menyeka ingusnya berkali-kali.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk segera bertindak, tidak boleh mendiamkan terlalu lama. Kalau tidak, bisa berlarut-larut dan nantinya pasti mengganggu prestasinya.
Apalagi Fathan anak pertama yang menjadi teladan untuk adiknya Nusaiba (1tahun). Apapun tingkah polah Fathan, adiknya akan serta merta mencontoh. Jika Fathan terus bersin-bersin, aktivitas bersama adiknya bisa terhambat. Untuk membentuk anak yg penuh prestasi selayaknya kita sebagai orangtua harus CARI TAHU, sebagai langkah awal penanganan dini.

Berangkat dari kekhawatiran saya sebagai orangtua, saya pun mulai mencari tahu. Dan pas sekali Morinaga dan World Allergy Organization (WAO) sedang mengadakan Kampanye Semua dari Ingin Tau: Tau, Cegah & Atasi, serta sebar informasi yang tepat. Yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai alergi dan penyakit lainnya yang terkait. Tentunya dalam upaya meningkatkan kesadaran para orangtua tentang betapa pentingnya mendapatkan informasi alergi secara benar agar bisa mendukung Si kecil yang alergi tetap berprestasi. Tidak hanya itu, Morinaga menggagas pelatihan dan sumber daya untuk melakukan diagnosa dan tindakan pencegahan lho, khususnya mengenai alergi pada anak seperti Coaching Clinic di KalCare Jakarta, Hospital Parenting Seminar dan Radio Talkshow di beberapa kota serta live chat di www.cekalergi.com

 

Yuk, Cari Tahu.


Sebagai langkah awal, saya pun mencoba bertanya pada ahlinya, untuk memastikan Alergi tidak menghambat potensi si kecil. Sabtu, 9 April 2016, saya konsultasi dengan Dr. Isman sebagai  Fellow Allergy Immunilogy dari RSCM. Dalam Coaching Clinic yang diselenggarakan oleh Kalbe Nutritionals bertempat di Kalbe Care, PIM 2.

Beliau menyatakan bahwa Fathan memiliki alergi debu. Saya pun kaget, apakah itu bahaya? Dan sejauh mana dampak yang dapat ditimbulkan untuk tumbuh kembangnya?

Jawabannya pun cukup melegakan karena alergi bukanlah momok yang menyeramkan. Ianya merupakan sifat yang diturunkan bukan ditularkan. Kendati demikian, jika tidak sigap dalam pencegahan dan mengatasinya tetap saja Alergi bisa menjadi sesuatu yang fatal.

Alergi sendiri merupakan reaksi Hypersensitive diri sendiri. Setiap orang atau anak memiliki sifat alergi berbeda-beda.
 

Alergi adalah reaksi salah dari sistem kekebalan tubuh terhadap suatu zat yang dianggap berbahaya padahal zat tersebut tidak berbahaya, seperti serbuk sari, bulu binatang dan lain sebagainya, yang dalam hal ini disebut sebagai Alergen. Selain berdampak terhadap kesehatan fisik seperti gangguan kulit (bentol, gatal/ruam kulit, eksim), gangguan pernafasan (bersin-bersin, mengi/nafas berbunyi, tenggorokan gatal), dan gangguan pencernaan (mual, muntah, diare, BAB berdarah), alergi juga berdampak besar terhadap konsentrasi belajar anak dan beban ekonomi (biaya dokter dan obat-obatan penunjang). Sampai saat ini, walaupun penyakit akibat alergi bisa ditangani, namun alergi belum bisa disembuhkan, sementara berdasarkan International Study of Asthma and Allergies in Childhood, prevalensi alergi anak di negara Asia Pasifik seperti Indonesia, terus meningkat.

Wah cukup memprihatikan juga ya ternyata? Hal sepele bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan segera.

Apakah alergi bisa diobati? Sejauh ini belum ada obat fisik yang dapat mengobati alergi. Hanya bisa dilakukan dengan cara KENALI & HINDARI.

Kenali dengan baik Faktor Pencetusnya. Antara lain :


Alergi tidak akan terjadi jika kita kenali dan hindari pencetusnya.

  •         Faktor Lingkungan
Dalam keadaan normal, system kekebalan tubuh akan membentengi tubuh dari serangan bakteri, virus, atau zat-zat asing berbahaya (atau dianggap berbahaya) dengan menghasilkan antibody. Dalam keadaan alergi, system kekebalan tubuh salah mengenali bahan yang sesungguhnya tidak berbahaya (allergen), sehingga menimbulkan reaksi alergi. Allergen bisa berasal dari debu, tanaman, hewan, serangga, dll.
  •         Faktor Makanan

Anak mendapat alergi dari faktor makanan seperti Telur, Kacang Tanah, Seafood dan makanan yang "dianggap" berbahaya lainnya (allergen)

  •         Faktor Genetika
Anak mendapat bakat alergi yang diturunkan dari orangtuanya. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi, memiliki peluang mengalami alergi lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak.

Saya pun ber-oh..oh ria Setelah mendapatkan pencerahan dari Dr. Isman. Ternyata tugas orangtua dengan anak yang memiliki risiko alergi yaitu dengan cara mengenali dan menghindari factor pencetus alergi itu sendiri.

Tabel Riwayat Alergi

“Ibu atau Bapak sendiri punya riwayat alergi ga?”

“Iya suami saya alergi debu dan saya asma dok.”

“Oalah, pantes.” Terangnya sambil tersenyum.

Ternyata anak-anak yang orangtuanya memiliki riwayat alergi, memiliki resiko alergi lebih tinggi dibanding yang tidak.

"Durasi waktunya dok?"

"Tidak ada ketetapan durasi waktu anak mengidap alergi. Kita uji coba saja. Misalkan, anak yang belum 1 tahun diberikan telur, biasanya akan merah-merah karena faktor allergen tersebut. Tapi bukan berarti kita menghentikan sama sekali untuk konsumsi telur seumur hidup terhadap anak. Bisa dicoba lagi, jika masih alergi berarti anak belum siap dalam konsumsi telur atau makanan allergen lainnya."

"Oh... I see dok. Pantes Nusaiba waktu saya kasih telur suka merah-merah sekujur bibirnya, ternyata ini toh."

"Iya, beda halnya dengan yang sudah dewasa ya." Imbuhnya. 

Sampai kapan batas waktu kita mengulang-ulang, menguji coba bahwa anak kita sudah tidak alergi lagi terhadap makanan atau factor pencetus lainnya? Tidak ada batas waktunya, coba dan terus coba lagi.


Boleh memiliki SIFAT ALERGI tapi tidak dengan PENYAKIT.

WARNING!

Yang harus diperhatikan, jika alergi itu terhadap alergi obat, harus ada semacam warning, karena ini sangat berbahaya dan harus dihentikan. Itu kenapa sebelum berobat pastikan Anda memberitahu dokternya bahwa anak anda memiliki alergi obat.

Duh, betapa konsultasi ini membuka wawasan saya bahwa alergi bisa diturunkan. Selama ini kemana saja ya? Yang pastinya setelah mendapatkan ilmu tentang ini saya pun segera sadar dan bertindak sebaik mungkin yang bisa saya lakukan sebagai orangtua.

CEGAH & ATASI


Lalu, bagaimana ya jika banyak dari sekililing kita, yang anaknya ternyata alergi terhadap makanan dan lebih spesifik yaitu susu sapi?

“Kok bisa ya dok, anak alergi terhadap susu sapi?”

“Ya bisa, karena orangtua yang mengandalkan Susu Sapi sebagai pengganti ASI. Sementara kit atahu, adalah keharusan jika anak usia 1-6 bulan mengkonsumsi ASI.” Ujarnya.

Faktor pencetusnyapun adalah protein yang terkandung dalam susu sapi.

“Jadi solusinya apa dok untuk anak yang tidak bisa mendapatkan ASI namun alergi susu sapi?”

“Tolong dicatat ya…” Dr. Isman mulai memberikan penjelasan.

Tindakan yang harus dilakukan ketika diketahui anak alergi terhadap susu sapi adalah, sebagai berikut :
 

  • Hidrolisat Partial
Carilah susu formula yang telah terhidrolisat artinya Susu sapi diproses sehingga protein dari susu sapi tersebut terpecah-pecah sebagaian sebagai usaha mengurangi protein dari susu sapi.
  • Hidrolisat Ekstensif
Susu sapi dipecah-pecah sehingga menjadi bagian terkecil.
  •  Asam Amino
Pemecahan Hidrolisat yaitu pecahnya protein susu sapi menjadi Asam Amino
  •  Soya
Carilah susu formula berbahan dasar protein kedelai. Namun tetap harus waspada juga, karena ada kemungkinan anak mengalami alergi silang berupa protein kedele.

Sebagai langkah kedua dari kampanye Semua dari ingin tahu, mengajak para orangtua untuk cerdas dalam mencegah dan mengatasi masalah alergi anak demi Pertahanan Tubuh Ganda.

Karena, Alergi tidak akan terjadi jika kita bisa mencegah dan mengatasinya dengan benar.

How?

Jika Si Kecil berisiko tinggi mengalami alergi, maka pencegahan yang dilakukan adalah...

  1. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan 
  2. Menghindari paparan rokok selama hamil dan setelah bayi lahir 
  3. Selama hamil dan menyusui, ibu tidak menghindari makanan yang sering menimbulkan alergi seperti telur, kacang-kacangan, ikan dan makanan laut serta susu sapi. 
  4. Pengenalan makanan padat untuk anak dimulai pada usia 6 bulan 
  5. Tidak ada penundaan pemberian telur, kacang, ikan dan makanan laut serta jenis makanan lainnya pada waktu Si kecil mulai mendapat pengenalan makanan padat 
  6. Pemberian susu formula protein terhidrolisat parsial (P-HP) dan protein terhidrolisat penuh untuk bayi-bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI.     

Enam poin diatas merupakan pencegahan terhadap anak yang berisiko alergi secara umum. Sementara (Sama dengan yang dikatakan oleh Dr. Isman) untuk bayi atau anak yang alergi terhadap susu sapi, bisa mengatasinya dengan cara sebagai berikut :

  1. Menghindari protein susu sapi yang utuh 
  2. Mengganti nutrisinya dengan formula hidrolisat penuh, formula asam amino atau formula isolat protein kedelai (soya).
Morinaga Allergy Total Sollution


Dengan adanya beberapa gejala alergi, Morinaga tidak tinggal diam. Solusi yang telah disuguhkan Morinaga untuk anak diatas 1 tahun adalah ada pada Produk Morinaga Soya dan Morinaga P-HP. Jadi para orangtua tinggal pilih dan sesuaikan dengan kebutuhan nutrisi si kecil.

Perlu diketahui bahwa Susu pertumbuhan Morinaga Protein Hidrolisat Parsial (P-HP) berbahan dasar protein susu sapi dengan rantai protein yang lebih pendek dan mudah dicerna, sehingga dapat membantu mengurangi risiko alergi.

Sedangkan Susu Pertumbuhan Morinaga Soya diperkaya kandungan L-Metionin dan Karnitin yang dapat mengatasi gejala alergi susu sapi dan mendukung Tumbuh Kembang Optimal.

Fathan sendiri paling suka dengan Morinaga Chil Kid Soya rasa Vanila, satu gelas ga pernah cukup. Minta nambah lagi, lagi dan lagi. Terkadang ia pun memasukan buah-buahan kedalam susunya. Dan saya pun suka iseng menambahkan susu Morinaga Chil Kid Soya kedalam masakan saya seperti saus spageti, puding dan berbagai masakan lainnya :D.

"Aaaah, Sedapnyaaa..." Katanya setelah meneguk satu gelas susu Morinaga Chil Kid Soya rasa Vanila. hihihi, saya jadi tertawa melihat tingkah lakunya :D 

Morinaga Soya sendiri memiliki kontribusi penting bagi Tumbuh Kembang Optimal Si Kecil yaitu rantai  MoriCare+ Prodiges, diantaranya :


Kecerdasan Multi Talenta    

Didukung dengan nutrisi Kolin, asam lemak esensial AAL & al (Alfa-Linolenat &Linoleat) dan Zat Besi.

Pertahanan Tubuh Ganda

Kombinasi Probiotik 536 & 16V (bakteri baik) dan Prebiotik FOS (makanan bakteri baik), bersinergi untuk kesehatan saluran cerna dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Tumbuh Kembang Optimal

Kombinasi Vitamin D dan Kalsium dalam formula Morinaga membantu untuk menjaga kepadatan tulang dan gigi.

Hmmm, kira-kira apa hubungannya alergi dengan prestasi ya? Jelas berhubungan karena dengan gejala alergi anak akan susah untuk berkonsentrasi. Jangankan focus untuk belajar yang ada ia meringis atau justru menangis menahan rasa sakit atau gatal yang ditimbulkan karena alergi. Sehingga aktivitasnya dapat terhambat.

SEBAR

Sebagai langkah terakhir sekaligus penting adalah dengan menyebarkan informasi yang tepat mengenai alergi Si kecil. Dengan adanya langkah sebar inspirasi ini agar sedini mungkin penanganan terhadap alergi bisa diatasi. Sehingga dunia khususnya para orangtua Sadar dan melek informasi tentang alergi Si kecil.

Tujuannya bagi yang sudah memahami tahapan Kampanye SEMUA DARI INGIN TAU, bisa menularkan virus kebaikan mengenai ilmu langkah awal dalam mengatasi alergi.

Mari viralkan Informasi positive ini, sudah saatnya dunia bergerak lebih peduli, mari bersinergi!

"Oya dok, untuk terakhir, ada tips ga agar Anak yang Alergi Tetap Berprestasi?"

"Untuk para orangtua, ga boleh lebay. Serba dikekang untuk asupan makanan tanpa ilmu yang memadai hanya gara-gara alergi yang belum diketahui faktor pencetusnya. Jika anak dikekang untuk makan ini itu akibatnya akan kekurangan gizi, kurang gizi, mana bisa mikir apalagi berprestasi." Jawab Dr. Isman.

"Selain itu dok, ada tips lain ga?"

"Itu saja sih. Curiga boleh asal jangan berlebihan karena ini akan berakibat pada gizi anak."

"Untuk cari tahu kalau anak kita alergi atau tidak, bagaimana dok caranya?"

"Ada test alerginya yaitu dengan cara Skin Prick Test dan Cek darah Ige RAST. Tapi ingat, ga bisa sembarangan, hanya boleh dilakukan dengan tingkat gejala alergi yang sangat parah. Dan hanya tersedia di Rumah Sakit tertentu saja." Imbuhnya.

Untuk melakukan kedua test tersebut dibutuhkan biaya yang cukup besar, ada baiknya melakukan tips yang telah diuraikan diatas dengan kenali dan cari tahu pencetusnya. Selain itu bisa dicek juga Cek Alergi sebagai dedikasi dari Morinaga untuk anak Generasi Platinum Multitalenta.

Nah 3 langkah dari SEMUA DARI INGIN TAU sudah dilakukan, kini saatnya, saya memberikan Tips untuk anak atau anda sendiri yang memiliki Alergi Debu ya, yaitu :

  •  Hindari debu pastinya. Usahakan bermain didaerah yang tidak banyak debunya. 
  • Jika dalam kondisi darurat, mau tidak mau kita berada di zona pencetus alergi, gunakanlah alat penutup hidung dan mulut seperti masker, dll. 
  • Jika alergi sudah terjadi, atasi dengan banyak minum dan istirahat yang cukup ya.
Berkuda, Aku Anak Pemberani! ^^

Saya sendiri memiliki riwayat Asma, faktor pencetusnya adalah udara dingin dan kecapean. Jika sudah dua hal tersebut terjadi, nafas saya akan berbunyi ngik-ngik-ngik :D, jadi sebisa mungkin menghindari kedua hal tersebut. Namun, lagi, jika sedang berada di daerah dingin, ya kitanya dong yang kudu aware dengan menggunakan baju hangat seperti jaket, dll.

Setelah kita mengenali betul Faktor pencetus alergi pada anak, cegah dan mengatasinya adalah langkah kongkrit yang harus disegerakan. Dan tetap, jangan lupa SEBAR yaa...

Nah, walaupun Fathan memiliki alergi debu, ia tetap bisa berprestasi lho dalam aktivitas kesehariannya. Prestasi bukan hanya didapat dari suatu pertandingan orang antar orang kan? Lebih dari itu, prestasi yang sangat membanggakan adalah ketika Fathan mempraktekan ilmu budi pekerti (akhlak) yang saya ajarkan dari rumah (karena ia belum sekolah). Sudah bisa dimintai tolong, membuang sampah pada tempatnya, bertanggung jawab memberesi mainannya, meminta maaf jika bersalah, memaafkan jika ada yg salah, berdoa sebelum melakukan aktivitas (makan, tidur, berkendara, keluar rumah, dll), mengucapkan salam ketika berpamitan/pulang dan adab-adab lainnya. Selain itu, ia sekarang sedang rajin-rajinnya hafalan Juz 30, baru sedikit sih tapi lumayanlah An-Naba sudah 4 ayat ia hafal dengan intonasi cadelnya. 

Dan hal yang paling "nyess" dihati adalah ketika Fathan menjaga adiknya dengan ketulusan dan kasing sayang seorang Kakak, apalagi ketika diam-diam saya menyaksikan ia menciumi adiknya yang sedang tidur, hiks *terharu. How the wonderful EQ! Jika saya sakit, Ia pun tak lupa memegang kening saya, mengecek dan bertanya : "Umi sakit ya? Minum obat ya, nanti Aa Fathan doakan." *melting

Kreasi Bercocok Tanam Ala Kokedama
So #AlergiTetapBerprestasi? Bisa bangeeet! :)



Website: www.cekalergi.com
Facebook: Morinaga Platinum 
Twitter: @Morinagaid
Instagram : @MorinagaPlatinum

3 comments:

  1. Wah abang fathan hasinnya pasti liat bunda shine cantik... hihi..
    Iya setuju mba shine, alergi memang harus ditangani sedini mungkin ya biar ga jadi hal besat kelak...

    ReplyDelete
  2. Baca postingan ini, aku jadi merasa ngaca hihihi. Aku rhinitis, Mbak. Menurun dari bapakku. Tapi aku ini bandel. Udah tau rhinitis tapi masih berani mandi air dingin malem-malem. Hehehe

    ReplyDelete
  3. Aku pernah kasih susu soya buat Asma pas kecil dulu. Makin besar, ternyata dia lebih suka susu sapi dan bukan alergi susu. Syukurlah ...

    ReplyDelete