Saturday, January 23, 2016

Drama Dengan Alam

Bismillah

Masa kecil saya diisi dengan sangat seru. Tidak ada lagi istilah masa kecil kurang bahagia. Saya merasa sangat puas dan bersyukur atas masa kecil saya.

Banyak permaian yg bisa kita mainkan bersama. Apalagi ketika kecil rumah saya sangat strategis untuk sebuah pelosok di kampung. Dibelakang rumah saya ada pekarangan luas yg siapa saja boleh bermain disana. Tidak seperti sekarang yang dimana-mana dibangun perumahan. Alasnya tanah berdebu, sangat asik dijadikan lahan buat lotek-lotekan untuk anak perempuan. Tanah sebagai bumbu kacangnya...
"Pesen lotek buu..."
"Sabaraha?"
"25 perak weh tong pake cabe nya bu"
"Nya." Kata si ibu penjual lotek sambil menggoyang ulekannya, yihaaa :D
Ada yg bisa terjemahkan? :p
*drama lotek-lotekan.
Berlanjut ke permainan favorit saya ketika kecil. Untuk ukuran anak perempuan, diantara banyak permainan congklak, masak-masakan, galah, engklek, dll,  saya paling suka bermain Drama-drama-an yg dibalut oleh kostum-kostum/peralatan keren buatan sendiri... Kostumnya dibuat dari daun-daunan. Karena drama yg terkenal ketika itu Pendekar Rajawali, jadi otomatis kami memiliki peran masing-masing dalam drama yg kami buat sendiri. Intinya tetep Yoko dan Bibi Lung tapi entah dramanya berlanjut ke dunia antah berantah yg hanya bisa dipahami oleh imaginasi anak-anak :D

Iwa sebagai Yoko
Aku sebagai Bibi Lung (jangan pada protes ya, waktu kecilrambutnya puanjaaang, jadi kalau maen drama-dramaan mesti ditunjuk pemeran utama, wkwk)
Ayip sebagai Bangsa Mongol (musuhnya Bibi Lung)
Eno sebagai istrinya Ayip
Dkk sebagai mata-mata
Sepeda iwa sebagai rajawalinya (sepeda jepang kecil, yg ada boncengan dibelakangnya)
Jurus andalan yg dipake adalah jurus totok yg jika kena korbannya menjadi patung, tak bisa bergerak, bisa bergerak lagi jika ada yg mentotok kembali atau menyelamatkan :D

Nah apa saja peralatan tempur dan kostum kami?  Adalah sebagai berikut :

1. Daun Nangka untuk Mahkota

Nangka selain buahnya yg lezat daunnya pun bisa dijadikan permainan. Sampai ada yg terinspirasi membuat gurindam untuk nangka ini.
Tongtolang nangka, hihi...

Daun yg jatuh tak pernah membenci angin *terTereLiye :D. Jadi daun nangka yang pada jatuh, tua, kuning kecoklatan, nah itu dijadikan bahan mahkota untuk kami memulai drama.

Cara bikinnya gampang, daun nangka dilipet kemudian disambung-sambukan menggunakan lidi, udah jadi. It's so simple, right?
Dan hasilnya seperti yang digunakan anak saya, Fathan...
Mahkota Raja dari Daun Nangka

2. Pohon pisang untuk senjata

Dari pelepah pisang ini kita bisa membuat senjata pedang-pedangan, pistol-pistolan, ataupun pelacu kuda. Kemudian dari pucuk daun pisang kita membuat anting-anting untuk anak cewek terutama Bibi Lung.

Cara buatnya kalau menurut saya gampang-gampang susah. Gampang jika pelepah pisangnya besar, susah jika sebaliknya. Yang ahli membuatnya para anak laki. Nah jika anting-antingan justru sangat mudah, tinggal dipetis dan tarik saja tapi jangan sampai putus jika antingmu mau dibuat menjuntai :D
Anting Bibi Lung Dari Pucuk Daun Pisang
3. Bunga untuk hiasan rambut
 
Bunga-bunga yang kami petik di kampung dijadikan hiasan untuk rambut. Bunga itu dirangkai seperti dikepang, kemudian tangkainya yg lembut ditalikan pada rambut kami yg telah dikuncir. Hasilnya bagus-bagus. Walapun kami masih anak-anak tetap saja bunga tersebut tergolong mewah untuk disandingkan dengan bunga hiasan buatan pabrik.
Ilustrasi Gambar
"Bibi Lung, aku mohon jangan pergi..."
"Tidak Yoko, banyak musuh yg mengintai, aku tidak ingin ada sesuatu hal terjadi padamu."
Datang mata-mata menyelinap disemak-semak.
Sejurus kemudian hiat-hiat-hiaaat yoko menangkap sang mata-mata.
"Jangan! Biarkan ia pergi, ia hanya mata-mata." Bibi Lung menepis.
Rajawali datang dan membawa Yoko dan Bibi Lung terbang...
Siapa yang merubah hatiku
Siapa yang membuat kita satu
Selalu menyatu beban kecewa
Namun takkan ku kan berakhir

siapa yang membuat ku pilu
Kembali datang masa lalu
Semakin dalam gejolak jiwa
Benci dan cintaku menyatu

Kenangan indah pun memudar
Alam pun terasa sendu
Walau kita kan berpisah
Rasa ini bergelora  
(Soundtrack Pendekar Rajawali)

Ahahaha, ampuuuun, masih ingat saja sampai sekarang bahwa kata-kata itulah yg keluar ketika main dram-dramaan terutama drama Rajawali... Dari mana coba kok bisa berdrama tanpa ada sutradara, produser dan blablabla. Masa kecil yg menyenangkan bukan? Ehm, setidaknya menurutku :D :P

Itu semua hanya ketika maen drama-dramaan, setelah dramanya bersambung, tamat atau ada yg nangis karena suatu hal, ya sudah kita bubar jalan berperan sebagai masing-masing. Hidup terasa merdeka tanpa beban anak-anak yg disuruh les ini itu... Hidup anak kampung, hidup yang menyatu dengan alam :)


Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa

11 comments:

  1. Hehhee aku dlu juga suka maenan pake mahkota2an sma daunnya nangka mbak. Kadang juga pas lagi jalan2 pagi. Aku sma temen2 ngumpulin bunga dbpinggir jalan lalu dibentuk kyak bunga hiasan kepala mbak. Hhheee
    seru skli yaa bisa maen drama2an hhhheee

    salam kenal mbak.e hhheee

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaa, tos! :)

      salam kenal balik ya mba :)

      Delete
  2. Whahahaha....penggemar yoko dan bibik lung. Ayo kita saksikan drama alam romantis Yoko dan Bibi lung dengan pedang naga puspa *kabur*

    ReplyDelete
  3. hahaha saya juga tuh suka pakai bunga di kepala sok ala ala putri gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, emang pas kecil kayak putri sih...
      Putri dekil, ahahaha :P

      Delete
  4. Xixixi, kreatifnya anak zaman dulu. Sekarang mah tinggal beli. :D

    ReplyDelete
  5. Bu lotekna hijinya :) Orang Sunda ya? terima kasih sudah berpartisipasi ya

    ReplyDelete
  6. yang hiasan rambut pake bunga itu sering bikin kadang dijadiin cincin juga. haha. jadi kangen masa2 muda *eh :p

    ReplyDelete
  7. Jaman dulu tuh kreatif yaaa apa aja bisa jadi mainan :D :D

    ReplyDelete