Sunday, December 18, 2011

Moga Bunda Disayang Allah

Bismillah...

“Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitam. Kosong. Tak ada warna… senyap! Melati mendengar senyap. Sepi, sendiri. Tak ada nada…”

Lagi-lagi Tere Liye membuat kejutan untuk para pembacanya, especially me. Mungkin telat kali ya hari gini baru baca tuh buku. Namun tak ada kata terlambat untuk novel sebagus dan seberhikmah ini.

Karang, seorang pemuda yang besar tanpa kedua orang tua. Impiannya hanya satu, menebus semua harapan-harapan masa kecilnya dengan harapan untuk anak-anak. Ya, dia suka anak-anak. Malah terlalu cinta pada mereka. Panggilan untuknya adalah Malaikat pencipat keajaiban. Siapa yg tak kenal Karang? Setiap kali bayi-bayi menangis, dengan tangannya bayi tersebut terdiam, damai. Dengan melihat wajahny, anak-anak menjadi sumringah. Aiiih, seperti apa sih Karang itu? tokoh Karang digambarkan sosok yang penuh jiwa social dan tentu saja dengan jiwa itu ia bisa mendirikan puluhan taman baca untuk anak-anak. 

Dan kejadian itu menghapus semuanya. Harapan, cita, asa dan apalah semuanya kandas. Kejadian menyesakkan bahkan bisa saja melumpuhkan. Bencana, siapa yang tahu datangnya?
Setelah diputuskan pengadilan bahwa ia tidak bersalah. Ia dibebaskan, ia pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan taman baca, anak-anak dan si Lesung Pipitnya.

Keadaan berubah 360 derajat. Karang menjadi pemabuk yang siangnya selalu diisi dengan mimpi buruk di tidurnya dan malamnya ia ia habiskan mojok di bar sampai mabuk. Perkara orang akan menyalahkannya, itu masih bisa diterima, yang lebih menyakitkan adalah ketika diri kita menyalahkan diri sendiri. Itulah yg terjadi pada Karang kini.

Sampai surat dari Bunda HK alias Bunda Melati berdatangan. Ia masih tetap acuh tak acuh. Tak sedikitpun dihiraukannya. 7 kali surat yg sama itu datang, sebanyak itu pula ia tetap acuh.

ANAK INI TIDAK MEMBUTUHKAN DOKTER NYONYA! ANAK INI MEMBUTUHKAN RUMAH SAKIT JIWA.
(Hal 37)

Putus asa? Mungkin itu yang dialami Bunda. Bunda benar-benar lelah, hampir putus asa dengan keadaan melati. Tak satu pun pakar yang katanya professional bisa membantunya. Melainkan malah pernyataan itu yg keluar ketika Melati menggigit tangan dokter yg hampir putus.

Hari itupun Bunda mendatangi rumah Karang. Dan apa jawabannya? Sinisme dan perkataan sarkasme yang keluar dari mulut Karang. Seakan semuanya tak ada gunanya, hanya omong kosong!

“Melati, putri kami buta dan tuli, Anakku. Dunia sempurna terputus darinya. Ya Allah, apakah itu takdir Mu? Apakah itu jalan hidup yg harus dilalui Melati sepanjang umurnya? Jika iya, lantas bagaimanakah nanti? Apakah di hari akhir nanti Kau tetap bertanya kepadanya? Meminta pertanggung jawaban kehidupannya? Ya Allah, melati bahkan tidak pernah mengenal Engkau! Jangankan shalat yg baik, menyebut nama-Mu pun ia tidak mengerti. (Hal 86)

Aku benar-benar merembes pas bagian ini, nyesek!
Hingga ultimatum dari Ibu-ibu gendut itu pun terbuncah :
“Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yg tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yg pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan.” (Hal 91)
Karang akhirnya menyadari kalau ia harus menemui anak itu, ya anak itu, Melati, siapa lagi?
Pertama kali datang, sungguh menyebalkan! Tamu songong yang sudah berani menyamakan Melati  dengan Binatang. Bagaimana tidak? Melati makan dengan cara yg menyedihkan lebih parah dari Binatang sekalipun.
“Tahukah hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Bukan! Bukan seseorang yg cacat atau memiliki keterbatasan fisik. Bukan itu! melainkan seseorang yg sehat, normal, sempurna fisiknya, tapi justru memiliki keterbatasan akal pikiran.  Bebal. Bodoh
Tidak. Itu tidak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan. Itu lebih karena perasaan sombong, angkuh, merasa paling hebat, sok tau, dsb. Penyakit keterbatasan akal pikirannya. Melati memang tuli dan buta tapi ia sama sekali tidak memiliki keterbatasan akal pikiran.” (Hal 107)
Akhirnya Karang telah memutuskan untuk mengajari Melati sampai ia bisa mengenal dunia, mengerti apa ini apa itu. Namun sulit, itu sangat menyakitkan untuk mewujudkan harapan-harapan itu.
Dan ia tetap menjadi Karang yg pemabuk hingga kesadaran itu datang, tepatnya dikembalikan. Ketika Karang dipertemukan dengan 2 pengemis tua.

“Kau buta?”  Karang bertanya sedikit terbata.

“Apa kau tidak pernah melihat orang buta? Hingga harus bertanya memastikan! Atau kau sudah terlalu mabuk hingga tidak tahu?” Tertawa menyebalkan.

Karang mendengus sekali lagi.
“Ya! Aku buta, temanku yg satunya tuli. Pasangan yg hebat sekali, bukan! Dia meminjamkan matanya kepadaku, agar kami bisa berjalan, sementara aku meminjamkan mulutku padanya agar kami bisa bicara. Dan mala mini, kami berdua harus meminjamkan uang kepada berandalan sehat bugar tadi. Malam ini, kami berdua juga harus meminjamkan penjelasan padamu yg jelas-jelas terlihat lebih pintar. Benar-benar lelucon kehidupan yg hebat!” (Hal 115)

Akankah Karang kembali seperti Karang yg dulu? Akankah Melati benar-benar bisa mengerti dibalik keterbatasannya dan apakah Bunda tetap sabar menjalani kehidupan dengan kerinduan akan keajaiban pada Melati? Jawabannya, baca sendiriiii, wleeeeeeeek!!! Ahahaha… :P

Pokoknya ga nyesel dech beli buku ini, apalagi baca sambil lesehan di Gramed (maksudnya gretongan gitu, ahahaha). Buku ini benar-benar menyadarkan kita akan hidup yg penuh pertanyaan apakah hidup ini adil? Hidup adil dengan keadilan yang tak pernah kita tahu sebelumnya.

Haru, buncah, hikmah, surprise dan lucu (pada saat session Salamah) kesan yg timbul setelah membaca buku ini. 

NB : Bonus, kata pengantar dari si penulis ( aku sukaa, hehe..)

Kebahagiaan adalah kesetiaan, my dear! Setia atas indahnya merasa cukup, setia atas kecintaan berbagi, dan setia atas ketulusan berbuat baik. Bukan atas gelimang harta, pesona nama besar, apalagi tongkat kekuasaan. Yakinlah, my dear! (meski semua orang tidak ada lagi yg meyakininya)
Subhanallah…

Novel ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata, Hellen Keller. Untuk mengetahui siapa itu Hellen Keller, silahkan kunjungi  Wikipedia.org/wiki/hellen_keller 


Judul               : Moga Bunda Disayang Allah
Penulis             : Tere-Liye
Penerbit           : Republika
Tempat terbit   : Jakarta
Tahun terbit     : Cetakan pertama November 2006, cetakan kesepuluh Juli 2011
Tebal buku      : v + 305 halaman



12 comments:

  1. huaaaaaaaaaaaaaaaaa, dah lama pengen baca, pinjem dunks :D

    ReplyDelete
  2. kisahnya menarik teh. di gramed ada gak ya? :)

    ReplyDelete
  3. @mba diah : siniii klo mau pinjem :P

    @asep : buanyaaak, kang.. sok ke gramed, pasti nemu dech :)

    ReplyDelete
  4. "Siapa yg tak kenal Karang?"
    Aku nggak kenal...

    Hm, akhirnya Karang balik jadi yang dulu ya. Hmm...

    ReplyDelete
  5. wahhhh merinding
    jadi penasaran nih shineeee

    ReplyDelete
  6. Dasarrr...cengeng--nangis lagi nangis lagi_cpcpcpcp

    ReplyDelete
  7. oh ngefans banget ya sama Tere. malah akku blm pernah baca

    ReplyDelete
  8. Kalau mupeng buku beginian mesti sabar, nunggu bisa hunting di surabaya. Jd utk sekarang, 8meras8 cukp dengan mbaca revewnya deh

    ReplyDelete
  9. mmg enak ya kalo membacanya sudah tamat....jadi mereview bukunya juga lebih lepas lagi...
    sya masih harus banyak belajar lagi rupanya...
    salam kenal dan salam persahabatan !

    ReplyDelete
  10. sampulnya seger hijau dan biru,, saya suka,,

    ReplyDelete
  11. baca buku ini tahun 2007 atau 2008-an,lupa kapan tepatnya. tapi masih suka ceritanya, hehe. recomended! :D

    ReplyDelete
  12. suka juga sama kata2 pengantarnya. itu kata bang tere buat ponakannya. ;)

    ReplyDelete