Thursday, November 10, 2011

Sweet Moments to Remember My Heroes

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisi mu terngiang, hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapan mu

            Mendengar lantunan lagu tersebut mengingatkanku akan sebuah masa bernama masa lalu. Aku tak memiliki pengalaman yang layak untuk dijadikan inpirasi. Namun, setidaknya aku masih memiliki pengalaman yang menurutku berharga. Ya, sweet moment to remember!

            Ketika itu aku masih menginjakan kaki dibangku SD. Ayahku mengantarkanku dengan sepeda ontelnya. Maklum, kondisi ekonomi keluargaku pas-pasan, sehingga hanya mampu membeli sepeda ontel untuk dijadikan kendaraan. Ibuku pun hanya membantu Ayah dalam usaha wirausaha, yaitu berdagang sayur-mayur. Mereka adalah pasangan hebat yang tak pernah mengeluh, meski berkali-kali kondisi menghantam mereka dengan cobaan luar biasa. Satu pelajaran buatku ketika itu, hanya satu hal yang dapat mengalahkan kita dari keadaan yaitu MENYERAH! Dari situlah aku mulai membuka mata tentang kehidupan yang aral lintangnya masih panjang, belum berujung. 

            Ayah dan Ibuku hanya lulusan SD, tepatnya Ayahku saja yang lulusan SD, sementara ibuku hanya sampai kelas 2 SD, tak lebih, tak kurang. Dan meskipun mereka hanya berlatar pendidikan SD, tentu orangtua mana yang tak ingin anaknya lebih baik dari mereka? Aku pun tersadar bahwa dengan semangat mereka, kerja keras mereka, keringat mereka adalah bentuk kasih sayang yang dikhususkan untukku, untuk masa depanku. Mereka mengharapkan aku menjadi salah satu pengangkat derajat mereka dengan ilmu. 

            Sering aku melihat, teman-temanku yang lain yang ketika ulang tahun mendapatkan hadiah dan dirayakan begitu meriah. Sementara aku? Untuk mengingat tanggal lahirku pun mereka tak sempat. Pernah aku bertanya sesekali pada diriku sendiri, apakah orangtuaku tak perhatian padaku? Namun, kenyataan menjawabku dengan sempurna. Bahwa mereka lebih memilih memperhatikanku dengan usaha real mereka untuk menyekolahkan aku, untuk menghidupiku dan untuk mendewasakanku. Dari situ Aku pun dewasa sebelum waktunya. Ya, karena didikan orangtuaku yang tak pernah berlebihan dalam memanjakanku. Bukankah, seringkali anak-anak yang dimanjakan hasilnya adalah tak mandiri, selalu bergantung pada orangtua dan tidak sedikit yang membangkang orangtua? maka dari itu, aku selalu bersyukur kepada Tuhan telah memberikan anugerah terindah dalam hidupku yaitu mereka, Ibu dan Ayahku.

            Dengan dorongan mereka, aku pun lebih bersemangat belajar. Hingga, aku yang tadinya hanya bisa menyabet rangking 10 besar di sekolahku, serta merta mendapatkan rangking 3 dari 40 orang yang bercokol di kelasku. Sebuah prestasi yang membanggakan tentu. Dan bangga itu aku salurkan pada kesyukuran yang mendalam. Aku pun pulang dengan ceria, membawa kabar kegembiraan yang tak terkira. Aku asongkan raport merah hati itu pada Ayah dan Ibuku. Mereka melihat dengan dibantu kaca matanya yang plus. Mereka tersenyum bahagia melihat nilaiku yang begitu hampir mendekati sempurna. Ibuku mengelus rambutku lembut… Dan tahukah? Apa yang terjadi setelah itu? Ayahku membopongku, menerbangkanku hingga ke langit-langit rumah, kemudian ia menangkapku kembali dengan gembira, berulang-ulang, seperti itu, aku tergelak tawa. Aku melambung bukan main, melayang seperti di angkasa.  Rasanya bahagia itu tak mampu diwakilkan oleh kata-kata.

            Aku pun berniat untuk selalu meningkatkan prestasiku di catur wulan selanjutnya. dan ketika aku hendak memasuki SMP. Aku kira, aku tak akan bisa melanjutkan sekolah, karena waktu itu lagi-lagi kondisi keuangan  menghantam keluargaku. Namun dengan usaha mereka untuk meminjam ke tetangga, aku pun bisa melanjutkan sekolah. Sungguh, perjuangan orangtuaku tak terkira. Andai aku bisa menggantikannya, kan ku gantikan lelah mereka, kan ku gantikan perjuangan mereka. Tapi yang ku tahu penggantian itu tidak harus uang dibayar uang, lelah dibayar lelah namun mempersemabahkan yang terbaik, itulah penggantian yang mereka butuhkan.

            Pun ketika aku hendak masuk SMA, mereka berkorban untuk ku. Lagi, kondisi keuangan menguji keluargaku. Aku sempat berpikir, mengapa setiap kali aku hendak memasuki sekolah, ujian demi ujian selalu saja menghantam kami? Apakah memang begitu jalanku? Dan seolah ada yang membisikanku bahwa nah, itulah yang akan menjadi pembeda antara kamu dan yang lainnya. Gerak semangat itu melaju ke grade tertinggi. Hingga aku pun mendapatkan prestasi juara pertama di kelas berstandar internasional. Inilah janji Tuhan bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. 

            Dan aku ingat benar, ketika aku mengikuti lomba menulis surat untuk Bupati Subang dan aku dinyatakan menjadi juara 2. Orangtuaku pun dipanggil untuk menyaksikan aku mendapatkan hadiah dari pak Bupati. Alangkah, aku bisa melihat tangis haru yang terpancar dari wajah dan mata mereka yang terhalang oleh genangan bening sebagai bukti kebanggaan. Kepalaku pun diusap dengan takjim oleh orangtuaku. Hanya itu! Tanpa kata-kata dan tak ada aksi menerbangkanku lagi pada langit-langit. Aku rindu, namun itu sudah cukup membuatku bahagia. Karena dengan cara seperti itulah mereka mengekspresikan kegembiraan yang membuncah. 

            Andai saja postur tubuhku masih sama seperti usiaku delapan tahunan, mungkin Ayah pun akan menerbangkanku seperti waktu itu. Ah, rasanya yang ku rasa sekarang adalah rindu ingin dibopong, diterbangkan dan digendong oleh orang tuaku, seperti aku masih kecil dulu. 
So Swiiiit ^.^

Oleh karena mereka, aku masih bisa berdiri tegak! Karena mereka aku bisa mandiri, kuliah dengan keringatku sendiri! Dan karena mereka aku bisa tersenyum menantang dunia yang selama ini selalu menertawakanku.

Mom...
Dad...
I Love You, The Most!

Dan Cinta itu tak harus diungkapkan dengan kata-kata bukan?

*** 

Postingan ini diikut sertakan dalam GIVEAWAY 10th Years Wedding Anniversary : Moment to Remember Blognya mba Ladyonthemirror

15 comments:

  1. wah itu foto ortunya ya...seneng liat m ereka rukun gitu

    ReplyDelete
  2. iya mba, hehe... so swiiit banget ya mereke? ckckck ^.^

    ReplyDelete
  3. so swwwwwiiiiiiittt... :D
    Subhanallah... indah sekali ceritanya ^___^
    Semoga Allah membalas semua kebaikan orang tua kita dengan sebaik baik pembalasan :)

    ReplyDelete
  4. Aamiin Allahuma Aamiin...

    Iya mba, merekalah motivator unggulku, tentu motivator unggul mu juga kan mba? ;)

    ReplyDelete
  5. keharmonisa ortu kelak akan tercermin ke anak2 nya,, ngiri saya,, oh ya mbak ikutan di giveaway say ya,,dan sdh saya follow balik ,,salam sahabat

    ReplyDelete
  6. eh mas kahfi langsung nongol disini, hehe...

    iya mas, ta' usahakan ya untuk ikut dan memang minat ikut kok :)

    ReplyDelete
  7. sepakat cinta itu tak harus dengan kata :)

    ReplyDelete
  8. subhanallah pasti mereka bangga dg anaknya kini

    salam kenal

    ReplyDelete
  9. Aamiin Allahuma Aamiin...

    Semoga ya mba...
    Salam kenal juga mba :)

    ReplyDelete
  10. semoga bahagia selamanya bagi ayah bunda ya shine, salam..

    ReplyDelete
  11. Aamiin ya Rabb...

    makasih yo mba, salam kenal :)

    ReplyDelete
  12. postingan ini resmi terdaftar sebagai peserta giveaway moment to remember di blog saya, terima kasih Shine sudah ikutan, salam hangat dari saya, Misfah

    ReplyDelete
  13. cerita yang mengingatkan pada kehidupanku... seringkali persoalan hidup membuat kita semakin tegar.. :)
    salam kenal..blognya saya follow yah..

    ReplyDelete
  14. @mba Lady : siiip mba :)

    @Ummu Abdillah : iya umiii, hehe... salam ukhuwah juga, terimkasih sudah berkenan memfollow blogku :)

    ReplyDelete