Sunday, September 4, 2011

Surf My Heart

Libur idul fitri merupakan hal terindah dalam hidupku. Kenapa? Karena memang tak ada duanya. libur yang panjang lagi menyenangkan. Mumpung libur, ceritanya aku ingin memanjakan diri. 
 
H + 1, aku diajak ke Blanakan oleh orangtuaku. Mau ngapain? Lihat buayalah… padahal sumpah, aku dah bosen banget nonton buaya di blanakan, karena waktu kecil, ketika bapak menjenguk kakak yang dipesantren, pulangnya pasti mampir ke Blanakan, memperlihatkan padaku itu lho yang namanya buaya, ckckck…

Dan pada saat kini aku diajak? Apa boleh  buat, aku ikut saja keinginan orantuaku, sudah saatnya untuk mengikuti kemauan mereka, pikirku.

Jaman berganti, sudah belasan tahun aku tak mengunjungi tempat ini, sudah banyak perubahan tentu. Jika dulu, harga tiket masuk hanya Rp. 1.500,- saja kini menjadi Rp. 11.000,- per orang dengan akses motor dikenakan Rp. 2.000,-.

Kami pun memasuki halaman Blanakan, kumuh. melihat-lihat buaya disekitar, adikku yang baru pertama kali melihat buaya berkumpul, takjub dan girang bukan main, tertawa-tawa sendiri kadang bertanya-tanya yang tak membutuhkan jawaban, hihi…
Dan ketika kami hendak memasuki ruang pertunjukan buaya, kami kaget, ternyata untuk memasukinya harus membayar lagi. Ya ampun, matre banget sekarang pengurus blanakan, dulu-dulu ga gini kok, mau kemana aja bebas! Akhirnya kasian juga dengan adikku, kamipun masuk dengan terlebih dahulu membayar tiket masuk seharga Rp. 8.000,- /orang.
Tepat, ketika kami masuk memenuhi ruangan, pertunjukan pun baru dimulai. Pertama si pawang yang berusaha keras membangunkan buaya-buaya besar yang kebonya minta ampun. Susah banget dibangunkan. Memancingnya dengan mengacung-ngacungkan bebek sebagai santapan lezat untuk para buaya kebo tersebut. 
 Si Pawang sedang membangunkan para buaya :D
Pawang tersebut memperkenalkan ada dua buaya yang paling besar di dalam danau tersebut. Yang satu bernama baron, panjangnya 6 meter dan beratnya samapi 1 ton setengah. Wuiiih, makan apa aja tuh si Baron? Wkwkwk… sementara yang kedua adalah si Jack yang beratnya beda setengah dengan si Baron yaitu hanya 1 ton saja. dan buaya-buaya yang dibawa keduanya tak diperkenalkan siapa dan berapa panjang dan beratnya.
 Si Baron baru bangun bobo :D
Yang paling seru dari pertunjukan ini adalah ketika si bebek malang itu dilemparkan ke dalam danau, ya ampun seru banget sorak sorai penonton. Aku juga termasuk yang ikut jerit-jerit histeris ga jelas, huhu… kasian sama si bebeknya, hmmm, bebek mungil malang berada disarang buaya.
 Bebek pintaaar d^.^b
Dan tahukah? Ajaib, hanya 1 bebek dikerumuni banyak buaya, namun tak ada satupun yang bisa menangkap! Karena si bebek begitu gesit dan pantang putus asa. Akhirnya, satu kali lemparan si bebek mendarat dengan selamat.

“1 kesulitan 2 kemudahan.” Celetuk adikku begitu saja. ya betul sekali, itulah yang namanya tantangan. Seringkali kita diposisikan seperti si bebek tersebut, dipenuhi dengan bahaya, namun Allah kan selalu ada bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Wah, keren ya tuh si bebek.
Namun, lagi-lagi malang, si bebek dilemparkan untuk kedua kalinya. Bertambah takjublah aku, karena si bebek masih saja bisa mendarat denga selamat.
Dan ketiga kalinya, si bebek dilemparkan kembali ke danau oleh pawang, malang, si baron telah dengan sergap menganga, dan hap! Dicaploklah si bebek dengan penuh kemenangan, Baron serasa buaya merdeka,huhu… sedihnya… kasihan si bebek itu, semoga dia tenang didalam perut buaya, hiks…

Itulah, kisah Blanakan bersama si Bebek, Baron, Jack dan konco-konconya.

***
H+2 aku berniat untuk silaturahim pada teman-temanku di Bandung. Aku pernah janji dua tahun yang lalu, namun belum juga dipenuhi, maka inilah kesempatan untuk menepati janji, pikirku.
Mengawanglah aku bersama my little angel and beaty.
Aku memang sudah terbiasa subang- bekasi dengan si beaty, namun untuk ke Bandung? Ini baru pertama kali. Awalnya ibu dan bapakku tak mengizinkan tapi setelah aku jelaskan, mereka pun merelakan anaknya untuk bertarung melawan ganasnya jalan menuju Bandung *lebaaay*
Bismillah! Aku berangkat dengan semangat 2011.
Kata orang-orang sih biasanya kalau libur lebaran suka macet, tapi Alhamdulillah tuh macetnya ga terlalu parah, hanya di daerah tertentu saja seperti jalan cagak, ciater dan jalanan ledeng, secara gitu ledeng kan terminal.
Aku sangat menikmati jalanan tangkuban perahu – lembang, subhanallah, hatiku serasa bersurfing bebas, meluncur indaaah bangeeet, apalagi didukung dengan pemandangan wow kereeen! 

Bandung Lembang puseur kaendahan (Bandung dan Lembang pusat keindahan)
Diriung ku gunung-gunung (dikelilingi gunung-gunung)
Gunung sasakala Sunda (gunung di tanah Sunda)
Sunda jaya nu baheula (Sunda yang berjaya dahulu kala)

Panjugjugan...Paniisan (Tempat orang-orang berkunjung, mencari kesejukan)
Pangbebeurah nu keur susah (Tempat penghiburan bagi orang-orang yang sedang susah)
Panyinglar sungkawa manah (Yang hatinya sedang berduka lara)
Musnah ku hawana gunung (Sirna dengan kesejukan hawa pegunungan)

(Kawih Bandung Lembang, terjemahan bebas :D)

Aku pun bertralala-trilili dan bertasbih dalam hati.

Nikmat yang manakah yang kan kau dustakan??? Subhallah… Subhanallah… Subhanallah…

Muna   : “Teh, masih jauh?”
Aku      : “Iya, masih… kenapa emang?”
Muna   : “Turun dulu teh, ena mual.”

Aku pun langsung menstandarkan si beaty. Dan tak lama Uooooooooooo… Muna pun uo, memuntahkan semua sarapan tadi pagi, huhu… aku memijit lehernya. Dia masuk angin ternyata.
Aku      : “Udah? Kuat ga? Pusing ga?”
Muna   : “Udah, Alhamdulillah lega.” Katanya dengan nyengir kuda. Heran, masih bisa aja tersenyum setelah muntah, biasanya kan kalau muntah rasanya pusing dan enek. Aku pun langsung melanjutkan perjalanan menuju cibaduyut, tepatnya sih pamengpeuk. Ternyata, masyaAllah,,, jauuuhnya bukan maiiin. Udah berasa keliling Bandung. BIP terlewat, Leuwi Panjang terlewat dan gunung-gunung (tau dech apa namanya) yang sering dijadikan syuting pun terlewat. Pemandangan hebat! Its show that how the greatest He is!

Setelah tanya-tanya, akhirnya ku temukan rumah temanku itu. Mereka tertakjub melihatku bak melihat bidadari dari khayangan *hueks, fitnah!*
Tertakjub karena berani-beraninya seorang cewek subang – Bandung menggunakan motor, hihi… belum tahu mereka, kalau aku ini anjal alias anak jalanan :D
Akhirnya, disuruh nginep karena waktu sudah tak bersahabat lagi jika dipaksakan untuk pulang.
Robiatul Adawiyah, sahabatku sms, dan aku pun menceritakan kalau aku sedang ada di Bandung, sebuah ultimatum lebih kepada instruksi untuk main ke rumahnya pun dibuncahkan. Aku? Ya angguk-angguk saja, toh aku pun kangen pengen ketemu, apalagi kini ia sudah punya anak. Wuiiih, gimana ya rasanya punya anak? Sepertinya bahagia tak terkira.
Besoknya, sekitar jam 7an, aku pamit pada temanku dan keluarganya. Mereka membekaliku kripik talas dan dodol garut, tadinya mau dibawakan tempe goreng asli bandung juga, tapi berhubung aku buru-buru jadi tak usahlah…

Berlanjut ke lembang, dengan jalan tak seperti jalan keberangkatan, menjadikan aku harus siap siaga bertanya, jika ada belokan. Ternyata aku melewati tegal jalan pulangnya. Wuiiih, pokoknya takjub lagi dech, sudah berasa keliling dunia, ahahaha… beneran lho, berjalan-jalan menggunakan motor lebih mantap dibandingkan menggunakan bis atau kendaraan lainnya, apalagi di kota besar seperti Bandung.
Aku menengok kanan-kiri jalan, rasanya muter-muter jalannya, aku menemukan SMKN 1 Bandung, waaah, musuh bubuyutan SMK ku dulu, pikirku, gkgkgk… Ga denk, hanya lawan tanding lomba debat saja. ketika kakak angkatanku menjadi the best speaker se jawa barat, seolah mereka SMKN 1 Bandung, menyoroti kita, contohnya ketika aku dengan dodolnya diutus oleh guruku untuk ikut lomba di UPI, mereka memperhatikanku dengan penuh awas! Wedew, emangnya aku sumanti apa? yang harus diawasi, huhu… meski akhirnya, pihak aku dan mereka tak bertemu. Duuuh, bener-bener nervous saat bertanding dengan SMA 3 Bandung, kebayang ga seeeh? Ahahaha… kenapa ngelantur ya ceritanya? Ya, itulah sekilas film dokumenterku.

Dan ketika di lampu merah, perempatan, entah dimana, yang jelas di Bandung. Aku bingung, mau belok mana nih? Kanan? Kiri? Lurus atau kemana?
Untungnya, lampu masih merah dan hitunganpun masih puluhan.
Aku      : “A, bade naros, pami ka Ledeng kamana ya a?”
Si Aa    : “Belok kanan teh, mau kemana emang?”
Aku      : “Ke Lembang a…”
Si Aa    : “Oh kalau gitu, bareng saja sama saya, saya juga mau ke Bandung kok.”
Lho? Bukannya ini Bandung ya? Entahlah, yang jelas saat itu aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti arah motornya melaju. Dan Alhamdulillah, berkat dia juga aku bisa sampai ledeng. Jika sudah ledeng? Aku tahu jalan ke tempat rumah robi, hihi… Terimakasih aa, semoga Allah membalas kebaikanmu, ckckck…
Ledeng! Ada apa dengan ledeng? Ada kenangan disana, bald man, wartel, rumah makan, jus alpuket dan mesjid, subhanallah… Speechless.

Ledeng terlewati, penjual-penjual kelinci lucuuu, ingin foto-foto bersama kelinci tapi sayang lowbat kameranya, huhu… ya sudah, lanjut ke Lembang. Dan dijalan aku temukan rumah makan D’ Lada, Da Seuhah. Ahaha… lucu, aku nyengir-nyengir sendiri, untungnya tertutup masker dan helm jadi ga keliatan nyengirnya, hehe… D’Lada (Pedes), Da Seuhah (ekspresi pedes banget, huh,haaah, gitu dech). Unik juga tuh nama, ada-ada aja.

  
Muna dan Kelinci? Mirip kaaan? :D

Mendekati Pasar lembang. Petunjuk jalan menunjukan arah Cisarua, Parongpong belok kiri. Aku pun membelok, dan yihaaaaaaaaaaaa, hatiku surfing lagi… meluncuuuur, tanpa harus si beaty digas. Kereen pokoknya, aku teriak-teriak heboh sendiri, Muna pun tertawa cekikikan, saking senangnya. Bener-bener mendarat. Jalanan jika diukur 45 derajat lebih dech, pokoknya meluncur tajam! Tikungannya juga ikut-ikut tajam. Pegunungan gitu lho….

Setelah surfing dibeberapa turunan, akhirnya sampai juga di rumah obi. Ada mamahnya, dan ternyata si obi dan suaminya sudah punya rumah. Hanya kehalang dua rumah saja dengan rumah mamahnya obi. Duh, keren euy batur mah, jadi pengen, pengen apa? pengen digampar! Wkwkwk…

Aku dipersilahkan masuk, cepaka-cepiki, dan kangen-kangenan sama si obi. Anaknya lutuuu, mirip banget sama si Obi, ya iyalaaah mamahnya!
Di loteng (lantai atas), aku menatap takjub pegunungan dan perkebunan tomat, sawi, pinus, dll… Rumah obi dekat lho dengan bosscha, tadinya pengen kesana tapi kalau mau kesana harus besoknya ya udah dech ga jadi, hehe..
Obi dan suaminya membawakan aku tomat dan cabe hijau sekresek gede, masyaAllah beraaat bawanya, tapi untung bawa tas gede, jadi ga sia-sia, ahahaha… tadinya mau dibawakan susu murni juga, tapi berhubung susu baru selesai diperas sore, ga jadi lagi dech.

Kami pun langsung bergegas ngeliwet di tempatnya si euis.
Mengenang masa lalu dan curcol abis-abisan, ahahaha…
Ehm, jadi ngiri lihat mereka sudah punya anak! Anak adalah asset booo…
Aku tanya-tanya mereka, pengalaman melahirkan, mengurusi anak , dll…
Sampai dengan pertanyaan : “Nur kapan atuh nyusul?”
Aku      : “InsyaAllah, kapan-kapan, ahahaha.” Kami pun tergelak tawa. Subhanallah…mereka begitu terlihat bahagia.
Ehm, begitu ya kalau jadi ibu? Sudah siapkah aku? Siap untuk apa? sekali lagi, siap untuk digampar! Wkwkwkwk :D

Begitulah hari liburku dihabiskan, surf my heart and refresh my mind! Kalau kamu???

No comments:

Post a Comment