Wednesday, July 20, 2011

Fey dan Cinta

Langit berubah mendung saat ku tahu kau telah berpaling. Berpaling dari hadapanku dan seolah berlari ingin meninggalkanku. Hatiku pun menjadi kelabu. entah mengapa aku benar-benar emosi dan serta merta meninggikan egoisku. Untuk apa aku bertahan? Sementara kau sendiri semakin jauh meninggalkanku? Ku kirimkan, pesan via hp. Dan kau pun kaget dengan pernyataanku.
Sembilan sms jawaban dari mu namun maaf aku baru tahu setelah aku benar-benar terlelap tidur. Mungkin kau marah? terserah! Aku sudah tak lagi peduli dengan mu, pikirku ketika nyawaku tersadar bergabung dengan raganya, ketika ku membuka mata dengan harap dan cinta.
 
Namun, setelah aku benar-benar sadar, kepalaku yang terasa berat, hatiku yang sebelumnya kelabu, semuanya sirna sudah! Lalu, aku pun bertanya pada diri : Bodoh! Apa yang telah aku katakan padanya? Grrrr! Aku benar-benar malu pada diriku sendiri.

Segera ku balas Sembilan sms jawabannya itu. Menyatakan bahwa aku benar-benar menyesal. Aku telpon dia, namun tetap saja nihil! Telponku tak pernah diangkat. Apakah ini memang pantas diperlakukan seperti ini? Tentu saja pantas! Itulah balasan bagi orang ceroboh yang selalu mengedepankan ego dan emosi! Jawab bilah hatiku yang lain.

Pada kantor dimana aku bekerja, aku lebih memilih diam tak seperti biasanya. Teman-teman kantor pun heran, kemudian saling menanyakan! Aku jawab sekenanya. Aku coba terus telpon dia, nihil! Kali ini, HP nya tak aktif. Arrrgh, harus dengan cara apa aku katakan padanya bahwa aku sangat menyesal!

Inisiatifku bicara bahwa aku harus menemuinya! Ya, hari ini juga. Setelah pulang kantor, aku diantar oleh seorang teman untuk bertemu dengannya. Temanku kaget, tumben seorang aku yang tak punya kepentingan apa-apa keluyuran.

“Ada apa fey? Kok tumben.” Sergah temanku terkejut.
“Ga ada apa-apa, anter yuk?!”
“Heran dech! Cerita dunk, ada apa?”
“Yeee… dibilang ga ada apa-apa ya ga ada! Lagi kangen aja sama dia!” Jawabku ngasal.
“Baiklah… pake motorku saja ya?” Katanya dengan masih menatapku heran.
“Yowes…” Dengan nada lemahku yang tak ku buat-buat.
Aku mengawang bersama temanku dengan motornya.
Ku lihat langit, segelap otak dan hatiku. Ketika, motor berbelok di gang pertama, jantungku tak dapat ku kendalikan, berdetak seenaknya saja, semaunya…
“Aku deg-degan!” Aku berkata pada temanku, aku benar-benar deg-degan, tanpa tahu penyebabnya apa? Hmmm, pokoknya ini semua harus sesuai dengan yang ku rencanakan!
“Lho kok aneh? Dasar bocah!” Temanku nyengir masih dengan tatapan heran.
Sesampainya di rumahnya.
Hatiku semakin tak karuan, aku benar-benar lemas, entah apa yang akan aku katakan ketika ia akan bertanya : Mau ngapain? Kuatkan aku, Tuhan!
Baut sendi-sendi kakiku seolah terceropoti, aku limbung bukan main.
Ku ketuk pintu itu beberapa kali, terbukalah… Ya Tuhan! Aku benar-benar ingin pingsan saja…
Ku cium tangannya… Aku sungguh tak ingin melepaskan tangan itu!
“Mau ngapain?” Katanya seperti biasa. Benar dugaanku! Ia akan bertanya demikian.
“Cuma pengen main aja…” Aku tergugup, sungguh.
“Masuk…” Ia mempersilahkan aku dan temanku masuk.
Ku pindah chanel TV, dipindah dengan chanel kesukaanku. Dan temanku pun mendukung, setelah sekitar 30 menit…
“Aku mau berbicara, bisa ga kita keluar dulu?”
“Ga! Mau ngapain?” Katamu dengan penuh penekanan.
Aku tahu kau bosan dengan pertanyaanku? Aku hanya ingin ketegasan! Itu saja, air mataku hendak menitik namun ku coba tahan-tahan, berhasil!
Temanku yang akhirnya mengalah untuk keluar.
“Aku mau tanya, benar semuanya itu?”
“Ga!” Selalu seperti itu! Kenapa kau terlalu pelit sekali dengan kata-kata mu? Lagi dan lagi, aku bertanya pada diriku sendiri : apakah pantas aku diperlakukan seperti ini? Aku tak tahu, segera ku singkirkan pikiran-pikiran aneh yang berseliweran di otakku.
“Udah dech, aku sedang tak ingin membahasnya.”
“Tapi aku mau!”
“Ya sudah, ngomong sendiri saja kalau begitu!”
Tuhan, jika saja aku tak menyadarkan diri bahwa aku sedang berhadapan dengan seseorang, serta merta mungkin air mataku keluar dengan derasnya.
Dan satu hal yang paling aku benci, ketika ia tak menghargai aku, seolah aku ini tak ada, seolah aku ini hanya buang-buang waktu saja. ia dengan mudahnya mengangkat telpon entah dari siapa… aku naik pitam, gondok rasanya direlung dada…
“Baik, aku pulang!” Ku melangkah keluar, mengajak temanku untuk pulang.
Yang ku harapkan ketika itu, kau menghalangiku untuk tak pulang, merenggut tangan ku dan menarik ku pada bahumu… Dan memang, semuanya telah usai sudah, pikirku! Aku harus menerima kenyataan bahwa kau sama sekali tak melakukan apa-apa. hanya melihatku dari kejauhan, tanpa usaha mempertahankanku… kau melepasku pergi… dan mungkin itu mau mu? Aku kecewa! Dan ingin meledak membuncahkan tangis. Tetap ku tahan!
Dijalan, aku lebih memilih diam. Tuhan, aku menyesal telah mengenalnya! Bodoh! Kenapa pula, aku harus berusaha sejauh ini, namun hasilnya? Nothing! Rencanaku yang telah ku susun tinggi, ambruk mengenai kepalaku.
Aku menangis sesenggukan dalam laju motor yang mengawang, ku lihat bintang. Sial! Bintang pun tak berpihak padaku…
Tuhan… aku sungguh-sungguh tak ingin membiarkannya pergi begitu saja dihidupku.
Ingin rasanya aku memerintah temanku untuk membelokan arah motornya menuju rumahnya kembali. Namun, urung ku lakukan.
Ku hempaskan tubuh pada kasur. Arrrrrrrrgh!!! Aku benar-benar tak bisa melupakannya! Bagaimanalah? Aku sudah benar-benar terlanjut…
Akhirnya, ku kirimkan sms bahwa aku tak ingin berpisah dengannya, itu saja!
Maafkan aku cinta, aku benar-benar tak dapat melupakan mu…

Aku pun bernyanyi untuk diriku sendiri…

Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan
Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam
Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi…
Engkau yang hatinya terluka
Di peluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya
Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi..mu…
(Last Child – Pedih)

Download



                Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, alur cerita, dsb, itu bukan dikarenakan faktor kesengajaan :P

Bekasi, 20 Juli 2011
Shine Fikri Belajar Menulis Fiksi ^_^

2 comments:

  1. hmmmmmmm,ini sbnrny ttg apa c shine?????rada ga mudeng, tp lagunya itu loh :)
    ikut brduka lah y :)

    ReplyDelete
  2. ini tentang seorang cewek bernam fey yg mempunyai kekasih so cool, calm, confident gimana gtu, sampai2 ada masalah z, dia ga pernah mau ngomong. Iriiit bgt kata2nya gitu, hihi :D

    ReplyDelete